Tak Selalu Indah

Tak Selalu Indah
58. Salah paham


__ADS_3

Hubungan Adrian dan Indra memburuk, Meera sangat menyadari hal itu, mereka tak lagi bertegur sapa. Meera bertanya pada Fitri apa yang telah terjadi di antara mereka selama Meera tidak ada, Fitri tidak tau harus menjawab apa, karena memang ia tidak tau.


Ponsel Meera bergetar, nomor tak dikenal mengirim foto. Foto yang membuat jantung Meera terasa berhenti berdetak, dadanya sesak, matanya panas, air mata tak dapat di tahan lagi. Satu foto Adrian memeluk seorang perempuan di dalam mobil, satu lagi Adrian tengah menggandeng tangan wanita. Jantung Meera semakin tak berdetak saat melihat dengan teliti siapa wanita yang suaminya peluk dan gandeng tangannya.


"Lita" Meera menyebut nama itu dengan sangat lirih.


Otaknya berusaha menyangkal apa yang sudah dilihatnya, ia terus meyakinkan diri kalau ini hanya salah paham. Tapi hatinya tidak bisa menerima, ini terlalu jelas untuk di sebut salah paham.


Adrian dan Indra sedang menuju ruangan Meera, meski tidak dalam keadaan baik, mereka tetap harus profesional.


"Sayang ..." belum selesai Adrian dengan kalimatnya, Meera melempar buket bunga yang Adrian beri pagi tadi tepat diwajahnya.


"Ada apa sayang?" Meera menunjukkan foto yang ada di ponselnya.


"Sayang aku bisa jelaskan semuanya. Sehari sebelum kau pulang dari Surabaya, aku mengajak Lita pergi membeli mainan untuk Farhan dan Hana, kau lihat kan mereka punya mainan baru? Gelang, aku juga membelikan kau gelang kan. Demi Tuhan sayang jangan salah paham"

__ADS_1


"Tidak ada yang tau apa saja yang sudah suami dan adikmu lakukan selama kau di luar kota Meera" Indra menimpali. Adrian geram, ia mencengkram kerah kemeja Indra.


"Diam kau sampah, ini pasti ulahmu kan hah?"


"Diam kalian berdua, cepat keluar dari sini. Keluar!!!"


To: Fitri


Batalkan semua agenda saya satu minggu kedepan, kalau ada yang mencari, bilang saya sedang keluar kota.


From: Fitri


Meera tidak pulang, ia tak juga keluar dari ruangannya, ia tidur di kantor. Ponselnya terus bergetar, Adrian menelpon berkali-kali, tak ada satupun yang Meera jawab, hatinya terlalu sakit.


From: Lita

__ADS_1


Teh demi Tuhan aku dan mas Adrian tidak seperti yang teteh bayangkan. Mas Adrian sangat mencintai teteh, percayalah teh, apapun yang mas Adrian jelaskan itu semua benar. Justru pak Indra yang tidak sopan, ia menuduhku yang tidak-tidak, mas Adrian hanya melindungi ku, adiknya teteh.


Meera hanya membaca pesan Lita tanpa membalasnya. Kapan ini berakhir mas? Aku takut akan menyakiti lebih banyak orang lagi.


Hari semakin malam, Meera belum juga bisa memejamkan matanya. Meera melihat keluar jendela, terpampang jelas pemandangan malam ibu kota yang seolah tak pernah sepi. Pandangan Meera terkunci pada sebuah mobil yang sangat ia kenal, mobil Adrian. Meera kembali merebahkan tubuhnya, mencoba untuk terlelap sekali lagi. Sekali lagi gagal, Meera tetap terjaga sampai sang fajar menyingsing. Mobil Adrian sudah tak terlihat.


Begitu seterusnya, Meera hanya melihat mobil Adrian terparkir tanpa melihat pemiliknya, Adrian juga tak menyusul Meera keruangan.


Meera sangat merindukan anak-anaknya, tapi ia belum bisa pulang sekarang. Meera sedang sarapan, Adrian tak menelpon Meera lagi, tapi buket bunganya selalu datang setiap pagi.


From: Fitri


Bu, di bawah ada pak Raja, beliau bilang ada hal penting yang ingin di bicarakan dengan ibu. Saya sudah memberitahu kalau ibu sedang keluar kota, tapi pak Raja tidak percaya, saya harus bagaimana bu?


To: Fitri

__ADS_1


Antar dia keruangan saya sekarang.


__ADS_2