
Sesuai perintah dari Robin yang kini sudah berhasil membawa Fero pergi,para dokter dan juga perawat langsung membawa Narend ke ruang UGD untuk memeriksa kondisinya yang kini tampak mengenaskan dengan banyak luka di sekujur tubuhnya,terlebih pada bagian kepala.
Setelah beberapa lama berada di dalam ruang UGD,para dokter dan perawat sudah berusaha untuk menanganinya dengan baik,beberapa cara sudah di lakukan,bahkan dokter sudah memberinya berbagai rangsangan untuk membuatnya tersadar,namun hasilnya tetap nihil,tubuh Narend sama sekali tak merespon,detak jantungnya semakin melambat,denyut nadinya pun melemah,Hingga dokter menyatakan jika Narend dalam kondisi koma.
Ia lalu dipindahkan ke ruang ICU, dengan berbagai alat medis yang terpasang di seluruh tubuhnya.
Sementara Robin dan beberapa anak buahnya sudah sampai di salah satu villa mewah miliknya,yang terletak di sebuah pulau terpencil,pria itu segera membawa Fero ke dalam kamar,lalu menguncinya dari luar,gadis itu masih nampak tak sadarkan diri karena obat bius yang sengaja dokter berikan melampaui dosis yang di perlukan.
Hingga keesokan harinya,efek obat bius sudah hilang,Fero pun mulai tersadar,matanya mengerjap ketika sorot matahari yang mulai nampak dari permukaan laut menerpa wajah cantiknya.
Setelah di rasa jika nyawanya sudah terkumpul sempurna,gadis itu pun terbangun,bola matanya memutar menyusuri setiap sudut kamar yang nampak asing di matanya.ia lalu beranjak dan mulai menapakan kaki telanjangnya di atas lantai marmer yang dingin.Kakinya melangkah menuju sebuah jendela kaca yang terpasang teralis,tanganya bergerak hendak menyibak tirai gorden,seketika matanya melebar,saat netranya menatap lautan lepas di depan matanya.
Ya,villa tersebut memang terletak di bibir pantai yang masih asri,sama sekali belum tersentuh tangan manusia,bahkan untuk bisa sampai di sana Robin dan para anak buahnya memakai kapal pribadi dengan mengabiskan waktu sekitar 8 jam lewat jalur laut.
" Aku dimana?" gumamnya,ia langsung berlari menuju pintu keluar,namun pintu tersebut malah terkunci dari luar.
" Buka,tolong buka pintunya." teriaknyAa,sambil terus menggedor keras pintu tersebut,tidak lama pintu itu pun terbuka,nampak seorang pelayan laki laki datang dengan membawa sebuah nampan berisi beberapa makanan di tangannya.
" Silahkan di makan, Nona!" ujarnya ramah,seraya meletakan nampan tersebut di atas meja.
" Siapa kau?" tanya Fero panik, sambil mengambil ancang ancang untuk mundur seolah menghindar.
" Nama ku Ray,Tuan Robin menyuruhku untuk menjaga dan menemani anda di sini." jawab pelayan tersebut.
" Kak Robin?" tanya Fero mamastikan.
" Benar,Nona!"
Fero mengela nafas lega,saat mendengar nama tersebut,ia yakin apa yang di lakukan kakak angkatnya itu adalah yang terbaik untuknya.
" Baiklah,Lalu di mana dia?" tanya nya lagi.
__ADS_1
" Tuan Robin sedang ada urusan,saya akan memberitahunya jika anda sudah bangun,sekarang anda makan dulu,jangan lupa minum obatnya juga." jelas pelayan itu,dengan cepat Fero mengangguk.
" Saya permisi,nona! jika anda butuh sesuatu panggil saya saja." ucapnya sebelum pergi,lagi lagi Fero mengangguk dan membiarkan pelayan itu pergi.
Gadis itu lalu beralih menatap makanan makanan yang terhidang di atas meja,nampak sangat menggiurkan hingga ia tak mampu menahan air liurnya.
Dengan cepat gadis itu memakannya dan melahapnya hingga tandas.
Setelah itu,ia kembali beranjak dan berjalan menuju ke luar meninggalkan kamar tersebut,keningnya sedikit mengkerut setelah menyadari kehadiran beberapa orang pria bertubuh besar dan kekar berpakaian serba hitam nampak berjaga di sana.
Fero tak memperdulikan mereka,keberadaan orang orang tersebut bukan hal aneh untuknya.
