
" Nona! tolong hentikan." Narend segera menghampirinya,tiga pengawal yang sebelumnya tengah berusaha menenangkan singa betina itu akhirnya bisa bernafas lega,pasalnya kini Fero sudah mulai melemas,tenaganya seolah terkuras habis,ia menabrakan dirinya pada pria itu memeluknya dengan sangat erat.
" Jangan tinggalkan aku,apapun yang terjadi." lirihnya,tanpa ragu Narend membalas pelukannya sambil mengusap punggung nona mudanya dengan lembut,lalu menganggukan kepala.
" Baiklah,aku tidak akan meninggalkan anda." balas Narend,melirik sekilas pada Bayu yang tengah menatapnya tajam,dan itu malah membuatnya kesal,pria itu membalas tatapannya tak kalah menusuk,ingin sekali ia menghajar tuannya itu karena membiarkan gadis yang masih dalam pelukannya itu menjadi seperti ini,demi kedua wanita yang baru hadir dalam hidupnya.
Bayu memberi isyarat dengan gerakan kepalanya agar Narend membawa Fero ke dalam kamar.
" Ada apa Nona? kenapa bisa seperti ini?" tanya Narend,setelah berhasil membawanya ke kamar.
" Dia mencoba mengambil mu dari ku,tapi aku tidak akan membiarkan itu terjadi,kau hanya milik ku,dan aku akan mempertahan kan apa yang sudah menjadi milik ku." jawab Fero dengan tegas.
Narend tersenyum sambil mengusap kepala Nona mudanya dengan lembut.
" Jangan lakukan ini lagi,anda membuatku takut." ujarnya.
"Itu akibatnya karena mereka sudah berani membangunkan macam yang sedang tidur." Fero berusaha membela diri,dengan celotehan yang semakin mambuat Narend tak bisa menahan tawanya lagi.
" Ya,anda memang pantas di sebut macan."
" Kau berani mengataiku?" tuding Fero kembali menunjukan wajah sangarnya,matanya melebar seperti seekor macam yang tengah memantau mangsanya.
" Tidak,bukan begitu,tapi bukannya anda yang lebih dulu mengatakannya." Narend berusaha membela diri.
" Dasar bodoh,kau menyebalkan." Fero terkikik merasa malu saat menyadarinya,menyebunyikan wajahnya pada bahu Narend.
Sementara dalam kamar yang lain,Rika terus saja meracau sumpah serapah dan umpatan keluar dari mulutnya yang penuh dengan dusta dan kebohongan.
__ADS_1
" Aku tidak bisa menerima perlakuan anak mu mas! dia sudah keterlaluan,kurang ajar,hanya karena seorang pengawal dia berani berbuat seperti itu pada kami,padahal aku sudah sangat menyayanginya,sepertinya aku tidak akan sanggup menghadapinya,lebih baik aku akan menyerah saja mas,pulang kan kami ke rumah ku lagi." ucap Rika di iringi air mata palsunya.
" Sayang! kau bicara apa? baru saja beberapa hari kau sudah menyerah."
" Tapi dia sudah keterlaluan mas! dia sudah berani menganiaya kita,dan aku kecewa karena kau tidak bisa berbuat apa apa." balas Rika mengiba.
" Maaf,tolong maafkan aku,bertahanlah di rumah ini demi aku,demi rumah tangga kita,aku berjanji akan lebih tegas lagi padanya,aku akan menuruti apapun ke inginan mu,tapi jangan pernah bicara seperti itu lagi,aku tidak akan membiarkan mu pergi dari rumah ini,karena rumah ini sudah milik mu juga." Bayu memohon seraya berjongkok di hadapan istrinya,kewibawaan serta harga diri sebagai Bayu anggoro yang selalu di segani banyak orang juga sebagai kepala keluarga seolah sirna seketika.Dan hal itu membuat Rika semakin besar kepala.
Wanita paruh baya itu menyeringai di balik tangisanya.
"Baiklah kalau begitu,aku ingin kau memecat pengawal itu."ucapnya.
Bayu seketika terdiam,bagaimana bisa ia memecat seorang pengawal andalannya,yang sudah bekerja dengan baik dan tak pernah mengecewakannya.
" Kenapa harus memecatnya?" tanya Bayu ragu.
" Baiklah,akan aku bicarakan pada Fero terlebih dulu."
