Takdir Cinta miss arogan

Takdir Cinta miss arogan
61.Rencana lamaran


__ADS_3

Setelah beberapa lama akhirnya Fero dapat bernafas lega,suasana canggung di antara Fero dan Alvi berakhir setelah kedatangan si kembar,kedua gadis itu langsung berhambur,saling berebut untuk bisa lebih dulu mendapat pelukan dari sang ibu yang sudah sekian lama tak bertemu.


Setelah sebelumnya mereka melakukan hal yang sama pada sang ayah.


" Ibu,Aku senang ibu bisa datang kesini." seru Shafa seraya memeluk sang ibu dari samping kirinya.


Sementara Marwah memeluknya dari sisi kanan.


"Tentu saja,karena ibu akan selalu ada di mana pun ayah kalian berada,dan ibu akan ikut kemana pun dia pergi." tegas Alvi,membuat kedua anak gadisnya itu terkekeh.


" Kerja yang bagus bu,jangan sampai ada wanita lain yang mendekati ayah." tambah Marwah.


" Kalian tenang saja,itu tidak akan pernah terjadi." balas Alvi lagi.


" Ibu memang yang terbaik." seru Shafa lagi


Tanpa mereka sadari,kebersamaan di antara ibu dan anak itu tak luput dari perhatian Fero,gadis itu tersenyum dalam diam,tanpa terasa pipinya mulai terasa hangat,matanya mulai berembun, dan tak menunggu lama air mata pun mengalir deras membasahi pipinya


Menyadari hal itu,Marwah langsung melepaskan pelukannya lalu mengayunkan kakinya hendak mendekati Fero.


" Kenapa kak Diana menangis?" tanya nya,dengan cepat Fero pun menggelengkan kepala,seraya mengusap pipinya.


" Aku tidak apa apa." tukasnya.


" Hmmmm,,,kalau boleh tau Apa saja yang sudah kalian bicarakan?" goda Shafa ,membuat Fero dan Alvi saling pandang,merasa salah tingkah.


" Aku jadi penasaran,bagaimana calon nenantu dan mertua memulai obrolan untuk yang pertama kalinya." goda Shafa.


" Menantu dan mertua?" tanya Alvi dan Fero secara bersamaan,dengan wajah yang sama sama bingung.


"Iya,apa kalian tidak tau? ayah dan bang Narend sedang membicarakan rencana lamaran untuk kak Diana." jelas Shafa,membuat Fero semakin tercengang.


Sementara Alvi langsung tersenyum,ia lalu bergegas ke luar untuk menemui Narend dan suaminya.


Setelah Alvi pergi,Fero langsung menarik tangan si dan membawanya untuk duduk di tempat tidur,wajahnya terlihat lebih tenang dari sebelumnya, sesekali terdengar helaan nafas lega seraya menyeka keringat yang yang keluar dari kening dan lehernya.


" Ibu kalian menakutkan,aku sampai tidak bisa bernafas saat berada satu ruangan dengannya." terang Fero tanpa ragu.


" Memangnya kenapa? ibu ku sangat baik." protes Shafa.


" wajahnya memang begitu,tapi tetep cantik kan?" ujar Marwah,yang langsung di setujui Fero,tanpa di pungkiri ia pun memang mengakui kecantikan Alvi di usianya sekarang.

__ADS_1


" Ya,ibu kalian sangat cantik,seandainya ibu ku masih ada,dia juga pasti akan secantik itu." lirih Fero,dengan mata yang mulai berubah sendu.


Menyadari perubahan sikapnya itu,si kembar langsung berusaha menenangkannya, dengan mengusap lembut punggungnya.


" Mulai sekarang ibu ku juga ibu mu,jadi kak Diana tidak perlu bersedih." ujar Shafa seraya menggenggam tangan Fero.


Gadis itu langsung menatap si kembar secara bergantian,terlihat jelas wajah tulus dari keduanya,ketulusan yang terlihat dari mereka nyaris sama dengan apa yang Fero lihat dari Narend.


