
Narend berjalan menuju ruang oprasi,dimana Fero tengah di tangani,ia mendaratkan bokongnya di kursi tunggu dengan perasaan kacau,dan tak bisa duduk tenang,air mata kembali menggenang,sekali berkedip kristal bening itu akan meluncur deras tak henti henti.
Setelah beberapa lama menunggu,akhirnya seorang dokter keluar dari ruang tersebut,Narend segera menghampirinya,hendak menanyakan bagaimana kondisi kekasihnya kali ini.
" Oprasinya berjalan lancar,semoga Nona Fero bisa segera siuman,kami akan segera pindahkan dia ke ruang rawat." jelas dokter bersebut.
Narend menghela nafas lega,ia menyeka air matanya,lalu tersenyum.
" Terimakasih,dok!" ucapnya sebelum dokter itu berlalu.
Narend merasa sedikit curiga saat Fero di pindahkan ke ruang rawat inap kelas Vip,yang memiliki tempat tidur king zise serta fasilitas lain layaknya hotel berbintang,yang terletak di lantai paling atas bangunan rumah sakit tersebut.
Ruanganya pun begitu frivasi,tak ada ruangan lain selain kamar yang Fero tempati,anggota keamanan terlihat berjaga di sekitar lokasi.
Namun Narend langsung menepis rasa kecurigaannya,ia sadar bahwa gadis yang berada di hadapanya sekarang adalah nona Fero,tak ada yang tak mungkin baginya,semua orang pasti mengenalnya,maka dari itu pelayanan nya pun tak main main.
Atau mungkin pihak rumah sakit sudah memberi kabar buruk ini pada Tuan Bayu,hingga beliau mengutus para penjaga untuk berjaga di sini.
Lantas kemana dia?
Untuk saat ini,Narend tak peduli dengan rasa penasaran dan pertanyaan yang semakin membuncah dalam benaknya,yang penting adalah kesembuhan kekasihnya yang sampai saat ini masih enggan untuk membuka mata.
Pemuda itu masih setia duduk di samping Fero,sambil menggenggam tangan yang terasa dingin itu.
Sesekali ia mengecup dan menggesek gesekan tangannya agar terasa hangat.
" Bangun,Fero! aku tidak bisa berlama lama melihat mu seperti." lirihnya,dunia seakan terasa runtuh,punggungnya kembali bergetar,isak tangisnya tercekak di tenggorokan.
Tiba tiba saja seorang perawat masuk,sambil membawa sebuah nampan,terdapat beberapa menu makanan di sana,Narend sempat mengeryitkan dahinya saat perawat tersebut menyerahkan nampan itu padanya.
__ADS_1
" Silahkan di makan tuan!" ujarnya dengan sopan,lalu perawat itu membungkukan badan,sebelum melangkah pergi.
" Tunggu dulu." cegah Narend.
" Sejak kapan penunggu pasien mendapat makanan dari rumah sakit?" tanya Narend heran.
" Maaf! saya hanya mengikuti perintah atasan." jawabnya.
" Ah,baiklah! terimakasih." Narend membalikan wajahnya,kembali menatap Fero,arloji yang terpasang di tangannya menunjukan pukul 01.00 dini hari,siapa yang akan makan selarut ini,walaupun perutnya memang keroncongan, namun lidahnya terasa pahit,sepahit takdir hidup yang di jalaninya.
Tuhan seakan mempermainkan hidupnya,sejak kecil ia tak pernah mengenal sosok orang tua,hingga ia harus tinggal dan besar di panti asuhan,tak pernah merasakan hangatnya tinggal bersama keluarga,tak pernah merasakan hangat dan lembutnya dekapan seorang ibu,tak pernah merasakan kokohnya bahu seorang ayah,sebagai anak yang hidup di sebuah panti asuhan memang tak mudah,berebut mainan,berebut makanan dan tempat tidur dengan anak panti lain,bukan hal baru baginya,mendapat mecoohan serta cacian dan gunjingan dari teman sekolah menjadi makanan sehari seharinya,ia bahkan merasa tersisihkan,tak ada seorangpun yang menganggap keberadaanya.
