Takdir Cinta miss arogan

Takdir Cinta miss arogan
58.Mulai terbongkar


__ADS_3

Usai membawa Robin ke rumah sakit,Narend bergegas menuju apartemen si kembar,hendak menemui kekasihnya,tanpa menghiraukan luka luka kecil yang terdapat di beberapa bagian tubuhnya.


Sementara Fero tengah di cecar habis habisan, dengan pertanyaan yang di layangkan si kembar.


Gadis arogan itu kini nampak terdiam,sambil menundukan kepala,tak lagi bisa menunjukan taringnya seperti biasa,saat berhadapan dengan dua gadis yang kini tengah menampilkan wajah penuh selidik.


" Sebenarnya ada hubungan apa kak Diana dengan bang Narend?" tanya Shafa,membuat Fero lagi lagi menunduk lebih dalam,tanpa bisa menjawab,bahkan bibirnya pun terasa kelu dan tak bisa di gerakan.


Sebelum mendapat jawaban,Marwah yang sejak tadi hanya diam kini turut membuka suara,setelah sedikit lebih tenang dari rasa keterkejutannya.


"Sebenarnya ada masalah apa? kenapa bisa sampai seperti ini? padahal aku hanya ingin melihat adegan baku hantam itu dalam layar lebar,tapi ini malah melihatnya langsung di depan mata kepala sendiri." gerutunya,dan saat itu juga ia kembali mengingat pria tampan yang tadi sempat mendekapnya,tubuhnya yang kekar serta wajah tegasnya nampak jelas didepan mata,bahkan tubuh mereka saling menempel erat,hanya terhalang kain pakaian yang mereka kenakan.


Dan ini adalah kali pertamanya ia bersentuhan secara intens dengan lawan jenis,selain dengan ayahnya sendiri,bahkan dengan Narend pun ia tak berani sedekat itu.


Seketika,paras cantiknya bersemu merah,getak jantungnya pun mendadak lebih gaduh.


" Astagfirullah!!" lirih Marwah,sambil menggelengkan kepala,dengan tangan yang tersimpan di dada,menutup matanya rapat rapat,berusaha mengilangkan ingatan tersebut.


Fero masih saja mematung,tak tau bagaimana ia harus menjelaskannya,ia berusaha mengunci mulutnya rapat rapat,kendati demikian si kembar masih terus setia menanti jawabanya dengan sabar,tanpa mau beranjak dari tempat yang di dudukinya sekarang yang tepat hadapanya,hal itu membuat Fero kembang kempis seolah kehilangan oksigen,hawa dari dalam kamar apartemen tersebut terasa semakin pengap.


Untung saja Narend datang di waktu yang tepat,kini tatapan dari kedua gadis itu langsung tertuju padanya,mereka menatapnya dengan tajam seperti anak panah yang siap menghujam.


" Ini dia tersangka utamanya." gumam Shafa,yang langsung membawa Narend untuk ikut duduk.


" Ayo!apa ada yang bisa kalian jelaskan?" Marwah membenarkan posisi duduknya dengan menyilangkan kaki,bersiap untuk mendengarkan.


" Ini urusan pribadi,kalian tidak perlu tau." sahut Narend dengan santai,seraya menyenderkan punggunggunya di senderen sofa,hal itu membuat si kembar kesal,karena Narend tak membiarkan mereka tahu sesuatu yang sejak tadi membuatnya penasaran.


" Abang!! ini memang masalah pribadi kalian,tapi kami juga harus tau,kenapa ini bisa terjadi?dan ada hubungan apa di antara kalian?karena secara tidak langsung kalian sudah melibatkan kami dalam masalah ini." sungut Shafa,tanpa ada yang tahu,ia pun mengingat kejadian beberapa saat lalu,dimana seorang pria berhasil mendekapnya dengan sangat erat,untuk menyelamatkannya,dan ternyata apa yang di rasakannya sama, dengan apa yang di rasakan saudara kembarnya.


