
Narend pun membawa Fero pulang ke apartemennya,di sana ia membaringkan tubuh Fero di atas tempat tidur,lalu mengobati beberapa luka yang terdapat di bagian wajah cantik nya.
" Maafkan aku,aku tak bisa menjagamu dengan baik,hingga kau harus mengalami kejadian seperti ini." lirih Narend sambil membersihkan darah segar yang keluar dari hidung juga sudut bibir Fero,namun gadis itu tak menyahut,ia diam tanpa berani membuka mata.
Selesai mengobati,Narend pun beranjak hendak menaruh kotak obat ke tempat semula,sementara Fero sudah kembali membuka matanya,ia menatap Narend dengan mata yang sayu.
" Jangan tinggalkan aku lagi." ujarnya,membuat Narend bergeming,ia lalu membalikan tubuh dan menghampirinya, dengan menyunggingkan sudut bibirnya ia pun mengangguk.
" Baiklah,aku tidak bisa berjanji,tapi akan aku usahakan." ujarnya,seraya mengusap wajah Fero,dengan tangan lembut dan hangatnya yang mampu membuat Fero terbuai hingga memejamkan mata.
" Tidurlah,kau pasti lelah." titahnya,sambil mendaratkan kecupan di kening Fero,ia lalu beringsut mundur,namun gadis itu mencegahnya.
" Tidurlah di sini ! ku mohon."ucap Fero sedikit merengek,membuat Narend merasa gemas,pria itu pun mengangguk sambil mengusap kepalanya.
" Ya, kau tidak usah khawatir,aku pasti akan tidur di sini." sahutnya,namun Narend malah beranjak dan membaringkan tubuhnya di atas sofa yang masih berada di dalam kamarnya,rupanya ucapan Fero yang memintanya tidur di sini di salah artikan.
Gadis itu melemparkan sebuah bantal ke arahnya seolah merajuk.
" Dasar bodoh! maksud ku,kau harus tidur di sini." rengek Fero sambil menepuk ruang kosong di sampingnya.
Narend pun kembali bangun,ia menatap Fero tak mengerti.
" Maksud mu, kita tidur satu ranjang?" tanya Narend memastikan,dengan cepat Fero mengangguk,ia lalu merentangkan kedua tangannya,berharap Narend akan segera berhambur menabrakan diri padanya.
Namun harapannya kandas begitu saja,ketika melihat Narend menggelengkan kepala.
" Tidak,sayang! jangan seperti itu,jika terjadi sesuatu aku tidak bisa menahannya." tolak Narend,membuat Fero cemberut.
"Tidak masalah,Kalau kau mau silahkan,aku akan memberikannya untuk mu,hanya untuk mu." balas Fero,dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya,seraya menopang tangan ke belekang,menunjukan dadanya yang menggoda.
Ia memang selalu mendadak murahan jika sudah berhadapan dengan Narend,padahal selama ini ia selalu menjaga mahkotanya dengan baik.
__ADS_1
Lagi lagi Narend menggelengkan kepala,rupanya benteng pertahannya tak mudah di runtuhkan begitu saja.Hal itu membuat Fero semakin marah.
" Ya sudah,kalau kau tidak mau tidur di sini,aku juga tidak mau tidur." gadis itu cemburut,menyendarkan punggung di kepala ranjang,sambil melipat kedua tangan di dada.
Dan terpaksa Narend pun mengalah,berdebat dengan sang kekasih bukan hal baik untuknya,yang tentunya tidak akan ada ujungnya, dan akhirnya ia pun menuruti keinginan Fero.
Narend merangkak,menaiki tempat tidur,lalu membaringkan tubuhnya di samping sang kekasih.
" Ayok,tidur!" titahnya.Fero pun kembali tersenyum di buatnya,gadis itu langsung mendaratkan kepalanya di lengan Narend,lalu menenggelamkan wajah di dadanya.
Sepanjang malam Narend tak dapat memejamkan mata,merasakan gejolak yang membara dalam dirinya,sentuhan hangat dari tubuh sang kekasih membuat jiwa liar laki lakinya meronta,degupan jantungnya berpacu lebih cepat,berkali kali ia berusaha untuk beranjak namun selalu gagal,lilitan tangan dan kaki Fero terlalu kuat,bahkan gadis itu tak memberikanya kesempatan untuk bergerak sedikitpun.
