
" Gadis murahan,hidupnya lebih hina dari seekor hewan."Rika langsung menghadangnya sebelum gadis itu berhasil menginjakan kakinya di rumah mewah tersebut,sambil melipat kedua tangannya di dada ia terus meracau,melontarkan kata kata pedas tanpa melirik seseorang yang ia maksud. Hal itu membuat dada Fero kembali bergemuruh.
Ia meliriknya sesaat,lalu kembali melanjutkan langkah kakinya memasuki rumah.
" Kenapa diam saja,dimana keberanian mu,apa kau sudah menyerah,Nona?" Rika berteriak,membuat Fero kembali mengurungkan langkahnya,ia lalu berbalik badan menatapnya sambil tersenyum.
"Keberanian ku tak cukup untuk menghadapi orang tua yang sudah mulai bau tanah ." balas Fero santai.
" Jadi maaf,Nyonya! sebagai gadis baik aku tak bisa terus menerus melayani serangan mu,karena itu hanya membuang waktu berharga ku saja." tambah Fero.
"Permisi! semoga hari mu bahagia." ucapnya lagi,kemudian ia pun kembali melenggang menuju kamarnya.
" Kau semakin keterlaluan,lihat saja aku akan membuat mu tak nyaman di rumah mu sendiri." ujar Rika,namun gadis itu tak lagi menyahut,ia hanya menyeringai tanpa menghentikan langkahnya.
" Lakukan saja sampai kau mati kelelahan." ucap Fero,yang sudah sampai di ambang pintu,kemudian ia pun memutar handle pintu tersebut, lalu segera masuk ke dalam kamarnya.
" Aku tidak takut jika harus keluar dari rumah ini,yang aku takutkan wajah ku akan berubah keriput sepertinya,karena terlalu sering marah gara gara melawannya." gumam Fero yang sudah berdiri di depan sebuah cermin,menatap pantulan dirinya yang pastinya tetap cantik dan terawat.
*****
Hari semakin sore, Fero memilih menghabiskan waktunya di dalam kamar menonton film atau membaca novel,semenjak mengenal Narend gadis itu menjadi lebih suka sesuatu berbau romantis,nampaknya gadis itu juga sudah mulai mengubah sedikit demi sedikit kebiasaan buruknya, yang dulu lebih sering menghabiskan waktu bersenang senang di klub bersama teman teman,dan pulang larut dalam keadaan mabuk.
Lagipula,sekarang para benalu itu tak akan ada yang berani menunjukan batang hidungnya lagi,setelah Fero menyuruh seseorang memberi pelajaran pada mereka,terlebih pada Max dan juga Salsa.
Bahkan Salsa,ia sudah tidak pernah lagi terlihat di kampus sekalipun,karena bisa di pastikan gadis itu kini sedang menangis meratapi nasibnya,dan menyesali perbuatannya.
__ADS_1
Selama mengenal Fero sejak ia masuk fakultas dari jalur beasiswa,gadis itu menggantungkan hidupnya pada Fero,bahkan Fero juga membiayai ibunya yang tengah mengidap penyakit gagal ginjal stadium akhir,yang harus rutin melakukan cuci darah seumur hidupnya dengan biaya yang tidak sedikit.
Dan sekarang karena perbuatannya yang sudah berani mengecewakan seorang Feronica putri Anggoro,ia harus menelan pil pahit, kehilangan pendidikan yang bahkan hanya tinggal beberapa minggu menjelang wisuda.
Saat ini Fero tengah asyik bertravelling,sambil memperhatikan adegan dewasa yang terpampang di layar televisi kamarnya,namun tiba tiba ia dikejutkan oleh suara ketukan pintu,gadis itu pun terpaksa beranjak dari tempat tidurnya sambil bersungut sungut.
" Ada apa?" tanya Fero ketus pada pria yang yak lain adalah Bimo.
" Maaf,Nona! ada tamu yang mencari anda di luar." ujar Bimo.
" Siapa?"
" Saya tidak tau,tapi dia mengaku sebagai teman anda."
" Perempuan seusia anda."
Setelah mendapat jawaban dari Bimo,gadis itu pun langsung menemui orang tersebut yang ternyata ia adalah Salsa.
Fero nampak tersenyum sinis,melihat gadis itu yang kini nampak berantakan,wajah serta pakaiannya yang tak terurus,setra badannya pun sedikit lebih kurus dari terakhir Fero melihatnya,meskipun kejadian itu berlum terlalu lama.
Sambil melipat ke dua tangannya di dada,berjalan angku menghampiri Salsa yang tengah berdiri di halaman rumah mewah tersebut sambil menundukan kepala.
" Ternyata nyali mu kuat juga,kau masih berani menunjukan batang hidung mu?" ucap Fero dengan lantang.
Membuat Salsa menunduk semakin dalam.
__ADS_1
"Katakan, Ada maksud apa kau ke sini,aku tak punya banyak waktu." ujar Fero,kali ini ia sudah duduk manis di bangku teras,tanpa mempersilahkan Salsa duduk.
" Fero, aku ke sini untuk meminta maaf." Salsa akhirnya bisa membuka suaranya,setelah sejak tadi ia terdiam,sambil menata kata yang tepat untuk di ucapkan.
" Hanya itu?" tanya Fero seolah tak yakin.
" Hmmmm,,Fero aku mohon bantu aku." gadis itu langsung merobohkan tubuhnya,berlutut sambil memengangi kaki Fero,membuat gadis itu terhentak ia langsung berdiri.
" Hentikan! kau memang sudah tak punya harga diri,tapi jangan tunjukan itu padaku juga,aku sudah muak dengan kelakuan mu." Fero mendorong tubuh Salsa hingga gadis itu terjerambah ke belakang, dan mulai terisak sambil berusaha kembali ke posisi semula.
" Apa lagi yang kau mau dari ku?" bentak Fero,karena sudah di pastikan jika kedatangannya kemari ada maksud tertentu tak lain dan tak bukan adalah soal Uang.
Fero mulai tersulut emosi,berhadapan dengan seorang penjilat bukan hal baru baginya namun kali ini ia sudah tak bisa lagi menahan kekesalan yang sejak dulu ia pendam.
" Fero,aku mohon bantu aku,ibuku dalam kondisi kritis,aku membutuhkan biaya untuk membawanya ke rumah sakit."
" Lalu apa hubungannya dengan ku,aku bukan anaknya,kau kira aku ini sapi perah mu,hah? enak saja." Fero memutar bola matanya jengah.
" Fero,ku mohon bantu aku sekali saja,aku janji akan melakukan apa saja untuk mu,jika perlu aku akan menjadi budak mu seumur hidup." Salsa masih terus terisak sambil mengatupkan tanganya di dada seraya memohon,namun nampaknya perasaan Fero kali ini sudah terkunci rapat,ia sama sekali tak perduli meskipun nyawa seorang ibu yang menjadi taruhannya saat ini.
" Persetan dengan janji mu aku tak perduli,asal kau tau saja, hidup mu sudah tak berguna,bahkan untuk sekedar menjadi kacung sekalipun." ucap Fero.
Ia pun langsung memerintahkan para pengawal yang sejak tadi memperhatikan mereka untuk segera mengusirnya dari rumah itu,dia lalu kembali masuk sambil membanting pintu,tanpa ingin mendengarkan teriakan Salsa yang kini meront ronta di seret para pengawal.
Gadis itu masih menahan pintu tersebut dengan punggungnya,dadanya terlihat naik turun, menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya secara perlahan,sambil menenangkan perasaanya ia langsung menghubungi seorang suruhannya untuk melakukan sesuatu.
__ADS_1