
"Narend!!" panggil Fero,membuat pria itu tersadar dari keterkejutannya,pria itu langsung menyahut walau masih nampak gelagapan.
" Ah,iya Fero!" sahutnya.
" tidak ada pakaian untuk ku,aku bisa masuk angin." rengeknya dengan gaya manja,membuat Narend tersenyum gemas,pria itu berlalu menuju kamarnya,di ikuti Fero dari belakang.
" Untuk sementara kau pakai ini dulu,nanti aku belikan yang baru untuk mu." ucap Narend,seraya menyerahkan sweater hoodie dan celana training panjanganya,sontak membuat Fero nampak terkejut hingga membulatkan mata dengan sempurna.
" Dasar bodoh! yang benar saja,masa aku harus pakai pakaian seperti ini?" protes Fero,ia lalu melemparnya ke sembarang arah.
" Kau mau membuangku ke kutub utara ya?" selorohnya lagi dengan menunjukan mode singanya,padahal pria itu sengaja memberinya pakaian pertutup seperti itu agar bisa membalut lekuk tubuh indahnya yang selalu membuat iman kaum adam seperti Narend terguncang.
" Sayang,aku tidak punya pakaian lain,kau mau pakai atau tetap dengan handuk itu?" ujar Narend dengan tegas,membuat Faro terdiam dan tak lama ia pun menurut,mode singanya seketika berubah menjadi mode anak kucing yang menggemaskan.
" Pulang dari kantor aku akan membelikan mu pakaian." ujar Narend sebelum ia pergi,membiarkan Fero berganti pakaian sendiri di dalam kamar.
Pemuda itu kembali ke dapur,hendak menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda,tak lama Fero pun keluar dengan sweater dan celana kebesaran,Narend sempat terkekeh di buatnya.
" Tidak lucu." sungut Fero seraya memanyunkan bibirnya,ia lalu mendaratkan bokongnya di meja makan dan mulai menyantap makanan yang Narend sediakan,hanya roti panggang dengan selai coklat dan susu hangat,tak seperti nemu lengkap yang di sediakan di istananya,namun gadis itu makan dengan lahap,sepertinya ia sudah tidak mendapat makanan sejak lahir.
Ia bahkan sudah menghabiskan beberapa lembar roti,sementara Narend hanya memperhatikannya sambil memangku dagu.
" Kau suka?" tanya Narend.
" Hmmm." sahut Fero seraya menganggukan kepala,tak bisa berkata kata karena mulutnya masih penuh.
" Makanlah yang banyak! aku harus segera ke kantor." ucap Narend sambil melirik jam di pergelangan tangannya,sontak gadis itu terdiam,ia menatap Narend dengan air wajah yang mengiba,seolah berkata ' jangan tinggalkan aku.'
Menyadari hal itu Narend kembali tersenyum, membelai rambut panjang hitam dan lebat itu dengan lembut.
" Kau mau ikut?" ajaknya,membuat mata Fero seketika berbinar,gadis itu mengangguk cepat,dan langsung menghabiskan makanannya hingga tandas.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan,Fero masih saja terdiam,nampak memikirkan sesuatu,raut wajahnya menyiratkan kekhawatiran,hingga tak terasa mobil yang di kendarai Narend berhenti di sebuah parkiran yang di sediakan di kantornya.
Pemuda itu segara keluar,lalu membukakan pintu untuk kekasihnya,namun Fero masih bergeming sambil mengigiti kukunya,bertanda ia benar benar gugup dan tak percaya diri.
" Ayok,kenapa diam?" ajak Narend seraya mengulurkan tangan,namun Fero masih terdiam.
Membuat Narend menundukan badannya untuk memestikan apa yang terjadi pada kekasihnya itu.
" Heii,,kenapa?"
" Aku malu Narend,pakaian ini membuatku tak percaya diri,orang orang di sana pasti akan mengira aku gila." rengek Fero,kembali membuat Narend terkekeh.
Tanpa menunggu lama,pemuda itu langsung meraih tubuh sang kekasih dan mendekapnya.
