Tak Selalu Indah

Tak Selalu Indah
TSI#2 Jatuh cinta setiap hari


__ADS_3

Usia kehamilan Meera memasuki bulan ke tujuh, ada keanehan yang Meera rasakan. Ia merasa bayinya ini tak seaktif si kembar dulu. Tadinya mau ia ceritakan pada suaminya, tapi tidak jadi, mungkin bayinya ini memang sedang malas untuk bermain, begitu pikir Meera. Hari sudah hampir tengah malam tapi suaminya belum juga pulang, pesan Meera juga tidak dibalas. Kemana tuan muda ini, berani sekali tidak membalas pesan ku, gerutu Meera dalam hati. Meera ke ruang tamu, menunggu Adrian di sana, biar bisa langsung mengomeli suaminya begitu datang nanti.


Kumandang adzan subuh membangunkan wanita hamil itu dari tidur nyenyak nya. Ketika membuka mata, samar samar terlihat Farhan sedang mengusap-usap pipinya. Beberapa kali mengerjap kan mata, kini pandangan Meera sudah jelas, yang di depannya memang si sulung, Meera tersenyum.


"Mama, ayo bangun. Kita sholat Subuh berjamaah. Papa sama Hana sudah di kamar sholat."


"Iya, Bang. Mama ambil wudhu dulu, Abang duluan, nanti Mama nyusul."


"Abang tunggu Mama di sini."


"Ya sudah, tunggu yah."


Meera mengambil wudhu. Farhan tidak duduk, ia menunggui Mamanya di depan pintu kamar mandi, begitu Mamanya selesai ambil wudhu, Farhan mengambil sandal yang Mamanya kenakan dan mengelap kaki Mamanya dengan kain yang sebelumnya sudah ia bawa. Meera terharu, hampir saja ia meneteskan air matanya.


"Kau manis sekali, Nak. Persis Papa." Ucap Meera dalam hati.


Sholat subuh berjamaah sudah mereka tunaikan, Meera menyuruh anak-anak untuk tidur lagi, Farhan dan Hana menurut, mereka sudah masuk kamar. Tinggal Meera dan Adrian di kamar sholat, Meera masih kesal dengan suaminya yang pulang terlambat dan tidak membalas pesannya. Meera malah tidak tau, semalam Adrian pulang jam berapa, karena saat bangun, ia sudah berada di kamar.


"Sayang, aku ada sesuatu untukmu."


"Apa itu, Mas?" ahh ... kenapa aku jawab, aku kan sedang ngambek. Meera menyesali spontanitas nya itu.


"Ikut aku!"


Adrian mengajak Meera ke ruang makan, di atas meja ada sate Maranggi yang sangat Meera inginkan. Tak menunggu lama lagi, Meera menyantap sate itu dengan lahap. Di tengah-tengah makannya, Meera menatap suaminya tajam. Adrian yang sangat tau kalau istrinya ini sedang kesal bertingkah biasa saja.


"Enak sayang?"


"Sangat, Mas." Kembali menyesali spontanitas nya. Adrian berusaha menahan tawa.


Sebelum amarah istrinya semakin meledak, Adrian menjelaskan kenapa ia pulang terlambat. Selain karena pekerjaan, ia juga sibuk mencari sate yang istrinya itu inginkan. Entah para penjual itu sudah janjian atau apa, tempat yang Adrian ketahui menjual sate itu kebanyakan tutup, ada yang masih buka pun, satenya sudah habis. Jadi ia keluar kota demi memenuhi keinginan ibu dari anak-anaknya itu.

__ADS_1


Mendengar penjelasan suaminya, Meera menjadi merasa bersalah.


"Maaf merepotkan mu, Mas."


Adrian menyentuh tangan Meera, membelainya lembut seperti biasanya.


"Aku tidak kerepotan sama sekali, Sayang. Ayo habiskan, itu aku belinya jauh loh." Meera tersenyum.


"Karena belinya jauh, kau juga harus ikut makan, Mas."


"Baiklah sayangku. Sini, biar aku suapi."


Mereka pernah berada dimasa yang sulit, tak masuk akal, juga tidak manusiawi. Dengan tetap bergandengan dan beriringan, pada akhirnya dua sejoli itu mampu melewati semua. Ini belum seberapa, masih banyak macam godaan dan cobaan yang menanti.


