
Satu minggu sudah Meera di rumah sakit, sekarang waktunya pulang. Si kembar tidak ikut menjeput Mama nya karena menghadiri pesta ulang tahun teman sekolahnya, Tiwi dan Miya juga ikut. Di rumah ada Bi Surti dan Mama Mila.
Ternyata di lobby sudah ada Marko, Caca dan suaminya, mereka kompak berteriak, "surprise!" sambil mengangkat kado berukuran cukup besar untuk bayi Meera. Bukannya tersenyum atau tertawa, Meera malah menangis. Adrian mengerti, istrinya pasti sedang teringat dua sahabatnya yang sudah tiada. Saat sehabis sholat, ia sering mendapati istrinya menangis karena merindukan Tya dan Meli. Tak jarang juga Meera menyalahkan dirinya atas insiden tersebut yang membuat dua nyawa yang tak tau apa-apa menjadi korban.
Adrian mengambil bayi mungil mereka dari gendongan Meera dan ke mobil lebih dulu bersama anggota keluarga yang lain. Caca langsung memeluk sahabatnya, berusaha menenangkan dan meyakinkan kalau itu semua memang sudah jalan hidup mereka berdua.
"Stop menyalahkan diri sendiri, Meera. Bukan cuma lo, kita semua merasa kehilangan, itu sudah takdir mereka berdua, Meera. Jadi, stop nangis, ya!" si bijak Caca, memang selalu bisa mencairkan suasana. Tangis Meera kini sudah mereda.
Marko menyeka air mata sahabatnya itu sambil berkata, "Meera yang kita kenal gak gini, dia kuat." Meera terkekeh.
"Kita pulang sekarang, kasihan itu, mas Adrian sama yang lain udah nungguin." Meera mengangguk.
******
Lagu selamat ulang tahun terdengar merdu ketika dinyanyikan oleh Lita. Iya, hari ini genap enam tahun usia Farhan dan Hana, si bungsu sendiri sekarang menginjak empat bulan. Pesta ulang tahun dirayakan sederhana atas permintaan si kembar sendiri, entah tau darimana mereka istilah hemat. Saat Meera dan Adrian menanyai soal konsep acara ulang tahun mereka, Farhan menolak diselenggarakan meriah, katanya hemat. Hana setuju saja dengan ide Abang nya.
Terciptalah, acara sederhana yang cuma dihadiri keluarga dan sahabat Mama Papanya. Ada Caca, Hadi (suami Caca), Marko dan Raja.
Hubungan Adrian, Meera dan Raja semakin membaik. Anak-anaknya juga sangat menyukai Raja. Selain karena Raja sering memberikan hadiah, Raja juga sering membacakan cerita-cerita petualangan dan juga mengajarkan permainan permainan baru.
Meera bersandar di dinding, memperhatikan pria yang dulu pernah membuatnya lupa diri.
"Kalau saja Tya masih hidup, dia pasti sudah memusuhi ku karena berteman denganmu, Raja." Meera tersenyum getir, mengingat sahabatnya itu sudah tak ada lagi di dunia.
"Dari tadi senyum-senyum sendiri, kenapa?" tanya Adrian.
"Aku cuma rindu Tya, Mas."
__ADS_1
"Tya sudah tenang di sana," Adrian menunjuk ke atas "lebih baik sekarang, kau temani anak-anak membuka kado. Biar aku temani yang lain."
"Iya, suamiku sayang. Aku mencintaimu."
"Akhir-akhir ini istriku lebih sering mengatakan cinta, ahh rasanya aku mau terbang."
"Kau ini, sudah sana."
Semua rangkaian acara ulang tahun si kembar sudah terlaksana dengan lancar dan baik sesuai keinginan keduanya. Sebelum kembali ke kamarnya, Meera memperhatikan kamar anak-anaknya ini. Kado yang berupa mainan, mereka susun dengan rapih di meja hias masing-masing. Ada satu boneka yang menarik perhatian Meera. Boneka Princess itu terlihat sangat cantik, dengan senyum merekah dan gaun indah berwarna hijau muda. Sudah tertebak, itu pasti dari Raja. Di baliknya terukir nama lengkap Hana, sangat indah.
