Takdir Cinta miss arogan

Takdir Cinta miss arogan
30. Menolak


__ADS_3

Tidak lama makanan pun habis tak tersisa,Narend mengusap sedikit noda saus di sudut bibir Fero dengan ibu jarinya,lalu menjilatnya.


Fero menggelengkan kepala dan terkekeh dengan tingkah konyolnya itu.


"Kenapa kau melakukan itu,jika mau nih,jilat dari bibir ku langsung." Fero memajukan bibirnya,dan Narend segera menyomot bibir itu dengan gemas.


" Kau memang selalu pandai menantangku,dan untuk saat ini aku tak bisa membalas mu,tapi kita lihat saja nanti."balas Narend,membuat Fero kembali terkekeh.


Ia memang selalu senang menggoda kekasihnya itu,karena wajah meronanya selalu terlihat menggemaskan.


Dengan tidak sabar gadis itu mulai menagih janji Narend,tentang semua jawaban yang sudah membuatnya penasaran.


Dan akhirnya Narend pun menceritakan semuanya,tentang awal mula ia bekerja dengan Bayu,hingga akhirnya ia kembali lagi ke perusahaan milik ayah angkatnya itu.


" Jadi kau sudah menjadi seorang manager, sebelum bekerja dengan ayah ku?" tanya Fero tak menyangka.


" Hmm." sahut Narend sambil menganggukan kepala.


" Ah,aku beruntung sekali,seandainya kau tidak pernah memutuskan untuk mencoba pengalaman baru ,mungkin aku takan pernah mengenal mu,dan tak akan pernah mendapatkan cinta dari pria sebaik diri mu."

__ADS_1


" Iya,aku juga tidak menyangka,karena sebenarnya aku mengundurkan diri dari perusahaan ayah karena kau,dan sekarang aku kembali ke sana karena kau juga." balas Narend,membuat keduanya terkekeh.


Lama berbincang Narend memutuskan untuk mengajak Fero pulang,walaupun gadis itu masih nampak keberatan dan kukuh untuk ikut bersamanya ke apartemen,namun untuk saat ini Narend menolak,ia tak bisa membawanya ke sana,mengingat ia hanya tinggal seorang diri ,khawatir tempat itu akan di penuhi setan setan yang membisikan sesuatu yang menjerumuskannya ke dalam nikmat sesaat.


Meskipun ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk menahannya,namun sebagai manusia biasa imannya belum cukup kuat,apalagi wanita cantik di hadapannya itu sudah berhasil membuat imannya semakin lemah.


" Aku tidak bisa mengajak mu ke sana sekarang,aku mohon, mengertilah! aku tidak mau terjadi sesuatu yang di inginkan,jika itu terjadi kau akan menyesal,dan aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri seumur hidupku."ucap Narend,sambil menggenggam tangan Fero dengan satu tangannya,sementara tangan lainnya masih sibuk menyetir


" Baiklah,tapi setidaknya beritahu aku di mana apartemen ku,aku tidak ingin kejadian dulu terulang kembali saat Max menghianati ku." Fero bersungut sungut,sambil melepas genggaman tangannya,lalu membuang muka melipat kedua tanganya di dada.


" Jangan samakan aku dengan pria itu,aku dan dia jelas berbeda,seleraku tinggi,aku tidak suka wanita murahan,aku hanya ingin wanita yang bisa menjaga mahkotanya dengan baik." Narend menepikan mobilnya di bahu jalan,ia lalu menangkup pipi Fero,menatap matanya dalam dalam,lalu mengecup keningnya dengan lembut,Fero memejamkan mata menikmati hembusan nafasnya yang terasa hangat menyapu wajah.


Tanya Narend yang langsung di angguki Fero,namun gadis itu masih kukuh ingin mengetahui dimana tempat tinggal kekasihnya itu,dan akhirnya Narend pun mengalah,ia memberi tahu nama dan alamat apartemennya.


" Ingat,aku tidak mau kau ke sana,sebelum aku sendiri yang membawa mu." ucap Narend seolah memperingati,gadis itu pun mengangguk patuh,hingga tanpa terasa ia sudah berhenti di depan gerbang rumah mewah Fero.


Gadis itu tak juga beranjak,ia malah berdiam sambil menatap kekasihnya dengan sorot mata yang seolah berkata 'aku tak tak ingin jauh dari mu'


Namun pemuda itu malah menunjukan senyum manisnya,sambil mendaratkan kepalanya pada setir mobil,membuat Fero semakin berat untuk meninggalkannya,rasanya ia ingin sekali memasukannya ke dalam kantong celananya dan membawanya kemana pun ia pergi.

__ADS_1


" Masuklah,para penjaga akan curiga jika mobil ini terparkir lama di sini." titah Narend.


" Berikan aku ciuman yang paling berkesan hingga aku bisa terus merasakanya sampai kita bertemu lagi." pinta Fero yang langsung menghadapnya,menanti ciuman yang akan di berikan Narend untuknya,mengingat selama ini hanya Fero yang selalu lebih dulu menyerangnya.


" Memangnya ciuman ku masih kurang berkesan,ah,maaf karena aku belum sepandai dirimu." aku Narend yang merasa cupu di hadapan suhu.Namun iapun mencoba memenuhi permintaan Fero menarik tengkuknya,lalu mulai menempelkan bibirnya,melahap abis bibir kecil itu hingga tak memberikan ruang untuk Fero menghirup udara.


Tangan lainnya menekan pinggang ramping dan mulai menjelajah di punggungnya,menggerayangi dengan lembut,hingga semakin lama semakin menuntut,tanganya mulai menyusup masuk menyentuh kulit punggungnya,mengusapnya dari bawah ke atas lalu tanpa sadar tangan laknat itu hampir sampai ke bukit kembar yang sejak tadi melambai lambai minta di jelajahi,namun untungnya,sebuah ketukan dari luar jendela menyadarkannya.


Mereka segera melepaskan pautannya,melirik pada seorang pria yang sudah berdiri di luar mobil dengan wajah yang tak bisa di gambarkan.


" Turun lah,sebelum dia memanggil pengawal lain untuk memisahkan kita." ujar Narend seraya menunjuk pria tersebut.


" Aku akan memberinya pelajaran." gumam Fero,tak ayal ia pun menurut, gadis itu kembali mengecup sekilas bibir yang membuatnya candu itu sebelum keluar dari dalam mobil.


" Kenapa kau mengangguku?" bentak Fero pada pria yang tak lain adalah Bimo.


" Maaf,Nona!mobil Narend terlalu lama perkir di sini,dan itu akan membuat semua orang curiga,hidup saya akan terancam jika mereka tahu bahwa saya membiarkan Narend membawa anda pergi ,dan itu akan menimbulkan masalah juga untuk hubungan kalian ,lain kali Narend tidak perlu mengantar anda sampai ke sini." ucap Bimo sedikit mendekatkan wajahnya di telinga Fero hendak berbisik.


Fero mengangguk mengerti, ia lalu berjalan memasuki gerbang tersebut,tanpa di sadari sepasang mata sudah memperhatikannya dari lantas atas.

__ADS_1


" Seleranya terlalu rendah,setelah pemuda itu pergi dari sini,sekarang ia mendekati pengawal baru,dasar gadis murahan! bisa bisa para pengawal di sini dia cicipin satu persatu." cibir Rika seraya tersenyum sinis.


__ADS_2