******


Adrian kembali mempekerjakan Tiwi dan Miya untuk membantu Meera mengurus si kembar. Ia tak tega melihat istrinya kerepotan mengurus anak-anak sendirian dengan kondisi tengah hamil tua begitu. Bukan tak mau membantu, Adrian tak bisa dua puluh empat jam mendampingi wanita tercintanya itu, ada perusahaan yang juga memerlukan perhatiannya.


"Kau tidak boleh bicara begitu, Mas. Mau siapa lagi yang Papa andalkan kalau bukan kau." Meera memeluk suaminya, "suamiku, terima kasih karena selalu mengkhawatirkan aku, aku janji akan selalu berhati-hati dalam hal apapun." Meera melepas pelukannya dan tersenyum.


"Ngomong-ngomong suamiku, matahari sudah mulai naik, lebih baik suamiku berangkat ke kantor sekarang, ada rapat pagi kan?" Adrian menepuk jidatnya.


"Aku hampir lupa, aku berangkat ya, kalau ada apa-apa langsung telpon aku."


Meera mengantar Adrian sampai mobil, tentu saja setelah berpamitan pada dua anaknya. Terlihat mobil Lita juga memasuki halaman, sejak kandungan Meera memasuki usia tujuh bulan, yang antar-jemput Farhan dan Hana sekolah adalah Lita. Mama Mila dan Ibu sudah kembali ke Bandung, mereka akan tinggal di rumah Meera lagi saat anak ketiga Meera-Adrian lahir nanti.


Lita langsung menyambangi kamar keponakan keponakannya itu, mereka masih sibuk mengikat tali sepatu. Lita ingin membantu namun langsung ditolak oleh Farhan juga Hana. Dua anak ini memang sudah terbiasa mandiri, baik Meera maupun Adrian tak pernah berlebihan dalam memanjakan anak-anaknya. Selain itu, Adrian dan Meera juga menekankan pada orang tua masing-masing agar tak menuruti semua keinginan si kembar.


"Ya sudah kalau tidak mau dibantu, Tante tunggu di luar ya."


"Iya Tante." Jawab Farhan dan Hana bersamaan.

__ADS_1


Meera membawakan minum dan roti isi untuk adik satu-satunya itu, ia tau Lita pasti belum sarapan. Jika teringat bagaimana dulu Lita pernah hampir kehilangan nyawa karenanya, hati Meera terasa begitu sakit, ia merasa sangat berdosa pada adiknya.


Lita bisa membaca, kalau kakaknya pasti sedang teringat kejadian itu.


"Teh, sudah ya, jangan diingat-ingat lagi. Kasihan nanti adik kecil dalam sini ikut sedih." Hibur Lita sambil mengelus perut kakaknya.


"Maaf ya, De."


"Iya, Teh. Itu lihat, anak-anaknya sudah tampan dan cantik. Aku antar mereka dulu ya, Teh. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, hati-hati."


"Assalamualaikum Mama, adik bayi." Ucap Farhan dan Hana bersamaan. Mereka memang selalu kompak.


"Waalaikumsalam sayang, belajar yang rajin ya."


"Siap boss." Mereka berdua memberi hormat pada Mamanya, Meera juga sama.


Meski anak-anak sudah besar, jam kerja Tiwi dan Miya sama seperti sebelumnya, yaitu dari jam tujuh pagi sampai lima sore. Cuma bedanya mereka tak se-repot dulu, karena anak-anak sudah pandai membereskan mainan mereka sendiri, paling Tiwi dan Miya hanya mengawasi saat si kembar bermain, dan membantu mengerjakan kalau ada PR dari sekolah.


Rencananya, Meera akan mempekerjakan keduanya sampai seterusnya. Bi Surti sudah sering sakit-sakitan seiring bertambahnya usia. Jadi, Meera juga meminta Tiwi dan Miya untuk membantu pekerjaan Bi Surti, beruntung kedua gadis itu tak keberatan.


******


Hai semua, apakah novel ini masih ada di daftar favorit kalian? kalau masih, author sangat berterima kasih.


Ameera dan Adrian hadir lagi untuk menghibur kalian semua. Semoga suka ya gengs, jangan lupa vote, like and share novel ini biar banyak yang baca. Atau kalian bisa banget follow akun medsos author untuk tau update cerita terbaru, atau memberi masukan-masukan untuk novel ini.


Fb: Lily Casirih


Ig: @lcasirih

__ADS_1


Jangan lupa kasih penilaian juga (bintang lima ya, hehe) Thank you gengs, love you.


__ADS_2