Takdir Cinta miss arogan

Takdir Cinta miss arogan
74.Si kembar pulang kampung


__ADS_3

Selang beberapa hari,semua persiapan untuk keberangkatan Fero ke Negara Arab hampir 100% selesai,tak hanya Kevin dan Salsa, Fero pun memboyong semua pengawal dan pelayan di rumahnya untuk ikut pergi,saking antusiasnya ia bahkan harus menyewa jet pribadi,agar lebih mempermudah keberangkatanya.


Tak hanya menyiapkan barang-barang pribadi,Fero pun nampak antusias mempelajari bahasa Arab,mencari tahu apa yang boleh dan tidak boleh ia lakukan, selama berada di sana.


Sementara di tempat lain,Narend pun berusaha kembali memperbaiki diri,karena tak banyak yang bisa ia lakukan di sana,kecuali mendekatkan diri pada sang pencipta,setiap hari ia mengikuti kajian yang di ajarkan Yusuf,sama seperti para santri lainya,tak ada rasa malu atau yang lainya.Narend sadar sejak dulu ia memang tidak begitu tertarik dalam mempelajari ilmu agama,namun ia lebih unggul dalam ilmu pengetahuan umum lainya.Sebagai orang tua,tentu saja Al tidak pernah banyak menuntut,selama itu baik,orang tua angkatnya itu pasti akan selalu mendukung.


" Bang Narend!" teriak si kembar,saat melihat Narend yang baru keluar dari madrasah, usai belajar.


Pria itu pun menoleh.


" Shafa,Marwah.Kalian di sini?" tanya Narend sedikit terkejut, dengan kedatangan Si kembar yang tiba-tiba.


" Hmmmm,,iya.Bagaimana kabar bang Narend?" tanya Marwah.


" Abang baik,kalian sendiri bagaimana?"


" Kami juga baik." sahut Shafa.


Usai saling menyapa,si kembar mengajak Narend ke sebuah taman,yang masih berada di dalam kawasan pondok,untuk sekedar berbincang,dan mencari tahu tentang sesuatu, yang selama ini membuat kedua gadis itu penasaran.


Narend berdiri santai sambil melipat kedua tanganya di dada,ia tau apa yang akan di lakukan si kembar padanya.Dan benar saja,tanpa banyak berfikir si kembar langsung membahas pada intinya.


" Bagaimana hubungan bang Narend,dengan kak Fero?" tanya Shafa,membuat Narend tersenyum ketir.


" Seperti yang kamu tahu." sahutnya


" Kenapa bang Narend melakukan itu padanya,apa bang Narend tidak mencintainya,abang hanya ingin mempermainnya saja?" tambah Marwah,membuat Narend kembali tersenyum,sambil menggelengkan kepala.


" Kalian masih kecil,tau apa tentang cinta?"balas Narend,membuat kedua gadis itu mendengus kesal.


" Sudah lah,tidak perlu membahas masalah itu." Narend mengusap lembut kepala si kembar,layaknya seorang saudara,setelah itu ia pun pergi,namun langkahnya terhenti setelah mendengar teriakan Marwah.


" Bang Narend!! jika kami anak kecil,lalu abang apa? pria dewasa tidak akan pernah melalukan hal seperti itu,bicarakan baik- baik,jangan jadi pengecut,jangan membuat kak Fero menunggu!!" ucap Marwah dengan lantang,berhasil membuat Narend mematung seketika.Ia menutup mata rapat-rapat seolah berusaha menguatkan perasaanya.

__ADS_1


" Sampaikan padanya,lupa kan aku,dan jangan pernah menunggu ku." ucap Narend,setelah itu ia pun melanjutkan langkah kakinya,pergi tanpa menghiraukan si kembar yang tengah terpaku di tempat,sambil membulatkan mata.Tak menyangka jika mereka akan mendengar kata -kata sadis seperti itu dari Narend.


" Apa aku salah dengar?" lirih Shafa.


" Ku rasa, tidak." sahut Marwah,masih dengan posisi mematung.


Sebagai sesama wanita,si kembar merasa kecewa dengan apa yang Narend ucapkan tadi,namun mereka tetap tidak bisa berbuat apa-apa, sebelum menyetahui alasan mengapa Narend bersikap seperti itu.


Si kembar sudah mengenal Narend sejak kecil,oleh karena itu mereka tahu,Narend tidak akan pernah menyakiti seorang wanita tanpa sebab.


