
Adrian mengurungkan niatnya untuk pindah ke Surabaya mengingat Meera yang sudah berbadan dua. Orang tua juga tidak ada yang setuju, siapa yang akan mengurus Meera di Surabaya nanti. Kini usia kehamilan Meera memasuki bulan ke lima. Meera mengandung bayi kembar, bisa di bayangkan bagaimana bahagia bya Adrian. Dia begitu menginginkan anak, dan Tuhan menganugerahkan nya dua.
Di kantor, Adrian lebih suka membaca buku tentang kehamilan daripada membaca dokumen yang menumpuk di mejanya. Lita datang membawakan makan siang untuk kakak iparnya atas permintaan Meera. Tadinya Meera ingin makan berdua dengan Adrian, tapi karena lelah, Meera meminta Lita untuk mengantarnya. Ini bukan kali pertama Lita datang ke kantor kakak iparnya, jadi ya sebagian besar karyawan sudah tau kalau Lita adik ipar boss, terlebih Lita juga tak kalah menawan dari Meera. Boleh di bilang, Lita cukup populer di kantor Adrian.
Sampai di depan ruangan Adrian tak lupa Lita mengetuk pintu terlebih dahulu. Meski yang di dalam itu kakak iparnya, Lita merasa tidak sopan kalau langsung masuk.
"Masuk" Lita masuk, dan melihat kakak iparnya sedang membereskan meja kerjanya.
"Aku siapkan ya mas"
"Iya" Lita menyiapkan makanan yang ia bawa.
"Teteh ga bisa kesini mas, katanya ga enak badan" jelas Lita sembari menuangkan air ke dalam gelas.
"Iya, tadi juga teteh mu sudah telpon mas. Makasih ya"
"Sama-sama mas, aku pulang ya kasian teteh sendirian. Bi Surti pulang cepet, suaminya lagi sakit"
"Iya, hati-hati ya"
"Iya mas" Lita meninggalkan ruangan Adrian.
Indra mendengar percakapan antara kakak dan adik ipar itu. Ini tidak bisa di biarkan, kalau sampai Adrian tergoda dengan adik iparnya bisa bahaya, bagaimana pun Lita tak kalah cantik dari Meera kakaknya. Apalagi, Meera pernah mengkhianati Adrian, bagaiman kalau Adrian membalas dengan berhubungan dengan adik iparnya sendiri? Benar-benar tidak bisa di biarkan, aku harus bertindak. Indra berbicara dengan dirinya sendiri dalam hati. Lita keluar dan menyunggingkan senyumnya pada Indra, itu cukup membuat Indra gugup.
Indra masuk dan melihat Adrian sedang menikmati makan siang yang di bawakan adik iparnya.
"Hai Ndra, kau pasti belum makan. Ayo sini"
"Aku sudah makan, kau saja" Adrian mengangguk dan melanjutkan makannya
"Boss, kau tidak akan tergoda oleh adik iparmu kan?"
"Kau bercanda, apa aku terlihat seperti pengkhianat? Lita sudah ku anggap adik kandung ku sendiri" Adrian sudah selesai makan
"Mana ada yang tau bung, Meera yang terlihat baik saja bisa-bisanya tergoda pria lain dan mengkhianati mu" Adrian yang sedang membereskan bekas makannya seketika darah nya mendidih mendengar Indra mencela istrinya. Dicengkramnya leher Indra
__ADS_1
"Lancang kau, aku bisa merobek mulut mu saat ini juga" Indra ketakutan, ekspresi Adrian tak terlihat sedang main-main
"A...aku bercanda boss, aku minta maaf" Adrian melepas cengkraman nya. Indra melonggarkan dasinya, paru-parunya seperti kehabisan udara
"Aku punya rencana agar kau tidak tergoda adik ipar mu" Adrian tidak menghiraukan, cinta nya hanya untuk Meera dan akan selalu begitu
"Aku akan menikahi Lita, dengan begitu kau tidak akan tergoda"
"Aku tidak mau kau menjadi adik iparku" jawab Adrian, kemudian berlalu
"Ayolah boss, tadi aku hanya bercanda"
Ceklek, pintu terbuka. Meera? Mati aku, semoga Meera tidak mendengar candaan ku tadi, gumam Indra dalam hati. Meera tersenyum menatap Indra lalu duduk di tempat Adrian duduk tadi. Indra semakin tidak enak hati atas candaannya tadi, belum pernah Indra merasa secanggung ini saat bersama Meera. Syukurlah Adrian keluar dari kamar mandi tak lama setelah Meera datang. Tak mau lebih canggung lagi, Indra pamit kembali keruangan nya.