Di kamar, Meera mendapati suaminya sedang memperhatikan Lily, putri bungsu mereka.
"Lily kenapa, Mas?"
"Sayang, Farhan sama Hana sudah tidur?"
"Kemari, coba perhatikan!" Meera ikut memperhatikan Lily, "kulitnya mengelupas, pasti dia kesakitan. Besok kita bawa dia ke dokter ya."
"Mas, kulit mengelupas pada batita seusia Lily itu wajar. Dulu, Farhan sama Hana juga gitu. Mas gak perlu khawatir, ya." Adrian tersenyum seraya membelai rambut istrinya.
"Iya sayang, ayo tidur, kamu perlu banyak istirahat."
******
Mungkin banyak yang bertanya-tanya, kenapa Raja kembali ke Indonesia? jawaban yang pertama yaitu karena keluarganya, yang kedua karena Adrian. Adrian ingin membuat rumah amal sekaligus panti asuhan atas nama Meera dan Adrian ingin, Raja mendesain rumah itu seindah dan senyaman mungkin.
Raja juga mengambil cuti kerja cukup lama, enam bulan. Selama tiga tahun bekerja, Raja tak pernah mengambil cuti, makanya cuti enam bulan yang ia ajukan langsung diterima oleh atasannya. Di sana Raja bekerja sebagai karyawan biasa, ia tidak mau terlihat mencolok meskipun perusahaan itu milik sahabat Papanya. Sekarang, pembangunan rumah amal itu sudah hampir 70%.
__ADS_1
Cutinya tinggal dua bulan lagi, untuk itu Raja mengajak Farhan dan Hana jalan-jalan ke mall dengan wahana permainan paling lengkap yang ada di ibu kota. Mereka tentu saja sangat bersemangat, Adrian dan Meera juga mengijinkan.
"Aku ijinkan, tapi untuk hari ini saja, aku tidak mau merepotkan kau."
"Tenang Meera, ini tidak merepotkan, kok. Kalian sudah siap?"
"Siap, Om! Mama, Abang sama Ade main dulu ya."
"Iya, Abang sama Ade jangan main aneh-aneh ya, jangan nyusahin Om juga, ok."
"Ok, Mom."
Awalnya Meera tak menyetujui Raja mengajak si kembar main, apalagi tanpa pengawasannya, tapi Adrian sudah mengijinkan. Anak-anak juga sudah terlanjur dekat, bisa ngambek mereka kalau tidak diberi ijin main.
Di mall, Raja bertemu Vita, ia sedang berjalan bersama seorang pria, mereka terlihat mesra. Pria ini berbeda dengan pria yang sebelumnya pernah Raja lihat. Raja tersenyum sinis. Vita yang juga melihat Raja bersama anak-anak Meera menyapa.
Vita memperkenalkan pria yang bersamanya adalah kekasihnya. Kalau bukan karena ada anak-anak, Raja tak akan menghiraukan keberadaan mantan istrinya itu. Sebelumnya mereka pernah tak sengaja bertemu ketika Raja ikut bermain di taman kompleks bersama Adrian dan keluarganya. Vita menyapa dan tidak Raja gubris, setelah Vita pergi, ia dinasehati oleh dua bocah itu soal etika dan sopan santun. Raja tak mau dinasehati oleh bocah-bocah itu lagi.
"Masih jadi pengabdi Meera? sampai membawa anak-anaknya bermain. Aku kasihan padamu, hidupmu begitu tak berguna. Jika kau tidak ada pekerjaan, kau boleh memohon padaku, aku akan meminta kekasihku memberimu proyek besar."
"Tante yang kasihan. Mama bilang, orang yang hidupnya tidak bahagia akan sibuk mencari-cari kekurangan orang lain. Ayo om, mending kita main." Wow, Hana menyindir Vita cukup berani. Di keramaian pula.
Pfffttt, Raja tak bisa menahan tawanya. Niat hati ingin merendahkan, mungkin, tapi malah mendapat sindiran keras dari bocah 6 tahun.
"Kita main dulu ya, Tante. Bye!" Raja menirukan gaya bicara Hana tadi.
Dalam hati Raja berkata, "kau beri makan apa anakmu ini, Meera?"
__ADS_1