Fero pun mulai yakin jika Alvi yang terlihat sombong itu,pasti memiliki sisi baik.


" Terimakasih." lirihnya, dengan mata yang kembali berkabut.


Tiba tiba saja Narend masuk ke dalam kamar tersebut ,melihat kekasihnya menangis,ia langsung melayangkan tatapan tajam pada si kembar.


" Apa yang sudah kalian lakukan?" tanya nya,dengan cepat si kembar pun menggelengkan kepala,namun Narend tak dapat percaya begitu saja,setelah mengingat kelakuan si kembar yang telah berani membocorkan rahasia tentang hubungannya pada sang ayah.


" Dasar bocah nakal." sungutnya,sambil menyentil kening si kembar secara bergantian,Hingga keduanya meringis kesakitan.


" Kenapa marah,harusnya bang Narend berterimakasih pada kami,seandainya ayah tidak tahu,kalian tidak akan mungkin menikah secepat ini." seloroh Shafa,seketika membuat Narend tersenyum cerah.


" Itu benar.Ahh,,kalian memang yang terbaik." ujar Narend,ia lalu mengulurkan tangannya hendak mengusap kepala ke dua adik kembarnya itu dengan penuh kasih sayang.


"Pergilah! Ibu meminta kalian untuk membantunya di dapur." Narend terpaksa harus berdusta,demi mendapatkan waktu berdua bersama Fero.


Dengan wajah yang nampak berseri,Narend mendaratkan bokongnya di sebelah Fero,entah apa yang kini tengah menyerang benaknya,rasanya sulit untuk di jelaskan,jantungnya berdebar lebih kencang, perasaan senang dan khawatir bercampur jadi satu.


"Apakah yang di ucapkan si kembar tadi itu benar?" tanya Fero,seraya menatap Narend dengan lekat.


" Ya ,itu benar." jawab Narend,sambil membalas tatapannya.


" Kau yakin akan melamar ku?"


" Ya,tentu saja,bukannya ini yang kita mau?"


" Lalu orang tua mu,apa mereka sudah menerima ku?"


" Ya,kamu tenang saja,mereka akan selalu mendukung keputusan ku."


" Apa kau tidak akan menyesal?"


" Tidak,aku tidak pernah menyesali keputusan yang sudah aku ambil." sahut Narend dengan yakin,membuat Fero kembali menitikan air mata.

__ADS_1


Gadis itu langsung berhambur,mendekap tubuh sang kekasih dengan sangat erat.


"Terimasih,aku sangat mencintai mu,aku janji setelah kita menikah nanti,aku akan menjadi istri yang baik untuk mu." ucap Fero,dengan antusias,membuat Narend tak bisa lagi menahan diri untuk membalas pelukannya,pria itu pun melingkarkan tangannya di punggung Fero,dan tak hanya itu,ia memberikan bonus berupa kecupan singkat di bibir ranum milik kekasihnya itu.


" Bersiaplah,setelah kita makan siang,aku akan membawa mu pulang,ayah mu juga pasti sudah sangat merindukan mu." ujar Narend,seketika membuat Fero mematung di tempat,wajah bahagianya berubah menjadi wajah penuh dendam,rahangnya nampak mengeras,serta mata yang melebar dengan sempurna.


" Kau akan membawa ku pulang ke rumah itu lagi? tidak! aku tidak mau,apa kau tidak ingat saat orang itu mengusir ku ? apa kau tidak ingat saat orang itu memperlakukan ku,dan membuangku seperti seekor anak kucing yang tak berharga,dan apa kau tidak ingat saat dia berkata jika aku bukan anaknya lagi? tidak! sampai kapan pun aku tidak akan sudi menginjakan kaki ku di rumah itu lagi !" teriak Fero,berhasil mengagetkan semua orang yang berada di sana,hingga dengan cepat dua Al serta kedua anak kembarnya pun langsung menghampiri.


" Ada apa? apa yang terjadi?" tanya Al.


