Takdir Cinta miss arogan

Takdir Cinta miss arogan
25.Kembali ke apartemen.


__ADS_3

" Saya permisi tuan,Nyonya." Tanpa menunggu jawaban atau izin dari Bayu,Narend membungkukan badannya sedikit,memberi salam sebelum ia mundur beberapa langkah,kemudian pergi meninggalkan mereka semua yang berada di sana,dengan cepat Fero menyusulnya tanpa menghiraukan teriakan Bayu dan juga ibu tirinya.


" Narend,tunggu!" teriaknya,saat mereka sudah sampai di halaman depan rumah mewah tersebut.


Pria itu menghentikan langkahnya,saat Fero mendekapnya dari belakang.


" Kau serius akan meninggalkan ku?" Fero mulai terisak,air matanya menetes membasahi punggung Narend,dengan cepat Narend membalikan tubuhnya menghadap Fero,lalu tersenyum sambil menyeka air mata yang menetes di pipinya.


" Aku tidak meninggalkan mu,hanya saja kita tidak akan sering bertemu seperti dulu,tapi masih ada banyak cara untuk kita saling berkomunikasi,kita bisa telpon atau video call sepanjang hari." ucap Narend berusaha menghiburnya.


" Lalu bagaimana jika aku ingin memeluk atau mencium mu?" tanya Fero tanpa segan,membuat Narend terkekeh sambil menggelengkan kepala.


"Tahan dulu,kau Jangan nakal,dan ingat aku tidak suka wanita yang suka bermain di klub,ku mohon jadilah wanita yang baik,jaga dirimu baik baik demi aku,demi cintaku,dan aku janji akan secepatnya membawa mu pergi dari sini dan menjadikan mu sebagai ratu di hidup ku." ucap Narend,Fero nampak membuka mulutnya hendak berbicara namun tiba tiba beberapa pengawal menghampirinya dan menarik tubuh mereka,memisahkanya dengan paksa,membuat Narend murka,ia tak terima saat melihat Para pengawal tersebut menyentuh Fero dan menyakitinya.


" Lepaskan dia!" teriaknya sambil berusaha melepaskan diri dari para pengawal yang tengah memeganginya.


Buuggg...buggg..


Beberapa tinjuan ia layangkan pada pengawal itu,hingga mereka tersungkur,lalu iapun menghampiri Fero yang tengah meronta dalam dekapan seorang pengawal.


Tak menunggu lama ia pun langsung memberi kepalan tangannya tepat di pipi pengawal itu.


"Kalian tidak perlu melakukan ini." ujarnya,kemudian menarik tubuh Fero lalu menyuruhnya untuk segera masuk ke dalam rumah,sementara ia pergi keluar dari gerbang yang menjulang tinggi,meninggalkan rumah mewah tersebut dengan berat hati.


Sambil menunggu taksi yang ia pesan,pria itu melirik kembali ke belakang,mendongakan kepalanya menatap jendela kamar yang berada di lantai dua rumah tersebut,kamar yang menjadi saksi bisu kebersamaannya bersama Fero,tanpa di duga ternyata gadis itu pun telah berdiri di balkon kamarnya, tersenyum hangat mengiringi kepergiaanya,nampak ia tengah mengetikan sesuatu di ponselnya hingga tak lama ponsel Narend pun bedenting.


'Demi cinta ku,aku akan berusaha menjadi wanita baik baik sesuai yang kau inginkan,agar aku menjadi wanita yang layak untuk menjadi ratu mu,ku tunggu janji mu.' isi pesan yang di kirimkan Fero untuk Narend,pria itu tersenyum sambil melambaikan tangannya,tak sempat untuk membalas karena taksi yang di pesannya sudah tiba.

__ADS_1


' Tidak perlu khawatir,aku adalah laki laki sejati yang tak pernah memungkiri janjinya,asal kau mau berjanji pada ku,untuk bisa menjaga dirimu baik baik,tinggalkan kebiasakan buruk mu sedikit demi sedikit,bukan hanya demi aku,tapi juga demi kebaika mu.' Narend menyempatkan membalas pesannya setelah ia berada di dalam taksi yang sudah melaju jauh meninggalkan tempat itu.


' Baiklah,aku janji.' tak lama Fero membalas.


' Bagus,sekarang Tidurlah,ini sudah malam.


' Tapi aku masih merindukan mu,masih banyak yang ingin aku bicarakan.' balas Fero.


'besok aku akan menemui mu di kampus.' balas Narend lagi.


' Ya sudah kalau begitu,aku tunggu di kampus besok.'


