Takdir Cinta miss arogan

Takdir Cinta miss arogan
27.Sidang


__ADS_3

Fero baru saja tiba di halaman kampus,memarkirkan kendaraannya di tempat biasa,lalu keluar dari dalam mobil tersebut dengan gaya yang anggun,kaca mata hitamnya di biarkan bertengger di kelapa,semua mata memandang ke arahnya,mengagumi dan memuji dalam diam,bagi kalangan menengah ke bawah yang beruntung mendapat beasiswa di universitas tersebut bisa dekat dengannya adalah hal yang mustahil,bahkan hanya berpapasan atau bicara dengannya saja bisa menjadi suatu kebanggaan dan tak akan terlupakan untuk mereka, namun meskipun begitu, bukan hal mudah pula bagi kalangan atas sekalipun,banyak kaum pria dari kalangan konglomerat atau semacamnya yang berusaha mendekatinya,namun ternyata benteng pertahanan yang di bangun Fero cukup kokoh untuk mereka runtuhkan,hanya Max yang beruntung bisa mendekati dan menjadi kekasihnya,namun sayang ia malah menyia nyiakannya,untung saja hal itu tak membuat Fero kecewa atau patah hati hingga menangis dan larut dalam kesedihan,dia bukan tipe gadis seperti itu,hilang satu tumbuh seribu pribahasa yang selalu berhasil menguatkan hatinya dalam menghadapi masalah asmaranya,terbukti dengan kehadiran Narend dalam hidupnya,tak perlu menunggu waktu lama,kini posisi Max tergantikan dengan pria yang jauh lebih baik,mungkin sekarang Fero benar benar melabuhkan hati pada pria itu,bahkan Fero tak akan membiarkan seseorang mengambil Narend darinya,pria itu terlalu berharga untuk di lepas begitu saja.pria yang kembali memberi warna baru untuknya,bahkan sekarang ia merasa beruntung,mungkin tanpa Max ia tak akan bisa menjalin hubungan dengan Narend,sepertinya Fero perlu berterimakasih pada Max karena berkat kejadian yang menjijikan itu,akhirnya Fero bisa mengakhiri hubungan tanpa di dasari cinta tersebut,hanya saja ia masih sedikit kesal karena merasa telah di bohongi,setelah ia mengeluarkan banyak waktu serta materi demi kekasih sesaatnya itu.


Ya,dulu Fero memang terpaksa menerima Max untuk menjadi kekasihnya,setelah pemuda itu berusaha mendekatinya hingga beberapa semester,karena tak hanya tampan,Max juga sangat keren dan cukup populer di kampusnya,bahkan banyak gadis yang menggilainya,dan hal itu yang membuat Fero merasa cocok,setidaknya tidak ada lagi pria yang berani mendekatinya saat mereka tau jika Fero adalah milik Max.


Fero N Max,seperti mana kendaraan roda dua,para mahasiswa lain sering menamainya seperti itu,mereka menjadi pasangan terpopuler dan sangat serasi,hingga banyak orang mengira jika jalinan kasih mereka akan langgeng hingga ke jenjang yang lebih serius,namun nyatanya hubungan mereka kandas begitu saja akibat penghiatan dan adanya orang ketiga,yang tak lain adalah sahabatnya sendiri, namun lebih pantas jika di sebut sebagai musuh dalam selimut.


" Fero!!" teriak seseorang dari belakang,saat gadis itu hendak masuk ke kelas,Fero menghentikan langkahnya lalu memutar tubuh menghadap pada seorang gadis yang tengah berlari kecil untuk menghampirinya.


" Ada perlu apa?" tanya Fero sinis pada gadis yang sudah lama tak pernah menunjukan batang hidungnya atau pun mengubuhunginya, semenjak ia mengetahui hubungan Max dan juga Salsa.


" Kau kemana saja,belakangan ini aku mencarimu di sini?" tanya Jen seolah khawatir,namun pertanyaan yang ia lontarkan itu membuat Fero tergelak.


