
Pembicaraan mereka terhenti saat sebuah bel berbunyi,dengan cepat Fero beranjak dan turun dari pangkuan Narend, ia lalu melirik jam yang menempel di dinding,matanya menyipit,merasa heran karena si kembar pulang lebih cepat daripada biasanya.
Karena bel terus saja berdenting tanpa henti,akhirnya Narend beranjak hendak membuka pintu tersebut.
Alangkah terkejutnya, saat ia melihat siapa yang datang,dan ternyata sepasang manusia yang kini tak lagi muda,namun masih tetap nampak segar bugar, dan tentunya usia matangnya tersebut tak sedikit pun mampu memudarkan paras rupawan yang mungkin sudah tercipta secara permanen di wajah keduanya.
" Ayah?" gumam Narend,sedikit terkejut,bagaimana bisa orang yang baru beberapa saat lalu ia bicarakan, kini nampak di depan mata,sementara seseorang yang di panggil ayah hanya terdiam dengan tatapan yang tak bisa di jabarkan,hal itu membuat Narend ketar ketir.
" Hallo,anak muda!apa yang kamu lakukan di sini? bukannya saat ini seharusnya kamu ada di kantor?" tanya Al dengan suara beratnya.
" Ma-maaf ayah,aku...Aku baru saja akan berangkat ke kantor." ujar Narend sedikit gugup,hal itu membuat Al semakin curiga,sepertinya apa yang di bicarakan kedua anak gadisnya semalam memang benar.
Tanpa di minta,Al dan sang istri masuk ke dalam apartemen tersebut,dan saat itu juga mata keduanya langsung tertuju pada seorang gadis yang berdiri tak jauh darinya,untung saja, saat ini Fero tengah mengenakan pakaian si kembar yang tentunya sedikit bisa menutupi bagian tubuhnya,karena semenjak ia bertemu si kembar, Fero tak pernah lagi mengenakan pakaian kurang bahan seperti yang biasa ia pakai.
Al kembali melirik Narend,dengan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun,namun matanya seolah memberi isyarat,tentang pertanyaan yang ada dalam benaknya.
" Ayah,aku akan menjelaskan semua ini." Ucap Narend,yang langsung faham dengan maksud dari tatapan yang di layangkan ayah angkatnya itu.
" Itu yang memang ayah inginkan." balas Al,sambil menganggukan kepala dengan cepat.
Ia lalu mengajak Narend untuk duduk di sofa ruang tamu.Dengan hanya melihat lirikan mata dari sang suami,Alvi langsung mengerti,ibu dua anak itu pun mengangguk seraya berlalu. dan membiarkan suaminya bicara empat mata dengan Narend.
" Ayo,ikut aku!" ajak Alvi,dengan wajah ketus dan dinginnya,membuat gadis angkuh yang kini berada di hadapanya menurut patuh tanpa banyak bicara.
__ADS_1
Sepertinya, sikap arogan dan angkuhnya seorang Fero, tak ada apa apanya lagi, jika di bandingkan dengan wajah kaku yang di tunjukan Alvi sekarang.
Suasana di ruang tengah semakin terasa menegangkan,Al dan Narend duduk dengan saling berhadapan,Ayah dua anak itu masih setia menunggu apa yang akan Narend jelaskan,sementara pemuda di hadapanya terus saja bungkam,seolah tengah merangkai kata yang tepat untuk ia sampaikan,sesekali hanya terdengar lehaan nafas dari keduanya.
" Sampai kapan kamu akan diam seperti ini?" tanya Al,sepertinya ia sudah mulai tak sabar.
" Maaf ayah,aku benar benar bingung harus bicara apa." sahut Narend,sambil menundukan kepala.
"Ayah sudah sedikit tau tentang hubungan kalian." ucap Al,membuat Narend langsung mengangkat kepalanya.kerutan di keningnya nampak begitu jelas.
" Si kembar yang memberitahunya." jelas Al,membuat Narend menghela nafas berat.
" Sudah ku duga." desahnya.
" Aku tau ayah,maafkan aku."
"Maaf,maaf untuk apa?"
" Karena aku sudah membuat ayah kecewa dengan hubungan antara aku dan dia."karena rasa bersalahnya, Narend menundukan kepala semakin dalam.
"Ya,kamu benar.Ayah memang kecewa padamu." gumam Al.
Seketika membuat Narend kembali mengangkat kepalanya,melihat raut kekecewaan yang tergambar jelas dari wajah Al.
__ADS_1
" Maafkan aku ayah,aku memang salah,tapi aku sudah sangat mencintainya." ucap Narend tegas, membuat Al langsung tersenyum,ia lalu beranjak dari tempat duduknya dan kembali mendaratkan bokongnya tepat di samping Narend.
" Mencintai seseorang bukan lah kesalahan, bukanya itu hal yang wajar untuk pria dewasa seperti mu? hanya saja kamu mencintainya dengan cara yang salah,jika kamu benar benar mencintainya,datangi orang tuanya,dan minta lah baik - baik,tunjukan bahwa kamu satu satunya pria yang berhak mendapatkannya,bukannya malah membawanya pergi,dan membiarkannya tinggal dalam satu apartemen seperti ini." seloroh Al membuat Narend tersenyum salah tingkah.
" Apa ayah setuju jika aku menikahinya?" tanya Narend ragu.
" Tentu saja,bukanya kalian saling mencintai,lalu apa yang membuat mu ragu." sahut Al.
" Dia wanita modern,sikapnya masih jauh dari kata baik,aku takut ayah tidak menyukainya." terang Narend membuat Al langsung terpingkal pingkal.
"Kamu sudah tau dia bukan wanita baik baik,lalu kenapa kamu masih tetap mencintainya,lagi pula kamu sendiri yang mau menikahinya,bukan ayah,lalu kenapa kamu masih memikirkan ayah?
Asal kamu tahu,ayah tidak akan pernah melarang mu untuk mencintai siapapun,ayah hanya bisa mendoakan kebaikan untuk mu,apapun keputusan mu ayah akan selalu mendukungnya,selama itu baik dan bisa membuat mu bahagia.
Jika keputusan mu sudah bulat,untuk segara menikahinya,itu berarti kamu harus siap untuk mengubah sikap buruknya.Ingat! menikah bukan lah lolucon,jika kamu menikahinya,itu berarti tugasmu adalah meluruskan besi yang bengkok tanpa harus mematahkannya." wejangan dan nasehat bijak yang di berikan Al sedikit memberi angin segar untuk Narend,sepertinya Restu dari ayah angkatnya itu sudah bisa ia kantongi.
Narend pun mengangguk dengan semangat.
" Terimasih ayah." ucapnya seraya berhambur memeluk Al.
Sementara di dalam kamar,kedua wanita berbeda usia,namun memiliki sipat dan sikap yang hampir sama,masih terus terdiam dengan mefikiran masing masing.
Fero masih terlihat canggung untuk memulai obrolan,sebisa mungkin ia menahan diri agar tak mengeluarkan umpatan yang sudah sejak tadi berkumpul dalam pita suaranya,sesekali ia hanya mampu melirik Alvi dengan ekor matanya,seketika jiwa liar dan arogannya lenyap begitu saja, saat ia melihat wajah kaku dari calon ibu mertuanya itu.
__ADS_1
Sama halnya dengan Alvi,entah kenapa, wajah cantiknya selalu terlihat jutek dan cuek,padahal walaupun begitu dalam hatinya yang paling dalam,Alvi adalah seorang ibu yang hangat dan penuh perhatian,hanya saja ia tak pandai mengutarakannya secara langsung,apalagi pada orang yang baru ia kenal seperti Fero.