Tak Selalu Indah

Tak Selalu Indah
8. Mulai Menerima


__ADS_3

Tidak buruk menerima perjodohan ini menurutku, Adrian baik kaya dan lagi sangat tampan, aku sudah berbicara dengan Ayah dan ibu, mereka sangat senang dengan keputusanku, tak lupa ku kabari ketiga sahabatku mereka juga ikut senang mereka selalu percaya dengan keputusanku. Hari ini Adrian menjemput ku, kami akan ke butik langganan tante Mila untuk mengambil baju yang sebelum nya sudah kami pesan untuk acara pertunangan besok.



" Sudah sampai, mau ikut turun atau disini"



" Aku di sini saja boleh"



" Boleh, ya sudah aku ambil baju dulu ya" tak sampai 15 menit Adrian sudah kembali dengan 2 buah goodie bag di tangannya



" Kita makan siang dulu ya aku lapar, kau mau makan apa"



" Apa saja, oh iya makan di restoran seafood dekat kantor mu ya, tempo hari aku belum puas" Adrian terkekeh sambil mengusap rambutku lembut, nyaman rasa nya.



" Seperti katamu gadis"


__ADS_1


Sesampainya di restoran kami sempat bingung mencari tempat duduk, hampir semua penuh karena ini memang waktu makan siang, sampai ada seorang yang memanggil Adrian untuk bergabung.



" Hai gadis duduk sini" dia menepuk tempat kosong di sampingnya, ku jawab dengan gelengan kepala



" Jangan di hiraukan, ayo duduk" aku duduk di samping Adrian



" Meera kenalkan ini Indra teman sekaligus rekan kerjaku, Indra ini Meera calon istri ku, kau jangan coba mengganggunya"




" Belum di tentukan, yang pasti secepatnya"



Kami langsung pulang begitu selesai makan siang.



*****************

__ADS_1


Tiba di hari pertunangan, aku sangat gugup beruntung kami tidak mengundang banyak tamu, hanya keluarga inti dan ketiga sahabat ku saja tentu setelah mendapat izin dari Adrian, bukan pesta mewah yang kami adakan ini hanya makan malam biasa di rumah keluarga Adrian.



Acara berjalan lancar, Caca Tya dan Marko sudah pulang sedang kami menginap di rumah Om Ardi atas permintaan tante Mila agar kami bisa lebih akrab lagi. Para orang tua sedang mengobrol di ruang keluarga membahas tentang pernikahan kami.



" Kalian mau kemana?" Tanya tante Mila



" Hari ini kan Pak Kusuma menikahkan anak pertamanya Mah, Papa minta Drian datang mewakili kita, kita juga kan harus mengurus pernikahan anak kita" om Ardi yang menjawab, Adrian hanya tersenyum sambil mengangguk membenarkan apa yang papa nya katakan



" Oh iya Mama lupa, ya sudah sana hati-hati"



" Kita pergi dulu ya Bu yah, om tante" aku pamit kepada kedua orang tua kami, Adrian sudah lebih dulu keluar untuk menyiapkan mobil. Kami langsung menuju sebuah gedung dimana sebuah pesta pernikahan di adakan, oh iya Lita tidak ikut menginap karena besok masih hari efektif sekolah rumah Om Ardi cukup jauh dari sekolah Lita, jadi dia pulang di antar Marko.



" Sampai, kau tunggu jangan turun dulu" Adrian turun dan membukakan pintu untukku sambil mengulurkan tangan, aku menyipitkan mataku sambil tersenyum, pria ini selain tampan juga manis, aku menyambut tangan itu.


__ADS_1


Kami memasuki gedung dengan tetap bergandengan tangan, tak lupa Adrian memberikan kartu undangan sebagai penanda bahwa kami adalah tamu, ini pesta mewah dari salah satu pemilik perusahaan besar dan terkenal di Indonesia tanpa kartu undangan kami tidak akan di izinkan masuk. Hampir 1 jam kami di sini, Adrian banyak mengobrol dengan rekan bisnis papa nya, aku mulai bosan tak ada yang ku kenal disini selain Adrian, ku putuskan untuk melihat-lihat bagian lain dari gedung, lelah berkeliling aku duduk di kursi bagian luar gedung. Ternyata aku tak sendiri, ada pria yang lebih dulu ku lihat tengah duduk sambil menatap ke layar laptop yang ada di hadapannya, apa dia bekerja di saat seperti ini pikirku? ahh biarlah, itu bukan urusanku, aku hanya ingin mengistirahatkan kaki yang mulai pegal-pegal ini.


__ADS_2