Setelah itu,kedua gadis itu pun memutuskan untuk kembali ke rumahnya,di mana sudah ada Al dan Alvi yang tengah sibuk di dapur untuk menyiapkan makan siang,sambil berbincang ringan di sertai candaan atau godaan yang selalu Al lakukan pada istri tercintanya,saking asyiknya mereka bahkan tak menyadari bahwa kedua anak gadisnya itu sudah berdiri di ambang pintu sambil terus memperhatikanya.


" Mereka selalu seperti itu,ku harap suatu saat nanti, aku juga bisa mendapatkan pasangan yang bisa memperlakukan aku, seperti ayah memperlakukan ibu." bisik Marwah, langsung di setujui Shafa.


" Aku harap juga begitu." sahut Shafa,sambil terus memperhatikan kemesraan orang tuanya,seulas senyum terukir dari bibir mungil keduanya,beruntung mereka terlahir dari keluarga dan lingkungan yang baik,tumbuh dengan penuh cinta dan kasih sayang.


Namun keduanya nampak terkejut,setelah mendengar ucapan yang di lontarkan sang ayah secara tiba-tiba.


" Sayang,kamu tau Roby, kan?" tanya Al,pada Alvi.


" Iya,dia suami dokter Rani,kan?" sahut Alvi.


" Ya,kamu benar."


" Terus,memangnya kenapa? ada dengan Roby?" tanya Alvi,seraya senghampiri,dan ikut duduk di meja makan,setelah menyadari jika suaminya itu akan membicarakan hal yang serius.


" Dia memintaku untuk menjodohkan anaknya dengan Narend."


" Apa!!" si kembar sontak berteriak,


tanpa sadar.saat itu juga dua Al langsung menoleh.


" Heii,,apa yang kalian lakukan di sana!!" ucap Al,seraya melambaikan tangan,meminta si kembar untuk mendekat.

__ADS_1


" Kalian menguping?" tuding Alvi,sambil melayangkan tatapan tajam,membuat si kembar merengek manja pada sang ayah,hal seperti itu memang kerap terjadi,ketika bersama.Tak jarang Al harus menjadi wasit di tengah-tengah istri dan kedua anak gadisnya,terlebih jika ke tiga wanita itu tengah beradu mulut,karena perbedaan pendapat.


" Ayah,apa itu benar?" tanya Shafa.


" Apa?"


" Ayah,akan menjodohkan bang Narend,dengan anaknya paman Roby?" tambah Marwah.


Sebelum Al membuka mulut,Alvi menyela lebih dulu.


" Hari gini,masih jodoh-jodohan?" sindir Alvi,dengan wajah nyinyir khas ibu-ibu komplek.


"Ayah tau, Anak paman Roby kan terkenal di kampung ini." tambah Shafa,sambil mengikuti gaya ibunya.


" Iya,terkenal nakal,sering gonta ganti pacar." Marwah ikut menyahut.


Kini ketiga wanita itu dalam frekuensi yang sama,untuk menentang rencana perjodohan tersebut.


Al hanya bisa menghela nafas pasrah,di saat anak dan istrinya dalam kubu yang sama,ia tak bisa berbuat apa-apa.


" Itu hanya permintaan dari Roby,ayah belum menyetujuinya." Al mencoba membela diri.


" Lagi pula, Narend belum tentu menerimanya." timpal Alvi.


" Ya,itu benar." tambah si kembar.


" Tapi setidaknya kita sudah tau, dia seiman,tidak seperti gadis Jakarta itu." ujar Al,tanpa sadar.Membuat si kembar semakin penasaran.


" Gadis Jakarta? maksud ayah,kak Fero?" tebak Shafa,membuat Al gelagapan,menyesali ucapanya barusan,sementara Alvi hanya bisa diam,seolah tak tau apa - apa.


" Ayah,apa karena itu,bang Narend pergi?" tanya Shafa,sambil menatap serius pada sang ayah.


Setelah lama berfikir,dan melihat tatapan yang di layangkan si kembar tak menyenangkan,seolah ingin menelanya hidup-hidup,Al pun akhirnya menganggukan kepala.

__ADS_1


...****************...


JANGAN LUPA,TINGGALKAN LIKE KOMEN,DAN FOTENYA YA...😊😊


__ADS_2