
Dua orang itu masih terlelap di atas sofa,hingga tak terasa waktu telah menujukan pukul 19.00,Narend mengeliat,dan perlahan mulai membuka mata,pemuda itu melirik pada gadis yang masih tertidur di pangkuannya.
" Singa betina ku." gumamnya,seulas senyum tersungging dari bibir tipisnya,menatap paras cantik yang terlihat damai dalam menikmati alam bawah sadarnya.
Hingga suara ketukan pintu tersengar,tak ingin menganggu dengan hati hati pria itu memindahkan kepala Fero ke atas bantal sofa,setelah itu ia beranjak hendak membuka pintu.
" Permisi,Mas! sudah waktu Nona Fero makan malam." ucap seorang pelayan.
Narend mengangguk,lalu kembali menghampiri Fero.
" Maaf,Nona! ini waktunya makan malam." ucap Narend pelan,sambil sedikit mengguncang lengan Fero.
" Menganggu saja,ada apa?" gumam Fero tanpa mau membuka matanya.
" Waktunya anda makan malam."
" Nanti saja,aku masih ngantuk." balasnya.
"Baiklah, Kalau begitu aku permisi." ucap Narend.
" Mau kemana?" tanya Fero,yang langsung terbangun dari tidurnya,tak ada lagi raut lelah atau pun mengantuk seperti yang ia katakan barusan,membuat Narend menghentikan langkahnya.
" Ke kamarku,aku belum mandi dari tadi." jawabnya,seketika Fero berdiri lalu menyeringai melangkahkan kaki menghampiri Narend dan langsung mengalungkan tangan di leher pria itu.
" Kita mandi bareng." ajaknya seraya berbisik,entah kenapa saat ini Fero selalu tertarik untuk menggoda pengawalnya yang nampak terlalu polos itu,yang tentunya selalu membuatnya tertawa saat melihat wajahnya.
Terbukti saat ini tubuh Narend langsung saja meremang,wajahnya memerah,ia berdiri di tempat tanpa bisa bergerak,langkah kakinya seolah terkunci,lidahnya kelu,ia begitu terkejut dengan ajakan Fero yang tak tau malu itu.
"Hahahha,, Kau benar benar konyol." Fero terbahak sambil mengacak rambut Narend dengan gemas,setelah itu ia pun melepaskan lingkaran tangannya yang berada di leher Narend.
" Sudah,pergi sana! jangan lama lama." ucap Fero sambil mengibaskan tangannya.
__ADS_1
Namun tiba tiba wajah polos Narend berubah,seperti seekor anak kucing yang manis di sulap menjadi kucing jantan yang agresif saat otak cerdasnya kembali berfungsi, ia menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyum misterius yang membuat Fero salah tingkah.
" Tawaran yang menarik." ucap Narend,lalu menarik pinggang ramping Fero,tanpa menunggu lama ia menyeret Nona mudanya itu berjalan menuju kamar mandi.
" Heii,,apa yang kamu lakukan,dasar bodoh! lepaskan.Toloooonnggg!!!" teriak Fero histeris sambil berusaha melepaskan diri.
Namun Narend tak menghiraukannya,hingga dengan mudah ia berhasil membawa Fero masuk ke dalam kamar mandi,belum cukup sampai di situ,pria itu kini menyeringai sambil melangkahkan kaki mendekati Fero yang sudah mulai nampak gelisah hingga gadis itu mundur beberapa langkah,dan akhirnya ia tersudut ke dinding tepat di bawah shower,Narend segera mengukungnya dengan kedua tangan yang ia tempelkan ke di dinding tersebut dengan kuat.
" Jangan macam macam,Narend! atau aku akan menghajar mu." ancam Fero dengar suara bergetar.
" Bukannya anda yang mengajakku mandi bersama,sebagai pengawal yang baik,aku akan selalu menuruti perintah dan ajakan anda." ujar Narend menyeringai,membuat Fero semakin gemeteran.
" Aku hanya bercanda."
" Bercanda,dan menggoda sangat berbeda,Nona! bukankah anda tahu jika aku pria normal,jangan remehkan pria lugu dan pendiam seperti ku,karena seorang pemangsa tak akan banyak bersuara." ucap Narend dengan suara dan hembusan nafas yang berat.
Pupil matanya mulai melebar,menatap dalam namik mata yang penuh dengan emosi dan ketakutan.
Tak tega melihat hal itu,akhirnya Pemuda itu pun mengakhiri aksinya,ia menggulum bibir seraya melangkah mundur sambil menyalakan shower,hingga air tersebut mengguyur dan membasahi tubuh Fero.
" Lalu kau akan pergi begitu saja,I will never let you go, baby."
Tak terima dengan perlakuan Narend,Fero langsung menarik tangan pria itu dengan kencang saat ia hendak keluar,membuat Narend terhuyung kebelakang dan akhirnya Narend pun tak luput dari guyuran air yang keluar dari shower.
Fero terkekeh,kembali mengalungkan tangan di leher Narend,lalu mendaratkan bibirnya lagi untuk yang kesekian kalinya,entah sejak kapan bibir tipis pria itu kini telah menjadi candunya,sebuah ciuman yang menghasilkan suatu perasaan yang menyeruak dalam hatinya,terasa lebih indah daripada hanya sekedar nafsu,dan itu yang kini Fero rasakan saat bersama Narend.