Setelah mengirim pesan terakhirnya,ia masuk ke dalam kamar,lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur,padahal menuruti perintah seseorang bukan hal biasa untuknya,bahkan tak ada satu orangpun yang berani memerintahnya,dan kini ia bisa takluk dan tunduk hanya pada seorang mantan pengawalnya,memang sulit di percaya,cinta memang aneh,dan tak masuk akal,namun bisa membuat orang lupa daratan,hingga ia asyik tenggelam dalam lautan asmara.


Sementara di tempat lain,Narend tengah memejamkan mata,sambil menyenderkan punggungnya,menunggu taksi yang ia tumpangi tiba di tempat tujuan,matanya memang tertutup,namun hati dan fikirannya masih bekerja keras mengingat wanita yang telah berhasil memenuhi ruang kosong di hidupnya siang dan malam.


" Kau bahkan tak membiarkan ku hidup dengan tenang." gumamnya,sedikit menyunggingkan sudut bibirnya,lalu ia kembali membuka mata memastikan jalanan sekelilingnya.


Setelah membayar argo,ia pun mulai melangkahkan kaki memasuki bangunan tersebut,menuju lantai 10 di mana kamarnya berada,hingga tak menunggu lama ia sudah sampai di apartemen miliknya yang sudah beberapa bulan tak berpenghuni,hunian kelas menengah yang tak terlalu mewah,hanya memiliki satu kamar tidur, dua kamar mandi yang terletak di luar dan di dalam kamar,dapur dan juga ruang tamu,sesuai dengan kebutuhan seorang pria single,dengan cat dinding yang dominan berwarna hitam dan putih serta desain interior yang menunjukan kepribadian pemiliknya cool and calm,Apartemen tersebut satu satunya harta hasil jerih payahnya selama bekerja di perusahan milik Al orang tua angkatnya, dan kini iapun memutuskan untuk kembali bekerja di sana berharap mereka masih akan menerimanya dengan baik.


Pria itu menghempaskan nafasnya bersamaan dengan hempasan tubuhnya di sebuah sofa,melirik arloji di pergelangan tangannya yang telah menunjukan pukul 11 malam,tubuhnya terasa lelah,hingga perlahan ia mulai memejamkan matanya di sana.


Pria itu terbangun setelah mendengar bunyi dering di ponselnya,masih dengan mata tertutup Narend meraih ponsel yang masih berada dalam saku jaketnya,lalu langsung menggeser tombol hijau tanpa memastikan siapa di balik sambungan telpon tersebut.


" Iya,Hallo!" sapanya dengan suara serak khas bangun tidur,membuat seorang gadis yang mendengarnya di balik sambungan telepon tertawa gemas,baginya suara itu tak kalah merdu dengan suara apapun di dunia ini,hingga terasa begitu menyejukan hatinya,suara yang selalu ia rindukan setiap saat,suara yang sudah menjadi candunya.


" Kau dimana?" tanya Fero.

__ADS_1


"Masih di kamar,Nona!" sahutnya tanpa membuka mata,membuat Fero kembali tertawa.


" Dasar bodoh!" umpat Fero dengan gelak tawanya yang khas,membuat Narend mengerutkan keningnya,lalu ia mulai membuka matanya sedikit demi sedikit dan baru tersadar setelah seperkian detik.


"Ahh,,maaf aku baru bangun tidur." balas Narend sambil terkekeh,ia mengucek matanya,lalu mulai mengangkat tubuh untuk duduk.


" Kau tidur dimana?" tanya Fero.


" Di apartemen."


" Apartemen siapa?" tanya Fero penasaran.


" Apartemen ku." sahut Narend.


" dimana? aku akan ke sana sakarang."ucap Fero antusias,yang sudah siap untuk pergi.Narend menyunggingkan sudut bibirnya lalu menggelengkan kepala.


" Memangnya mau apa?"godanya.


" Aku merindukan mu,memangnya kau tidak merindukan ku." rengek Fero dengan manja.


" Aku juga merindukan mu,tapi kita bertemu di luar saja,aku tidak ingin terjadi sesuatu yang di inginkan, jika kita hanya berdua saja." ucap Narend.


" Kalau begitu kita bertemu di hotel." ajak Fero,dan lagi lagi Narend menggelengkan kepala.


" Jangan nakal." ucapnya dengan tegas.


" Baik lah,baik lah tuan,maaf aku bercanda." balas Fero yang lagi lagi ia di buat tunduk oleh pria itu,dan kembali ke mode manjanya.

__ADS_1


" Baik lah Nona! aku mandi dulu,kamu jangan lupa sarapan." ia lalu mematikan ponselnya setelah mendapat jawaban Iya dari Fero.


JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKE VOTE DAN KOMEN..


__ADS_2