Hingga ia pun kembali melanjutkan langkah kakinya,berjalan menuju luar beranda rumah,ia berdiri di depan beranda villa tersebut yang langsung menghadap ke bibir pantai,sambil bertumpu tangan di pagar pembatas,ia tersenyum, sudut bibirnya terangkat sempurna saat melihat pemandangan laut yang nampak indah memanjakan mata.
" Kak Robin memang selalu tau apa yang aku inginkan." gumamnya.
Deburan ombak silih berganti menyapanya,hamparan pasir putih berpadu dengan birunya air laut, ia lalu memejamkan mata menikmati henbusan angin sepoi sepoi yang menerpa wajahnya hingga mampu menenangkan jiwanya,gadis itu sempat sempatnya membayangkan sesuatu yang romantis yang bisa ia lakukan di sana bersama sang kekasih.
Lama berdiri di sana,tiba tiba netranya tertuju pada sesuatu yang menarik perhatiannya, dari jauh sebuah kapal boat melaju dan perlahan mulai menepi di tepi pantai,gadis itu memicingkan mata,menajamkan penglihatannya,tidak lama seorang pria tampan dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya keluar dari kapal tersebut.
Saat itu juga Fero langsung berlari ke arahnya dengan senyum yang terus mengembang serta mata berbinar.
" Kakak!!" pekiknya yang langsung menambrakan diri ke tubuh tegap milik Robin.
Pria itu tersenyum dan membalas pelukannya.
" Kondisi mu belum sepenuhnya membaik,kenapa kau keluar?" ujar Robin dengan posesif.
" Aku sudah lebih baik." serunya dengan antusias,ia lalu melirik ke arah belakang Robin,di mana terdapat beberapa pria lain yang tak di kenalinya,sorot matanya menyapu satu persatu pria tersebut, mencari seseorang yang sudah ia rindukan sejak tadi,namun nihil matanya tak menemukan keberadaan pria tersebut di sana.
" Dimana Narend?" tanyanya.
__ADS_1
" Dia tidak ada di sini." jawab Robin dengan wajah yang mulai dingin,ia lalu mengajak Fero untuk kembali ke villa.
" Lalu dimana dia,kenapa tidak ikut ke sini?" seloroh Fero dengan raut wajah yang mulai berubah.
" Dia punya kesibukan lain,tidak mungkin bisa menemanimu setiap hari."
" Tapi,kak! kita ada dimana,apa Narend tau aku di sini,kapan dia akan mengunjungi ku di sini?" Fero langsung menghujani Robin dengan rentetan pertanyaan yang sulit untuk di jawab.
Pria itu malah terus berjalan menaiki anak tangga menuju lantai dua dimana kamarnya berada,tanpa menghiraukan teriakan Fero yang masih di bawah.
" Kak! jawab aku,kapan dia akan ke sini!!" teriaknya,namun sepertinya Robin tak lagi mendengarnya.
Tak hanya sampai di situ,gadis itu kini beralih menatap para pria kaku yang masih berada di sana,menatung tanpa ekpresi.
" Pinjamkan aku ponsel!!" ucapnya sambil mengadahkan tanganya.
" Maaf,Nona! di tempat ini belum ada jaringan." ucap salah satu pengawal itu.
" Apa?" mata Fero melotot.
" Aku tidak percaya,berikan ponsel mu sekarang!!" teriak Fero lagi,sambil melayangkan tatapan tajamnya.
Pengawal itu pun terpaksa menyerahkan ponselnya, Fero menyambarnya dengan kasar.
Ternyata benar,sama sekali tidak ada signal ponsel di setiap titik dimana pun Fero berada,walau ia sudah berusaha berpindah tempat dari satu tempat ke tempat lain,namun hasilnya tetap sama.
" Tak berguna!!" bentak Fero sambil melempar ponsel tersebut hingga hancur,pengawal pemilik ponsel tersebut seketika melebarkan mata,melihat nasib ponsel yang baru ia cicil sebulan yang lalu,kini sudah menjadi barang rongsokan tak berharga.
" Beritahu aku, dimana aku sekarang?" tutur Fero dengan tegas sambil mencengkram kerah pengawal itu,namun pengawal itu hanya diam tanpa mau membuka suara sedikit pun.
" Kurang ajar!! apa yang kalian inginkan? Kakak!!jelaskan ini semua, kenapa kau melakukan ini padaku!!" Fero menjerit hingga urat urat lehernya timbul dengan jelas,ia marah besar membanting semua barang yang ada di hadapannya hingga hancur,dengan segera para pengawal membawanya masuk ke dalam kamar dan kembali mengurungnya dari luar.
__ADS_1
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA, JGN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTENYA YA..😊😊