Bibir mereka masih saling berpautan di bawah guyuran air hingga beberapa saat,setelah itu mereka saling melempar pandang,merasakan sesuatu yang tiba tiba muncul dari benaknya masing masing,saling mengagumi serta tak ingin terpisahkan,merasa terlindungi dan selalu ingin melindungi,begitulah yang mereka rasakan.
" Maaf,aku harus pergi,Nona!" ucap Narend tiba tiba,tak ingin terjadi sesuatu yang lebih dari itu,ia memilih menghindar,melarikan diri keluar dengan pakaian basah,berlari dengan tergesa gesa menuju kamarnya yang berada di belakang rumah utama,para pelayan serta pengawal yang melihatnya nampak terheran heran,untung saja pemilik rumah tak sampai melihatnya.
Selesai mandi,Fero terpaksa menuruti perintah sang ayah,yang menyuruhnya untuk makan malam bersama,gadis itu nampak tak berselera padahal ia belum makan sama sekali sejak tadi pagi karena keberadaan calon anggota keluarga baru yang membuatnya tak nafsu makan.
__ADS_1
" Fero,besok kau liburkan?" tanya Bayu.
" Iya." sahut Fero malas.
" Baguslah,kalau begitu kau bisa mengajak Jesi pergi ke butik langganan mu,untuk mencari gaun yang akan kalian kenakan di pernikahan ayah dan ibu nanti." ujar Bayu dengan semangat,sementara Fero mendelik sebal,mendesis sambil tersenyum sinis.
" Tidak bisa,aku ingin mengunjungi makan ibu." sahutnya.
" Kau bisa mengunjungi makan ibu setelah selesai acara,kita semua akan menemani mu." bujuk Bayu.
" Tidak mau,untuk apa ayah mengunjungi makan ibu?padahal selama ini ayah tidak pernah menginjakan kaki ke tempat itu,apa hanya untuk sekedar memamerkan istri baru?" Fero terkekeh masih dengan wajah sinisnya.
"Hah, Aku tidak bisa bayangkan bagaimana ibu tertawa di sana,saat ayah datang membawa badut badut ini." cibir Fero membuat kedua wanita di hadapnnya itu menatap tajam,Namun bukan Fero namanya jika tidak membalasnya dengan tatapan yang lebih menusuk.
" Jika kalian masih punya harga diri,keluarlah dari sini secara terhormat,kalian hanya akan mempermalukan diri sendiri bahkan hanya sekedar berhadapan dengan sebuah batu nisan." ucap Fero lantang,membuat Bayu murka,pria paruh baya itu mengebrak meja dengan kasar.
" Jaga ucapan mu,Fero!" teriaknya,namun itu semua tak mampu membuat gadis itu gentar,Fero malah semakin menantang dengan tatapannya yang datar.
" Kenapa ayah,apa ayah tidak terima,ayah lebih memihak pada mereka,sudah ku duga." Fero mengembuskan nafas kasar,lalu memalingkan wajah dengan sinis.
" Ayah lakukan ini semua demi kebaikan mu,ayah ingin ada seseorang yang bisa menemani mu di rumah ini,seandainya ibu mu masih ada, ayah tidak akan khawatir meninggalkan mu sendiri, ASAL KAU TAU IBU MU MENINGGAL JUGA KARENA KAU!" teriak Bayu dengan penuh penekanan pada kalimat terakhirnya,seraya mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Fero,kata kata andalan yang selalu ia lontarkan ketika bersitegang dengan putrinya, selama ini Fero di buat tak berkutik,namun sekarang ceritanya beda lagi,Fero membalasnya tak kalah bengis.
" Cukup,ayah! berhenti menyalahkan ku,gadis kecil berusia 5 tahun mengerti apa tentang keadaan di rumahnya,tapi sekarang aku sudah besar,aku tau apa yang terjadi saat itu,ayah menolak menjemputku karena ayah terlalu sibuk mengurus pekerjaan sialan yang membuat mu gila,hingga mengabaikan keluarga dan membiarkan ibu menjemput ku sendiri dengan motor butut yang sama sekali belum pernah ia kendarai sebelumnya." balas Fero,membuat Bayu bungkam seketika,otaknya memutar kembali pada saat 15 tahun yang lalu,di mana ia tengah sibuk sibuknya mencari peluang bisnis yang menjanjikan,pergi kesana kemari,mendatangi beberapa perusahaan yang bisa ia ajak bekerja sama, hingga mengabaikan keluarga demi untuk menjadi sekarang ini.
" Untuk apa semua ini,jika ibu tak bisa menikmatinya,pemakaman elit,dengan pemandangan indah di lengkapi fasilitas mewah?tetap saja,itu semua hanya untuk orang hidup,dan ibu hanya di tempatkan di bawah tanah yang sempit,gelap dan pengap." Fero mulai melemas sambil terisak,menutup wajah dengan kedua tangannya,punggungnya nampak bergetar.
Semua palayan yang diam diam memperhatikan perdebatan antara ayah dan anak itu merasa iba,mereka seolah serasakan apa yang Fero rasakan,seorang anak korban keegoisan orang tua,kurang kasih sayang dan perhatian,menjadikannya sosok jadis yang angkuh namun rapuh.
Biasakan memberi like komen dan vote setelah membaca...😊
__ADS_1
Jesicca