" Seandainya laki laki itu tidak ada,Shafa tidak tau apa yang akan terjadi pada kami." lirih Shafa,membuat Narend terdiam seketika,begitu juga Fero dan Marwah,mereka nampak bergeming dengan pemikiran masing masing.


" Ah iya,laki laki itu tertembak saat berusaha menyelamatkan kami,bagaimana kondisinya?" tanya Marwah,nampak jelas raut kekhawatiran dari paras cantiknya.

__ADS_1


" Tidak ada yang perlu di khawatirkan,dia baik baik saja." jawab Narend,sambil menunjukan wajah tidak suka.


" Syukurlah,lalu bagaimana? apa kalian masih akan diam seperti ini? abang tau bagaimana sikap kami,kami tidak akan menyerah sebelum mendapat apa yang di inginkan,jadi jangan harap kalian kalian bisa bebas sebelum menjawab pertanyaan kami."tambah Marwah lagi,membuat Narend menghela nafas berat,berurusan dengan dua gadis dari titisan Alvi memang bukan sesuatu yang mudah.


berlama lama dengan mereka bukan hal baik untuknya.


Hingga pemuda itu pun memilih untuk mengalah,ia melirik sekilas pada Fero,yang hanya bisa bergerak sesuai tarikan nafasnya.


" Kami memiliki hubungan spesial,mungkin lebih tepatnya kami sepasang kekasih." jelas Narend,walau dengan jawaban yang masih menggantung,namun mampu membuat si kembar terperanjat.


Dan mereka semakin terkejut dengan mata dan mulut yang melebar dengan sempurna,saat Narend menceritakan semuanya tanpa ada satu pun yang terlewat,saking terkejutnya,mereka bahkan hampir lupa cara bernafas.


Saat itu juga tatapan mata dari keduanya tertuju pada Fero yang mulai terisak,tanpa menunggu lama,mereka langsung berhambur,memeluk Fero dari sini kanan dan kirinya.


" Aku tau ini pasti sangat berat,tapi Kak Diana jangan sedih,perempuan yang kuat adalah orang yang mampu tersenyum pagi ini,seperti dia tidak menangis tadi malam,jangan khawatir,kak Diana tidak sendiri,karena mulai sekarang sudah ada kami." ucap Shafa sambil menyeka air mata yang membasahi pipi Fero,membuat sang punya pipi perlahan menyunggingkan sudut bibirnya,tak lupa ia pun melirik laki laki di hadapanya,yang kini tengah tersenyum hangat ke arahnya.


Setelah melihat ketulusan dari sang kekasih dan juga ke si kembar. Perlahan,kekhawatiran yang sempat menyerang benaknya mulai hilang.


" Terimakasih." lirihnya.


"Kalian sudah banyak bicara, Ini sudah larut malam,sebaiknya kalian istirahat." titah Narend,yang sudah mulai frustasi,karena si kembar masih saja tak memberi kesempatan kepada dua sejoli itu untuk sekedar bersua.


Sambil memcebik kesal,si kembar pun menurut,mereka beranjak untuk masuk ke dalam kamar yang sama.


" Awas jangan macam - macam!" ucap Shafa penuh ancaman seraya melayangkan jari telunjuk sebelum ia masuk dan menutup pintu kamarnya.


Setelah memastikan si kembar menghilang,keduanya masih saling diam,suasana terasa canggung,sesekali mereka hanya saling melirik,Fero yang semula selalu bersikap agresif dan tak tau malu,kini sedikit berubah,walau Narend sudah menerima keadaanya,namun rasa ketidak percayaan diri itu masih tetap bersemayam di hatinya.


Narend tak bisa lagi tinggal diam,ia langsung menghampiri Fero dan duduk di sebelahnya.


" Bagaimana kabar mu?" tanya Narend basa basi.


" Seperti yang kamu lihat." sahut Fero.

__ADS_1


" Maafkan aku,karena aku tidak ada di saat kamu mengalami masa masa sulit." ujar Narend penuh penyesalan,pemuda itu langsung meraih tangan Fero dan mengenggamnya.


