Tak Selalu Indah

Tak Selalu Indah
59. Kehilangan


__ADS_3

"Aku pamit, terimakasih waktunya"


"Aku antar sampai depan"


Fitri sudah menunggu di depan ruangan Meera dengan cemas, baru Fitri mengetuk, Meera dan Raja keluar.


"Ada apa Fit?" tanya Meera.


"Bu, pak Adrian ..."


"Kenapa dengan mas Adrian?"


"Pak Adrian kecelakaan saat menuju kemari"


"APA!!" Meera tak percaya dengan apa yang Fitri katakan, ia tau suaminya tidak pernah ceroboh dalam berkendara.

__ADS_1


"Sekarang sudah di bawa ke rumah sakit Mulia, tadi pihak rumah sakit menelpon saya, mereka bilang pak Adrian kritis"


Meera menelpon supir kantor, sialnya tidak juga di angkat. Raja menawarkan diri mengantar, terpaksa Meera menerima. Raja memilih jalan yang salah, mereka terjebak macet.


"Kenapa kau memilih jalan ini, kau lihat kita kena macet"


"Aku mana tau kalau disini macet, biasanya tidak. Sudahlah, aku lihat dulu apa macetnya panjang" Raja keluar, ia ingin memastikan apa yang menjadi penyebab kemacetan, karena biasanya jalan ini lancar. Ternyata ada kecelakan juga. Raja kembali ke mobil.


"Ada kecelakan motor, tapi sudah di evakuasi" Raja melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Mas Indra sudah disini?"


"Itu tidak penting, cepat ikut aku"


Indra membawa Meera dan Raja ke kamar dimana Adrian berada. Mereka sudah melewati banyak kamar, bahkan sudah melewati kamar rawat, tapi kenapa masih saja jalan. Perasaan Meera tak karuan, seketika kaki Meera melemas saat sampai di kamar yang Indra maksud. Meera terduduk, tak terasa air matanya mengalir.

__ADS_1


Indra menuntun Meera masuk, mendekati tubuh yang telah terbujur kaku. Tangannya gemetar saat Indra memintanya membuka kain putih yang ada di hadapannya. Meera meringis ngilu, wajah di depannya sudah tak berbentuk lagi, tapi ia masih sangat bisa mengenali. Tubuh itu milik suaminya, bruuukk Meera tak sadarkan diri.


Ketika sadarkan diri Meera sudah berada di rumah. Ia keluar dari kamar, semua anggota keluarga berkumpul di ruang tamu, siap untuk prosesi pemakaman Adrian. Meera tak berbicara apapun, hanya air matanya yang terus mengalir. Seolah mengerti apa yang sedang terjadi, Farhan dan Hana tak bisa di tenangkan sejak awal prosesi pemakaman, mereka terus menangis.


*Sebulan berlalu


Perusahaan kembali di ambil alih papa Ardi. Meera? hidupnya berantakan, ia terjaga setiap malam, dan tidur di siang hari. Ia juga sangat jarang keluar dari kamarnya, ia tak lagi bermain dengan Farhan maupun Hana. Ibu, papa Ardi dan mama Mila tinggal di rumah Meera. Semua merasa iba melihat keadaan Meera, terutama Lita. Ia sangat merasa bersalah, jika saja waktu itu ia menolak ajakan kakak iparnya, keadaan tidak akan jadi seperti ini.


Meera dengan memakai pakaian suaminya duduk di halaman belakang, ini adalah tempat dimana paling banyak mereka menghabiskan waktu. Meera memejamkan matanya, mengingat semua kenangan indah bersama Adrian.


Saat Adrian pertama kali menciumnya, menyentuh nya, menyatakan perasaannya, membelanya, menerimanya. Meera sangat merindukan Adrian. Ia bukan hanya seorang suami, tapi ia sahabat, pelindung, serta sumber kebahagiaan nya. Hidupnya benar-benar kosong, jalannya berubah gelap, karena yang menjadi pelitnya kini sudah Tuhan minta untuk kembali.


Ibu mengelus rambut Meera, menyandarkan kepala Meera di bahunya.


"Adrian tidak akan senang melihatmu seperti ini nak, tengoklah Farhan dan Hana, mereka masih sangat membutuhkan waktu dan kasih sayang dari ibunya. Kau tidak mau memberikan mereka itu,hmm? perusahaan juga membutuhkan perhatianmu, kau tidak mau membuat suamimu bangga disana, hmm? bersedih boleh, tapi tidak baik kalau terlalu berlarut begini, bukan cuma kau, kita semua juga merasa kehilangan. Sekarang sudah malam, istirahatlah" ibu mencium kening putri sulungnya

__ADS_1


__ADS_2