Takdir Cinta miss arogan

Takdir Cinta miss arogan
59.Beda keyakinan


__ADS_3

Menjelang pagi,Narend terkesiap mendapati sang kekasih terlelap sambil menenggelamkan wajah di dada bidangnya,juga tangan yang melingkar erat di perutnya.


Tak hanya itu, kaki mulus dari wanita yang di cintainya itu pun kini sudah bertengger tepat menindih adik kecilnya. sebelum sesuatu yang di inginkan terjadi,Narend langsung beranjak, dengan hati hati tanpa ingin menganggu Fero.


Sekilas ia melirik ke bawah,melihat adik kecilnya yang perkasa itu,tengah berdiri tegak menantang dengan tak tau malu, dari balik celana yang di pakainya,nampaknya sang adik kecil sudah tak bisa di ajak bekerja sama lagi,ia terus menuntut untuk segera di hujamkan pada suatu benda yang mampu menuntaskan keinginanya.


Narend hanya menghela nafas kasar,tanpa bisa berbuat banyak, selain terus memberinya wejangan untuk tetap bersabar dan menatapnya dengan perasaan iba.


Setelah itu,Narend beralih menatap pada Fero yang masih memejamkan mata, dengan hanya mengenakan gaun tidur yang di pinjamkan si kembar,walau tak begitu terbuka,namun lekuk tubuhnya masih terlihat jelas,paras cantik alami yang selama ini ia rindukan semakin membuat adik kecilnya meronta ronta dalam kandang yang pengap.


Perlahan Narend pun mulai mendekatkan wajahnya,dan mengangkat tanganya hendak membelai wajah Fero.


Namun,dalam waktu yang sama,sebuah ketukan pintu mengagetkannya,pria itu kembali duduk tegap dengan sedikit panik.


Bagaimana tidak,tatapan mata si kembar kini bagaikan anak panah,begitu tajam dan menusuk,Si kembar yang masih berdiri di ambang pintu terus menatap ke arahnya seolah tengah membidik mangsa.


" Ada perlu apa?" tanya Narend,sambil berusaha mengilangkan kegugupannya.


" Bang Narend,tidur di sini juga?" tanya Shafa dengan tatapan penuh selidik.


" Ya,tapi kami tidak melakukan apa apa." sahutnya.


" Meskipun tidak melakukan apa apa,tetap saja salah." protes Marwah sambil menyilangkan tangan di dada.


" Ya,aku tau,maafkan aku,aku tidak akan mengulanginya lagi di sini." balas Narend,yang langsung melangkahkan kaki hendak keluar,untuk menghindari teriakan yang pasti akan keluar dari mulut adik kembarnya itu.


Dan benar saja,baru beberapa langkah,suara lengkingan si kembar terdengar menggema di ruangan itu.


" Apa? hanya di sini? jadi bang Narend masih akan melakukannya di tempat lain!!!" teriakan Shafa berhasil membuat Fero terperanjat,dan langsung bangun dengan wajah bingung.


" Kenapa? apa yang terjadi?" tanya nya.


" Tidak ada,ini sudah pagi,sebaiknya kak Diana bangun,kita sarapan bersama." ujar Marwah.


Di meja makan,Fero terus mengedarkan pandangannya,mencari keberadaan pria pujaan hatinya yang belum juga menunjukan batang hidungnya,melihat hal itu si kembar langsung faham.


" Bang Narend sudah pergi,dia harus berangkat kerja." ucap Shafa seraya melahap suapan terakhirnya.

__ADS_1


Tanpa banyak bertanya lagi,Fero pun mengangguk faham,ia lalu melanjutkan sarapanya dengan sedikit kesal,karena Narend tak sempat memberitahunya terlebih dulu.


" Kami juga harus segera ke kampus,kak Diana tidak apa apa'kan tinggal di sini sendiri?" tanya Marwah.


" Tidak apa apa,kalian pergi saja." Fero berusaha untuk tetap terlihat baik baik saja,walau masih ada sedikit rasa takut dan khawatir yang menyerang benaknya,mengingat insiden semalam yang nyaris menghilangkan nyawanya.


" Ya sudah, tenang saja,kami tidak akan lama, Kak Diana jangan pergi kemana mana,jaga diri baik baik,kalau terjadi sesuatu segera hubungi kami." ujar Shafa,saat melihat raut penuh kekhawatiran dari paras calon kakak iparnya itu.


" Baiklah,kalian juga hati hati." balas Fero,sambil mengantar kepergian si kembar sampai di depan pintu kamar apartement nya.


Selang beberapa lama,setelah kepergian si kembar,Fero kembali di kejutkan dengan suara bel yang berbunyi,gadis itu langsung terkesiap,sejenak terdiam sambil berusaha menyiapkan diri,setelah itu ia meraih sebuah vas bunga yang terpajang indah di atas meja untuk sekedar berjaga jaga, dengan ragu dan tubuh yang nampak bergetar perlahan ia mulai memutar handle pintu.


Saat itu juga Fero terbalalak,saat melihat buket bunga raksasa hingga nyaris menutupi sebagian tubuh seseorang di hadapanya.


" Haii!!" sapa seorang pria,sambil memperlihatkan wajahnya dari balik buket bunga raksasa tersebut,seraya menyunggingkan bibirnya,berbentuk sebuah senyuman yang memabukan. Hal itu membuat Fero dapat bernafas lega.