Hingga pagi penjelang,akhirnya Fero pun mengendurkan pelukanya,tak ingin melewati kesempatan yang ada,dengan cepat Narend pun meloloskan diri berlari dan masuk ke kamar mandi.
Berendam dengan air dingin dengan waktu yang cukup lama,berusaha meredam adik kecilnya yang tengah merajuk,menginginkan sesuatu yang tak bisa ia turuti untuk saat ini.
Merasa frustasi,karena adik kecilnya masih terus meronta,sementara tubuhnya sudah mengigil, terpaksa Narend pun melampiaskannya bersama Nona Lux.
Keluar dari dalam kamar mandi,Narend yang hanya mengenakan sehelai handuk untuk menutupi bagian bawahnya di buat ketar ketir,saat mendapati Fero yang tengah duduk manis di tepi ranjang sambil menatapnya liar,bagaimana tidak,pemandangan indah di depan mata tak mungkin bisa di lewatkan,gadis itu menyeringai sambil beranjak lalu mendekatinya.
" Bagaimana,apa tidur mu nyenyak?" tanya Fero.
"Ya, Tentu saja." sahut Narend,sambil bergegas mencari pakaianya di dalam lemari.
" Benarkah?" tanya Fero sambil mengerutkan kening,seolah tak yakin.
Dengan cepat Narend pun mangangguk.
" Tapi aku merasakan jika adik kecil mu terbangun semalaman." ucap Fero sambil terkekeh,rupanya ia juga terjaga sepanjang malam karena tak ingin Narend tinggali.
Membuat Narend salah tingkah,ia tersenyum untuk menyembunyikan rasa malunya.
__ADS_1
" Kau lebih memilih menahannya,padahal aku tau itu sangat menyiksa." tutur Fero,sambil memperhatikan Narend memasangkan pakaian.
" Ya,selama aku belum mengikat mu dengan ikatan pernikahan,sebisa mungkin aku akan menahannya." ujar Narend.
" Kenapa? kenapa kau harus menyiksa diri mu sendiri,padahal aku sudah menyerahkan diri ku." protes Fero.
" Bukannya aku sudah pernah mengatakan alasannya padamu?"
" Ya,tapi kita bisa melakukanya lebih dulu sebelum menikah,kan?" Fero mulai mengeluarkan pendapatnya, yang tidak bisa Narend terima begitu saja.
Pemuda itu langsung menggelengkan kepala,sambil meraup wajah kekasihnya dengan gemas.
" Tubuh mu terlalu berharga,sayang! hanya suami mu yang berhak mendapatkannya."
" Tapi aku hanya ingin melakukannya dengan mu,jika aku menikah dengan orang lain bagaimana?" kukuh Fero,sambil membantu mengancingkan kemeja kekasihnya,membuat Narend bergeming,sekilas ia mengingat kejadian kemarin saat Bayu menawarkan putrinya untuk Joo nikahi.
Bisa jadi, suatu saat nanti hal itu akan terulang lagi.
" Itu tidak akan terjadi,aku akan bernegosiasi pada tuhan,agar dia bersedia menakdirkan kita untuk bersama." ucap Narend,ia lalu mendaratkan kecupan di kening Fero.
" cepatlah mandi,aku akan membuatkan mu sarapan." titahnya,ia lalu keluar dari kamar setelah berpakaian rapi.
Sementara Fero masuk ke dalam kamar mandi,hendak membersihkan diri.
Tak butuh waktu lama,gadis itu sudah selesai membersihkan diri,ia keluar hanya dengan mengenakan jubah mandi dan juga handuk kecil yang melilit di kepalanya.
" Narend,apa tidak ada pakaian untuk ku?" tanya Fero sambil mendaratkan bokongnya di meja makan,memperhatikan punggung tegap kekasihnya yang tengah sibuk menyiapkan sarapan.
Dengan segera Narend menoleh,seketika dadanya kembali sesak,menelan silavinya dengan susah payah.
saat melihat wajah cantik alami sang kekasih tanpa riasan makeup,juga tubuh seksinya yang tampak menggoda, hanya tinggal menarik tali jubah itu sedikit,maka surga dunia terpampang nyata di depan mata.
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca,,jangan lupa like komen dan votenya ya..😊😊