" Kamu tidak salah,seharusnya aku yang minta maaf,karena aku tidak bisa menjaga diriku dengan baik." lirih Fero,seraya menatap Narend dengan mata yang kembali berkabut.


" Aku tau itu bukan keinginan mu,jadi tolong jangan di ingat dan jangan membahas itu lagi,karena aku akan semakin merasa bersalah."Narend membalas tatapan Fero,tangannya mulai bergerak,mengusap lembut pipi wanita pujaan hatinya,lalu mengecup keningnya dengan durasi yang cukup lama,seolah tengah menyalurkan rasa rindu yang ia pendam selama ini,begitu juga dengan Fero,gadis itu memejamkan mata saat menerima sentuhan hangat dari bibir Narend yang sudah lama tidak ia dapatkan,menghirup wanginya yang khas, pertemuannya dengan sang kekasih seolah menjadi obat mujarab baginya yang sempat di landa kesedihan,gadis itu pun melingkarkan tangannya di punggung sang kekasih,perlahan kecupan yang di berikan Narend mulai turun ke hidung,pipi dan berakhir di bibir,lagi lagi Fero hanya diam,menerima semua sentuhan itu.


Ciuman lembut dan hangat dengan penuh gairah tak dapat mereka hindari,saling *******,mempertemukan lidah keduanya,hingga saling berbelit dengan riang di dalam mulut.


Keduanya semakin terbuai,tanpa sadar,Narend mengangkat butuh Fero dan membawanya ke dalam kamar milik Marwah,yang memang sudah kosong,di tinggal sang pemilik,karena gadis itu memilih mengungsi ke kamar saudara kembarnya semenjak Fero datang ke apartemen.


Narend menindih tubuh Fero,tanpa melepaskan pautannya,dan akhirnya ia mulai tersadar saat Fero tengah membuka satu persatu kancing kemejanya,dengan segera iapun melepaskan ciumanya,lalu berguling ke samping Fero.


" Kenapa,kau masih tidak mau?" tanya Fero.


" Tidak,bukan seperti itu,hanya saja ini bukan waktu yang tepat."


" Memangnya kenapa,tubuh ku sudah kotor,dan tidak ada lagi yang harus aku jaga sekarang."


" Jadi kau akan memberikannya begitu saja?" tanya Narend,membuat Fero mengganggukan kepala dengan cepat.


" Ya,tapi hanya untuk mu saja. tidak untuk orang lain."


" Kalau begitu kau masih harus tetap menjaganya,dan tunggu sampai aku bisa memilikinya dengan sah."


"Merepotkan sekali." gumam Fero,seraya menghela nafas lelah,padahal ia sudah banting harga habis habisan, tapi Narend tetap kukuh dengan pendirianya.


" Lalu sampai kapan aku harus menunggu mu untuk melakukannya?"


" Setelah aku mengikatmu dengan ikrar janji di depan penghulu." sahut Narend membuat rona merah di pipi Fero kambali timbul,gadis itu tersenyum penuh haru.


" Jadi kau masih mau menikahi ku?" tanya Fero.


" Menurut mu,apa aku terlihat bercanda?"

__ADS_1


" Jangan bertanya seperti itu lagi,kau tau,aku sangat mencintai mu,sekarang dan sampai kapan pun,apapun dan bagaimana pun keadaannya,aku akan tetap mencintai mu,hanya itu yang perlu kamu ingat." ucap Narend dengan tegas membuat Fero tak bisa lagi berkata kata,gadis itu kembali melingkarkan tangannya di perut Narend sambil mendaratkan kepalanya di dada bidang Narend.


" Terimakasih,aku juga sangat mencintai mu, tolong jangan pernah berhenti mencintai ku." ucap Fero,namun Narend tak lagi menyahut,gadis itu pun mengangkat kepalanya hendak memastikan,seketika ia tersenyum sambil menggelengkan kepala,saat melihat Narend sudah menutup matanya dengan lelap.


__ADS_2