" Hallo,aku kira kau siapa." sahut Fero,sambil membalas senyumanya.


Dengan cepat ia pun meraih bunga tersebut,dan mempersilahkan pria yang tak lain adalah kekasihnya itu untuk masuk.


" Si kembar sudah pergi?" tanya Narend.


" Syukurlah.bisa gawat kalau dua bocah itu masih ada di sini."ujar Narend,sambil mendaratkan bokongnya di atas sofa ruang tamu,sementara Fero hanya tersenyum,sambil berlalu untuk mengamankan bunganya terlebih dulu,sebelum menyusul,dan langsung duduk di pangkuannya.


" Kau belum menceritakan tentang mereka berdua,dan aku bahkan tidak tau semua tentang mu." ujar Fero,dengan tangan yang sudah melingkar di leher Narend.


" Karena kamu sendiri tidak pernah bertanya tentang aku." sahut Narend.


" Kalau begitu,ceritakan sekarang,aku yakin kamu pasti terlahir dari keluarga yang lengkap dan bahagia,memiliki ayah dan ibu yang saling mencintai,juga adik kembar dan sangat baik dan cantik,hidup mu pasti di penuhi dengan ribuan kasih sayang." tebak Fero dengan wajah yang nampak antusias,terlihat sangat menggemaskan,hingga Narend terkekeh di buatnya.


" Dari mana kamu tau semua itu?"


" Aku melihatnya dari sikap mu,dan sikap si kembar,kalian memiliki sikap yang hampir sama,hangat dan menyenangkan,dan aku yakin itu adalah hasil dari didikan kedua orang tua kalian." ucap Fero,kali ini wajahnya terlihat sendu.


" Kamu salah,aku memang hidup dan tumbuh dengan limpahan kasih sayang,tapi bukan dari keluarga atau orang tua kandung ku,karena sejak kecil aku tinggal di panti asuhan milik orang orang tua si kembar,mereka merawat ku dengan baik selayaknya anak sendiri,hingga akhirnya aku bisa tumbuh seperti sekarang ini." jelas Narend,membuat Fero membuat Fero mengeryitkan dahinya.


" Jadi itu artinya,kalian sama sekali tidak ada ikatan darah?" tebak Fero,yang hanya di balas dengan anggukan kepala.

__ADS_1


" Meskipun begitu,kamu masih beruntung,orang tua angkat mu pasti orang yang sangat baik,aku jadi tidak sabar untuk menjadi menantunya." goda Fero membuat Narend bergeming seketika,ia tak tahu bagimana cara untuk mempertemukan Fero dengan kedua orang tua angkatnya yang memiliki ketaatan agama yang cukup kuat.


Saat itu juga,Narend teringat saat di mana ia datang ke pemakaman ibunda Fero,terlihat jelas di sana jika pemakaman tersebut memiliki tanda salib.


Narend terdiam seribu bahasa,merutuki kebodohannya selama ini, yang sudah terlanjur di butakan oleh cinta,tanpa ingin mengetahui lebih dulu tentang kekasihnya itu.


" Narend!!!" seru Fero,saat menyadari perubahan sikap dari kekasihnya itu.


" Ya,ada apa?" sahut Narend dengan sedikit terkejut.


" Aku merindukan mu." bisik Fero dengan gaya manjanya, sambil menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang kekasih,membuat Narend tersenyum sambil mengusap punggung Fero dengan lembut.


" Fero,bolehkan aku bertanya?" ucap Narend ragu,membuat Fero kembali mengangkat kepala.


" Apa?"


" Tentang keyakinan mu pada tuhan." ucap Narend dengan ragu, untung saja Fero langsung faham dengan apa yang di maksudnya.


"Aku percaya dengan adanya tuhan,tapi semenjak ibuku meninggal,aku merasa tuhan ku tidak adil, karena itu aku meninggalkannya dan mulai melupakannya sampai sekarang." jelas Fero,membuat Narend kembali bergeming dengan pemikirannya sendiri.


" Aku tau apa yang kamu takutkan,tuhan kita tidak sama,bukan?tapi aku harap, jangan sampai perbedaan keyakinan di antara kita menjadi dinding pemisah, aku yakin ada banyak cara untuk kita agar tetap bisa bersama."ucap Fero,membuat Narend menatapnya dengan serius.


" Maksud mu?" tanya Narend tak mengerti.


"Aku sudah lama meninggalkan tuhan ku.jadi,apa kamu bisa membawa ku pada tuhan mu?" ujar Fero dengan yakin,membuat Narend tersenyum.


" Tentu saja,aku bisa saja membawa mu pada tuhan ku,tapi apa kamu sudah yakin dengan keputusan itu? ingat! jangan pernah berfikir untuk mendekati tuhan ku, hanya karena ingin mendapatkan umatNya.


Mantapkan hati mu terlebih dulu.Ok!!" ujar Narend seraya menunjuk dada Fero.


Kemudian ia membawa Fero turun dari pangkuannya.


*


*


*

__ADS_1


Haii guys,kita ketemu lagi!!


Maaf kalo up nya lama,jgn bosan buat nungguin ya,jgn lupa juga ramaikan like vote dan komen,biar thor makin semangat....😍😍😍


__ADS_2