" Kau malu,hmm?" tanyannya.
" Sembunyikan wajah mu di ketiak ku." ujarnya lagi,dan entah kenapa gadis itu malah menurutinya,ia menuembunyikan wajahnya di balik ketiak Narend.
Saat berada di dalam lift yang sepi,Narend melepaskan dekapannya,ia membiarkan sang kekasih mengirup udara terlebih dulu,sebelum lift itu kembali terbuka.
" Huuuhh.." Fero menghembuskan nafasnya sambil merapikan rambut.
" Ketiak yang memabukan." ujar Fero,seraya mengendus ketiak itu kembali,kelakuan konyolnya membuat Narend terkekeh geli.
" Kau suka?"tanya Narend.
" Iya, aku suka." keduanya semakin tergelak,hingga tiba tiba pintu lift terbuka,Fero tidak sempat memyembunyikan wajahnya lagi saat Nizam masuk ke dalam lift tersebut,membuat keduanya saling diam seolah tak saling kenal.
Nizam mengeryitkan dahinya,sambil memperhatikan penampilan gadis asing di hadapannya itu,netranya menyapu dari ujung kaki hingga ujung kepala,dan tak lama pemuda itu pun menggelengkan kepala merasa tak habis fikir,ia lalu melirik Narend yang berada di sampingnya,lirikan matanya seolah bertanya 'siapa wanita ini?'
Namun Narend hanya membalas pertanyaannya dengan seringai mesterius.
__ADS_1
Hingga ke dua pria itu sampai di lantai dimana ruanganya berada,keduanya langsung masuk ruangan masing masing,begitu juga dengan Fero yang terus mengekor di belakang sang kekasih.
" Waahh!! aku tidak menyangka bisa masuk keruangan kerjamu." seru Fero ,sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.
Lalu berbalik menatap Narend dengan perasaan bangga,ia tertawa senang sambil merentangkan tangan dan berhambur memeluk kekasihnya itu dengan erat.
" Aku tidak menyangka kau bisa mengelola perusahaan sebesar ini."
" Ini belum seberapa jika di banding dengan perusahaan ayah mu." balas Narend,sambil membalas pelukanya,melingkarkan tangan di pinggang kecil itu, bahkan ia sudah berani mendaratkan kecupannya di bibir sang kekasih tanpa ragu.
Tiba tiba saja Nizam masuk,tanpa mengetuk pintu terlebih dulu,hingga akhirnya ia harus menyaksikan kejadian tersebut,pemuda itu sempat membulatkan mata tak percaya dengan ulah teman sekaligus atasannya itu.
" Eehh,,maaf! Narend kau bisa keruangan ku sekarang?" ujar Nizam yang nampak gugup,ia mengurungkan niatnya untuk masuk ke ruang Narend, dan malah kembali ke ruangannya.
Dengan segera Narend pun menghampiri Nizam di ruangannya.
Di dalam sana Nizam mengumpatnya habis habisnya,ia tak menyangka jika Narend akan berbuat seperti itu,bahkan di tempat kerjanya sendiri,bukan apa apa,namun jika hal itu terlihat oleh karyawan lain,bagaimana dengan reputasinya sebagai atasan, yang selama ini menjadi panutan,karena kebaikan dan keluguannya.
" Siapa wanita itu?" tanya Nizam.
" Kekasih ku." sahut Narend santai tanpa beban,membuat Nizam semakin terkejut.
" Sejak kapan kau punya kekasih?" tanya Nizam tak menyangka.
" Sejak mengenalnya."
" Hah,,dasar konyol!dari mana kau dapat gadis aneh seperti itu,dia bahkan seperti beruang kutub yang tersesat di negara tropis." cibir Nizam.
Ia tak tau saja jika Fero sudah mengenakan gaun cantik yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang aduhai,hidupnya akan kelar saat itu juga,sama seperti Narend yang langsung panas dingin ketika pertama melihat tubuh indahnya waktu itu.
__ADS_1