Beruntungnya,ia di pertemukan dengan seorang malaikat tak bersayap,yang mampu memberinya cinta dan kasih sayang yang melimpah,hingga ia tak lagi merasa sendiri.
Setelah tumbuh dewasa,ia tak sempat merasakan indahnya masa remaja,separuh waktunya habis untuk belajar,belajar demi bisa membalas jasa orang tua angkatnya, yang mungkin tak akan bisa terbalaskan sampai kapan pun.
Dan kini saat ia merasakan cinta,perjalanan asmaranya pun tak berjalan lancar,gadis yang di cintainya pun bahkan harus menderita karena kelalaiannya.
Fero mengerjapkan mata,sedikit demi sedikit mata sendunya mulai terbuka,gadis itu menyunggingkan sudut bibirnya saat memastikan orang pertama yang ia lihat adalah Narend.Kekasih hatinya, yang sudah berhasil mencuri seluruh jiwa dan raganya sekali pun.
" Kau sudah sadar?" Narend langsung mendekapnya,lalu menghujani beberapa kecupan di seluruh wajah pucat Fero.
" Kau menangis?" tanya Fero lemas,saat merasakan pipi Narend yang lembab dan sedikit basah,gadis itu pun melihat matanya yang sembab dan hidung memerah.
Narend hanya menggelengkan kepala,seraya mengusap pipinya,ia lalu tersenyum dan kembali memeluknya.
" Jangan banyak bicara dulu,kau harus banyak istirahat." titah Narend.
Gadis itu pun mengangguk patuh,namun tiba tiba mata keningnya mengkerut,saat menyadari keadaan sekitar,ruangan yang ia tempati begitu tak asing di matanya.
__ADS_1
" Aku dimana?" tanya Fero.
" Kau di rumah sakit."
" Rumah sakit mana?"
" Rs KI ( Rumah sakit Kasih Ibu)" sahut Narend,seketika membuat Fero bergeming.
" Astaga." desahnya,ia memalingkan wajah,rasanya ingin marah,namun dalam keadaan seperti ini jangankan untuk marah,untuk bernafas saja ia membutuhkan alat bantu.
" Apa ada masalah?"
" Tidak." sahut Fero cepat.
" Kau tenang saja,tidak usah memikirkan apa apa,aku sendiri yang akan membayar semua biayanya." ucap Narend yang begitu polos membuat Fero ingin sekali terbahak,rasanya Fero ingin sekali memukul otak nya yang terkadang mendadak loading,atau menyentil lambungnya,agar bisa bekerja dengan baik sesuai pungsinya,menyimpan dan mencerna makanan sehat yang di konsumsi,agar nutrisinya bisa sampai ke otak.
Tiba tiba terdengar sebuah ketukan pintu,dan tak lama seorang pria yang dempat Naredn temui sebelumnya muncul dari sana,saat itu juga mata Fero berbinar ia tersenyum lebar,rasanya ingin sekali berhambur untuk memeluknya,namun kondisinya sangat tidak memungkinkan.
" Kakak!!" serunya dengan suara yang masih lemas dan serak.
" Kakak?" Narend melirik Fero dan juga pria tersebut bergantian.
Bukanya Fero anak tunggal? jeritan hatinya semakin tak bisa di pendam.
" Bagaimana kondisi mu,Nona?" tanya pria tersebut sambil mengusap kelapa Fero.
" Baik."
" syukurlah,aku senang mendengarnya,sebaiknya kau istirahat,agar cepat pulih."
__ADS_1
" Iya,kak." Fero mengangguk,dengan senyum yang tak pernah pudar dari bibir manisnya,melihat hal itu membuat Narend seketika bergeming,merasakan dadanya terasa sesak,darahnya seolah mendidih,seolah terdapat banyak bara api yang muncul dalam tubuhnya,hingga mampu membakar hangus hati dan perasaanya.
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA,JGN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTENYA YA..🤗