Takdir Cinta miss arogan

Takdir Cinta miss arogan
66.Bocah tengil


__ADS_3

"Aku jadi penasaran,gadis bodoh mana yang mau dengan mu?" ejek Fero.seketika membuat Kevin protes dan tak terima.


" Jaga bicara mu,Nona! istri ku adalah wanita terbaik dan tercantik yang pernah aku temui di muka bumi ini."


" Bahkan kau tidak ada apa apanya." tambah Kevin,seraya melirik Fero dari atas ke bawah,membuat gadis itu mendengus kesal,lalu akhirnya Fero pun mengalah dan mengakhiri obrolan tersebut,Fero berlalu masuk ke dalam kamar,sementara Kevin menyiapkan surat surat penting untuk ia serahkan pada Fero besok pagi.


****


*****


Esok harinya Narend sudah sangat yakin dengan keputusannya,tanpa ada yang bisa menduga,pemuda itu tiba tiba meminta pada Al untuk ikut kembali ke kampung halamanya.


Sontak saja permintaanya itu membuat semua orang tak menyangka,dan tentunya tak dapat di terima begitu saja,pasalnya ada banyak pekerjaan yang akan terbengkalai jika tanpa campur tangannya,namun Narend terus saja membujuk Al, dengan meyakinkan jika ia akan tetap mengurus perusahaan dengan baik,hingga mau tidak mau akhirnya Al pun menyetujui permintaanya.


Narend pergi dengan membawa sejuta kenangan manisnya bersama sang kekasih,juga janji janji yang akan selalu ia ingat sampai kapan pun.


Dan tentu saja Kepergian Narend yang tiba tiba menjadi tanda tanya besar bagi si kembar,terutama untuk hubungannya dengan Fero.


Sebagai seseorang yang sudah tahu banyak dan mendukung hubungan tersebut,Kedua gadis itu pun segera menguhungi Fero,hendak memperjelas apa yang sebenarnya terjadi,Namun Fero sama sekali tak mengerti, saat ponselnya tiba tiba berdering sampai menganggu tidur lelapnya.


"Hallo ! ada apa?" suara Fero dari sambungan telpon masih terdengar serak.


"Apa? Narend pergi?" ucapnya lagi,dengan mata yang langsung terbuka lebar.


" Tidak apa apa,kami masih baik baik saja." sahutnya lagi.


" Ya sudah aku akan ke apartemen mu sekarang." ucap Fero sebelum mengakhiri sambungan telpon nya.


Setelah mematikan ponselnya,tanpa menunggu lama gadis itu pun segera beringsut, menyibakan selimut hendak beranjak untuk meninggalkan tempat tidurnya,rasa kantuk yang mendera tak lagi ia hiraukan.


Selesai mandi dan bersiap,Fero langsung keluar dari kamarnya dan berlari menuruni tangga dengan pakaian seadanya,bahkan wajahnya pun nampak plos tanpa riasan apa pun.


" Hei,Nona! kau mau kemana?"seru Kevin sambil berusaha mengejarnya.


" Aku harus pergi." sahut Fero,tanpa menghentikan langkahnya.


" Kau mau kemana pagi pagi buta seperti ini." tanya Kevin lagi.


" Bukan urusan mu." jawab Fero,yang kini sudah berhasil masuk ke dalam mobilnya,setelah itu gadis itu pun segera berlalu,tanpa menghiraukan teriakan Kevin lagi.

__ADS_1


Suasana Jalanan di ibu kota besar seperti Jakarta memang tak ada hentinya,arus kendaraan masih hilir mudik memadati setiap jengkal permukaan aspal,bahkan di saat matahari belum terbit dengan sempurna sekalipun.


Keramaian tersebut membuat Fero semakin frustasi,gadis itu lagi lagi terlihat memukul stir sambil mengumpat habis habisan.


"Kurang ajar! daripada membuat pabrik atau perkantoran, seharusnya dulu ayah ku membuat jalan tol pribadi saja." gerutunya.


" Lain kali aku akan membuat lebih banyak landasan pesawat agar aku bisa terhindar dari kemacetan yang membosankan ini." tambahnya lagi.


jarak dari rumah ke apartemen si kembar terbilang cukup jauh,kemacetan yang terjadi sangat menyita waktu,tiba tiba saja gadis itu melihat seorang ojek online yang tengah menunggu custamernya di pinggir jalan,tanpa menunggu lama ia pun menghentikan kendaraan mewahnya di bahu jalan,lalu menghampiri tukang ojek tersebut untuk di mintai tolong.


" Tuan! apa kau bisa membantu ku?" ucapnya.


Mendengar kata 'tuan' tukang ojek tersebut merasa heran,pria paruh baya dengan jaket hijaunya itu pun malah terdiam sambil memperhatikan Fero dari atas ke bawah.


Setelah beberapa saat.


" Neng manggil saya?" tanya balik tukang ojek tersebut.


" Ya,tentu saja." sahut Fero yang semakim geram,dengan tingkah si tukang ojek yang terlihat sangat aneh menurutnya.


" Seumur umur baru kali ini di panggil tuan." gumam si tukang ojek.


" Apa yang kau lakukan?" teriak Fero pada seorang gadis belasan taun yang berdiri di hadapanya dengan membawa tas ransel berukuran besar di punggungnya,wajahnya yang polos dan pakaian sederhana, juga rambut yang di kucir asal asalan tak akan ada yang menduga jika gadis kecil tersebut adalah calon direktur di salah satu perusahaan ternama di kota itu.