" Ayah,dia masih belum mau pulang." jawab Narend,matanya seolah berkata jika ia tengah membutuhkan bantuan untuk menjinakan kembali singa betinanya.


Al menghela nafas dalam dalam,menyiapkan diri sebelum menghadapi singa betina yang sedang dalam mode marah.


" Duduk lah! tenangkan diri mu." titah Al,melihat sikap canggung yang di tunjukan sang suami,Alvi pun mulai bergerak,ia mengusap punggung Fero dan membawanya untuk kembali duduk.


Setelah mendapat sedikit perlakuan lembut dari Alvi,amarahnya seketika meluap,gadis itu menundukan kepala dan mulai terisak.


" Tuan,Nyonya! terimakasih karena kalian sudah mau menerima ku, aku tau kalian sangat baik, aku mohon izinkan aku untuk tetap di sini,aku janji aku tidak akan membawa dampak buruk untuk anak anak kalian,aku akan berusaha untuk menjadi gadis yang baik." lirih Fero,dan untuk yang pertama kalinya ia memohon pada seseorang.


" Dengar Nak! kami tau kamu gadis yang baik,maka dari itu kami merestui hubungan kalian,tapi bukannya kamu juga masih punya ayah? jadi lebih baik kamu pulang dulu,minta maaflah pada ayah mu,dan jangan lupa untuk meminta restu padanya,setelah kamu mendapatkan restu ,kami akan segera datang untuk melamar mu."


" Tapi dia sudah tidak menganggap ku anak lagi?" balas Fero.


" Tapi kamu masih menganggapnya ayah 'kan? dengarkan aku,baik buruknya dia tetap lah ayah mu,kamu wajib menghargai dan menghormatinya,temui lah dulu,aku yakin cepat atau lambat ayah mu akan menerima mu kembali." ucap Alvi,sepertinya ia sudah banyak tau tentang Fero,karena Narend sempat menceritakan semua masalahnya pada sang ayah tadi.


" Tapi bagaimana jika dia masih tidak mau menerima ku?dan tidak merestui hubungan ku dengan Narend,apa kalian akan membatalkan lamaranya?" tanya Fero lagi.


" Tenang saja,kami tidak akan tinggal diam,kami akan membantu mu,aku yakin jika memang kalian berjodoh,tuhan pasti akan memudahkan semuanya.


Setelah mendengar nasihat dari Alvi,Fero pun semakin luluh,tak menunggu lama gadis itu menganggukan kepala.


" Tapi,sebelum aku pulang,apa boleh aku meminta 1 permintaan." ujar Fero penuh harap.


" Tentu,bicaralah apa yang kamu."


"Tolong berikan aku pelukan yang hangat,sama seperti saat anda memeluk si kembar." lirih Fero,membuat suasana menjadi haru,bahkan Narend sempat berkaca kaca saat mendengar permintaan sederhana yang di lontarkan dari mulut Fero,bagaimana tidak,gadis itu sudah terlahir dari keluarga kaya raya,apa yang dia inginkan pasti terwujud,namun entahlah, bagaimana bisa gadis hanya meminta sebuah pelukan?


Tanpa berfikir panjang,Alvi pun mendekat Fero sesuai yang di inginkannya,dsn tak hanya itu,ia pun memberikan kecupan di kepala dan keningnya.


" Jangan kan pelukan,jika mau mulai sekarang kamu bisa memanggil ku ibu,sama seperti si kembar." ucap Alvi,membuat Fero semakin terisak,ia kembali memeluk Alvi, dan menenggelam wajah di bahu nya.

__ADS_1


Dan mulai saat itu Fero sadar bahwa ketulusan tak dapat di beli dengan seluruh harta kekayaan yang ia miliki sekalipun.


GUYS,,TERIMAKASIH KARNA SUDAH SETIA MENUNGGU KELANJUTAN CERITANYA.JGN LUPA KASIH DUKUNGAN JUGA DENGAN MEMBERIKAN LIKE KOMEN DAN VOTE,AGAR THOR BISA LEBIH SEMANGAT LAGI..😁😁


__ADS_2