"Lita bilang kau lelah, kenapa kemari?"
"Si kembar rindu papa nya, makanya aku kemari" Adrian mengelus dan mencium perut buncit istrinya
"Anak-anak papa, kalau rindu tinggal telpon saja. Kasihan mama kelelahan" Meera mengelus kepala suaminya
Adrian merasa waktu berjalan begitu cepat saat mereka bersama. Waktu sudah memasuki Ashar, sudah waktunya untuk menunaikan kewajiban. Kewajiban sudah di jalankan, saatnya pulang.
Hari ini jadwal nya Meera cek kandungan, Adrian sudah membuatkan janji sejak pagi. Karena ada meeting yang tidak bisa di undur, Meera ke rumah sakit dengan di antar Lita. Sampai di rumah sakit, Meera langsung menemui dokter kandungannya.
"Hai Dok"
"Halo bu Meera, siapa ini?" Tanya Dr.Susan saat menjabat tangan Lita
"Saya Lita Dok, adik teh Meera"
"Oh adiknya bu Meera, pantas, sama cantiknya. Tidak di antar pa Adrian?"
"Sedang ada meeting Dok" Dokter mengangguk mengerti.
Meera sudah berbaring, siap melihat kondisi bayi kembarnya melalui monitor. Keduanya terlihat begitu tenang, sangat manis. Kita akan segera bertemu beberapa bulan lagi sayang, gumam Meera dalam hati. Sayang suaminya tidak ikut melihat. Yang satu memperlihatkan kelaminnya, yang satu lagi masih tampak malu-malu.
__ADS_1
*Di Pratama Company
Meeting berlangsung cukup lama karena banyak aspek yang harus di bahas, belum lagi hal yang menyangkut dengan investor asing. Menjelang waktu makan siang, meeting selesai. Adrian sengaja menunda makan siangnya, dia ingin menjemput istri dan adik iparnya. Sekeluarnya dari meeting room
"Fit, kau taruh saja dulu ini di meja saya, saya mau menjemput istri saya dulu" Adrian menyerahkan beberapa dokumen yang harus ia tanda tangani
"Sepertinya tidak perlu pa, itu" Adrian mengikuti arah pandangan Fitri, Meera semakin cantik dengan perut buncitnya
"Hai Fitri apa kabar?"
"Saya baik bu, bu Meera apa kabar? Kemarin tidak ketemu"
"Saya juga baik, mas pasti belum makan siang kan? Kita bawa makanan" Lita menunjukkan bawaannya
"Saya permisi ya pa, bu, mba, mariii" semua mengangguk. Fitri meletakkan dokumen ke meja bossnya terlebih dahulu sembelum kembali ke ruangannya.
"Ayo keruangan ku"
"Aku pulang saja mas, teh makan di rumah. Banyak tugas" Lita mengambil makanannya
"Ya sudah hati-hati" ujar Meera
"Terimakasih ya de" sambung Adrian
"Sama-sama, aku pulang ya daahhh"
Adrian merangkul pinggang istrinya. Saat paling membahagiakan dalam hidupku adalah saat bersamamu, batin Adrian.
"Sekrang biarkan aku melayani istriku dengan baik" Meera tersenyum
Adrian menyuapi Meera dengan telaten, selesai menyuapi Meera, barulah Adrian makan. Selagi Adrian makan, Meera memilah-milah dokumen yang ada di meja kerja suaminya. Meski tidak pandai, sedikitnya Meera mengerti pekerjaan suaminya. Selesai makan, Adrian menghampiri Meera dan melihat pekerjaan istrinya. Adrian manggut-manggut, lumayan pikirnya.
"Istriku semakin pintar"
"Suamiku pintar, masa aku tidak. Duduk mas" Meera bangun dari kursi kebesaran suaminya. Adrian duduk, Adrian menepuk pahanya
__ADS_1
"Duduk sini" Meera duduk di pangkuan Adrian "selain semakin pintar, ternyata istriku juga semakin berat" Meera tertawa kemudian memeluk suaminya, Meera menceritakan penjelasan Dokter selama pemeriksaan tadi. Adrian membalas pelukan Meera dan menyimak setiap penuturan istrinya.
Beginilah rumah tangga seharusnya, hangat dan penuh cinta. Tapi apalah daya, sebagai manusia biasa, tak jarang godaan kecil membuat nya lemah dan terlena.