"Seharusnya aku yang bertanya,apa yang kamu lakukan?aku sudah lebih dulu memesanya,dan kamu malah menaikinya." balas gadis tersebut,membuat Fero mengendus kesal.


" Kau pesan lagi saja,aku sedang buru buru." ujar Fero sambil mengibaskan tangannya,agar gadis tersebut menjauh dan membiarkan dirinya pergi,namun nampaknya gadis kecil itu tak mudah menyerah,ia malah menarik Fero agar turun dari motor yang sudah di pesanya lebih dulu.


" Memangnya kau saja yang buru buru,aku juga sedang buru buru,jadi lebih baik kau saja yang turun,lagi pula aku yang sudah memesanya lebih dulu." balas gadis tersebut,hingga terjadilah sedikit keributan yang membuat tukang ojek tersebut memilih untuk pergi dan meninggalkan keduanya.


Kedua gadis beda usia itu terus saja beradu mulut,tanpa ada yang mau mengalah,dan untung saja saat itu ponsel keduanya berdering secara bersamaan,hingga perkelahian pun berakhir begitu saja.


" Hallo! kamu masih dimana? aku harus segera berangkat ke kampus sekarang." ucap seseorang dari sembungan telpon.


" Tunggu,sebentar lagi aku sampai." tanpa menunggu balasan gadis kecil itu pun menutup telponya,ia lalu melirik Fero yang memilih untuk kembali ke dalam mobilnya.


Dengan tanpa tau malunya ia pun langsung ikut masuk ke dalam mobil Fero dan duduk di sebelahnya,tentu saja Fero pun semakin geram di buatnya.


" Sialan! kau mau apa?" teriak Fero.

__ADS_1


" Karena kamu sudah membuat tukang ojek itu pergi, jadi kamu harus membantu ku ,antarkan aku ke apartemen Xxxx." balas gadis tersebut tanpa segan,ia pun langsung membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman dan tak lupa memasang seat belt.


" Astaga,kucing kecil ini benar benar menyebalkan." keluh Fero,kandati demikian ia pun memilih mengalah,karena tujuanya memang sama,dalam situasi seperti ini berdebat dengan seorang gadis kecil seperti itu bukan hal yang tepat untuknya,itu semua hanya akan menambah masalah dan semakin membuang buang waktu,dan akhirnya Fero pun menurutinya dan mulai melajukan kendaraanya.


Tak lama kemudian,Fero dan gadis kecil tersebut sampai di apartemen milik si kembar,keduanya berjalan beriringan tanpa sepatah katapun,namun ada yang aneh,saat keduanya menuju kamar yang sama.


Membuat Fero mau tidak mau harus mengeluarkan suaranya lagi.


" kenapa kau mengikuti ku?" tanya Fero.


" Enak saja,bukannya kamu sendiri yang mengikuti ku,dari mulai memesan ojek, sampai di sini pun kamu masih saja mengikuti ku,sebenarnya kamu ini siapa?jangan jangan kamu mata mata yang di utus ayah ku." tuding gadis itu,membuat Fero mendelik sebal.


"Aku Lebih baik menjadi tim penjinak bom dari pada harus memata matai bocah ingusan seperti mu." balas Fero.


Pertengkaran sengit antara keduanya nyaris kembali terulang,namun untung saja si kembar datang di waktu yang tepat.


" Kalian sudah di sini rupanya?" sambut Shafa dengan hangat,hingga kedua gadis berbeda usia itu saling lirik.


" Kau mengenalnya?" tanya Fero.


" Tentu saja,dia adik sepupu kami,Namanya Cyra." jawab Marwah seraya membantu memperkenalkan.


"Cyra ,kenalkan ini kak Fero."


"calon kakak ipar kita." bisik Marwah,seketika membuat kerutan di kening gadis manis bernama Cyra itu.


" Ya,calon kakak ipar,dia pacarnya bang Narend." jelas Shafa,membuat Cyra terbelalak,membulatkan matanya dengan sempurna,dan tak lama kemudian,ia pun kembali melayangkan kata kata serangan yang menyakitkan.


" Kamu serius? mana mungkin bang Narend mau menikahinya,dia pasti sudah menjebak bang Narend,atau jangan jangan dia mengancam bang Narend agar bang Narend mau menikahinya." lagi lagi tudingan jahat keluar dari bibir kecilnya,membuat si kembar langsung menatapnya tajam.


" Cyra! jangan bicara seperti itu,bagaimana pun kak Fero lebih tua dari kita,kamu harus bisa menghormatinya."tegur Marwah.


Sementara Fero hanya bisa mengelus dadanya,berusaha untuk tetap sabar dan bersikap dewasa ,karena bagaimana pun Cyra memang gadis kecil dan bukan tandinganya.


"Anak nakal,Kamu masih saja belum berubah." gumam Shafa seraya menggelengkan kepala.


" Sudah lah,lebih baik kamu bereskan barang barang mu dulu,dan jangan lupa beritahu paman Satria kalau kamu sudah sampai di sini." titah Marwah pada gadis yang dua tahun lebih muda dengannya itu.


Dengan menghentakan kaki juga bibir yang maju dua centi,Cyra pun akhirnya menuruti perintah kakak sepupunya itu sambil terus mengerutu.

__ADS_1


Sementara Itu si kembar langsung mengajak Fero untuk duduk lebih dulu sebelum memulai pembicaraan.


__ADS_2