"Untuk apa mencariku?memangnya berapa uang yang kau butuhkan?"Fero langsung menebak apa yang memang Jen inginkan,nampaknya ia memang sudah faham betul watak dari orang orang yang pernah ia sebut sebagai sahabat.

__ADS_1


Jen nampak gelagapan dan tak enak hati,melihat Fero yang lain dari biasanya,lebih dingin meskipun saat berhadapan dengannya,menyadari dirinya memang tak begitu tulus dan hanya ingin memanfaatkan kekayaan Fero saja.


" Aku menyesal sudah menganggap mu sahabat,ternyata kau tak ada bedanya dengan seekor semut yang tengah mengerubungi gula." ujar Fero santai namun menusuk.


" Maaf,Fero! salama ini aku sedang ada masalah keluarga,jadi aku tak bisa menemuimu dan menemani mu,aku tau aku memang tak pernah ada saat kau membutuhkan ku,tapi percayalah,selama kau tak ada di kampus ini aku sangat menghawatirkan mu,terlebih saat aku tau masalah mu dengan Max dan juga Salsa." jelas Jen berusaha meyakinkan,tanpa menyadari jika gadis di hapadannya memiliki IQ di atas rata rata,yang pastinya tak akan bisa di bodohi begitu saja dengan ucapan yang tak masuk akal.


" Apa kau masih memiliki nomor ponsel ku?" tanya Fero yang lansung di angguki Jen.


" Itu karena...." Jen berhenti sesaat, memikirkan jawaban yang tepat.


"Ah iya,aku tau kau pasti tak memiliki pulsa." Fero menyelanya masih dengan gaya yang anggun.


" Tapi ku rasa rumah ku masih berada di lokasi yang dulu,kau pernah ke sana kan sebelumnya?jika kau memang benar benar khawatir kau bisa mendatangiku ke rumah." tambah Fero,membuat Jen semakin terpojok,gadis itu tak bisa menjawab atau berbuat apa apa lagi.

__ADS_1


" Ah!! sudahlah aku sedang sibuk,aku tidak punya waktu untuk menunggu jawaban mu." ujar Fero amabil mengeluarkan ponsel dalam tasnya.


" Nomer rekening mu masih sama kan? aku akan mensedekahkan sebagian harta ku,seorang pengemis memang berhak mendapatkannya." ujar Fero sambil mengetikan sesuatu di ponselnya,setelah selesai iapun pergi,melanjutkan langkah kakinya,tanpa ingin melihat Jen terlebih dulu.Rasanya ia sudah terlalu muak berhadapan dengan manusia semacam itu.


Sementara Jen terpaku di tempat,sambil menatap layar ponselnya yang menunjukan beberapa angka,antara kesal dan ingin marah,namun tak kuasa karena bagaimana pun ia memang memerlukan uang tersebut.


Sebelum jam kuliah di mulai,Fero menyampatkan diri untuk menghubungi sang kekasih,yang telah berhasil mengambil hati dan fikirannya siang dan malam.


" Aku sudah di kampus,kau sudah berjanji untuk menemui ku di sini." Pesan terkirim.


" Iya,aku akan memenuimu setelah kau pulang,belajarlah dengan baik,dan tetap fokus,aku yakin kau pasti bisa menjalani sidang akhir mu dengan baik." Tak lama Narend membalasnya,pria itu begitu perhatian sampai ia mengetahui apa yang akan di lakukan Fero saat ini,bahkan tanpa ada yang memberitahunya,hal itu membuat Fero tersenyum lebar,balasan Narend seolah menjadi minuman berenergi yang mampu meningkatkan staminanya.


Saat ini Fero tengah mengalami masa masa yang paling menegangkan,sidang akhir sebelum wisuda,kini ia tengah mempresentasikan hasil tugas akhir,dan berhadapan dengan beberapa dosen yang membantainya habis habisan dengan beberapa pertanyaan yang menakjubkan,dan untungnya,otak cerdasnya bekerja keras dengan sangat baik,hingga tak membutuhkan waktu lama ia berhasil menyelesaikan tugas akhirnya dengan mudah dan memuaskan.

__ADS_1


__ADS_2