" Apa kamu bilang?membicarakannya pada Fero? yang benar saja,apa anak mu itu akan menyetujuinya begitu saja?" bentak Rika dengan emosi yang sudah naik ke ubun ubun.
" Itu hanya akan membuatnya lebih murka,sebaiknya lakukan diam diam tanpa sepengetahuannya." ujar Rika,mau tak mau Bayu pun mengangguk patuh.
Semenjak kehadirannya sebagai Nyonya anggoro,Rika sedikit demi sedikit berhasil menguasai rumah besar tersebut,bukan hanya sang suami,para pelayan dan pengawal pun mulai tunduk padanya, hingga berani mengabaikan nona muda yang sudah jelas akan menjadi pewaris tunggal di kerajaan anggoro tersebut.
Kini tugasnya hanya tinggal menaklukan gadis kecil sang putri kerajaan yang sepertinya memang tidak mudah untuk di taklukan,namun ia akan melakukan apapun demi menghancurkan keluarga tersebut,jika tak bisa menaklukannya,maka menyingkirkannya adalah jalan terbaik.
Tak menunggu lama,Bayu langsung memanggil Narend untuk menemuinya di ruang kerjanya.
__ADS_1
" Maaf,mas Narend! tuan Bayu meminta anda menemuinya di ruang kerja sekarang juga." ujar seorang pelayan yang masuk ke kamar Fero.
Narend yang kala itu masih bersama Fero langsung mengangguk,dan tak lama kemudian ianpun sudah berada di ruang kerja tersebut.
" Kau tau,kenapa aku memanggil mu ke sini?" tanya Bayu,yang langsung di balas dengan gelengan kepala.
" Kau tau kenapa tadi Fero marah?" tanya nya lagi,kali ini Narend mengangguk.
" Baiklah kalau begitu,aku tak suka berbasa basi,dengarkan aku baik baik,demi kebaikan rumah tangga ku,dan kebaikan anak anak ku,aku tak bisa membiarkan mu bekerka di sini lagi,kau tak perlu mengaja Fero lagi,tapi bukannya aku memecatmu,tapi aku akan memindahkan mu ke tempat lain." ucap Bayu tegas,membuat Narend mematung tak mengerti.
" Maaf tuan,mohon maaf jika saya lancang,tapi apa kesalahan saya,kenapa saya harus di pindahkan." protes Narend.
" Kau masih belum mengerti juga?"Bayu menggelengkan kepala,sambil menghembuskan nafas kasar,ia lalu beranjak dan berjalan menghampirinya.
" Dengar anak muda,keberadaan mu di sini hanya membuat kekacauan untuk anak anak ku,mereka bertengkar karena memperebutkan mu,aku tak mungkin bisa membela salah satunya,aku tak bisa menentukan jika kau harus mengawal salah satunya,maka jalan terbaik adalah kau sendiri yang harus mundur,jadi itu akan lebih adil bukan?" jelas Bayu.
Dan kini Narend kembali bergeming,itu memang keputusan yang baik,tapi akan terasa tidak adil untuk Fero,bagaimana pun dia sudah lebih dulu bersamanya.
" Baiklah kalau begitu,jika aku memang tak bisa mengawal Nona Fero lagi tak masalah,tapi izinkan saya untuk bisa tetap berteman dengannya." izin Narend,membuat Bayu tersenyum sinis.
" Lancang sekali kau,kau tidak sadar dengan posisi mu? selama ini Fero tak pernah dekat dengan seorang pengawal,dan itu akan berlaku hingga sekarang,dulu aku memang sudah berusaha memaklumi kedekatan kalian hanya sebagai pengawal dan Nona nya,tapi sekarang kau tak di butuhkan lagi di sisi Fero,jadi kau tak usah berharap untuk tetap bisa dekat dengannya." tagas Bayu,kembali menyulut api di benak Narend,kini tak ada lagi rasa segan atau pun hormat untuknya,karena keputusannya untuk menjauhkan Fero dan Narend bukan jalan yang tepat.
" Baiklah tuan,aku mengerti,mungkin aku akan berusaha menerima keputus anda,tapi aku tidak yakin dengan Nona Fero." ucap Narend dengan lantang.
Kemudian ia pun keluar dari tempat itu tanpa mendengar ucapan Bayu lagi.
" Baiklah Nona,kedekatan kita sedang di uji kali ini,kau sudah berusaha memperhatan kan aku,dan kali ini aku yang akan mempertahan kan mu." gumam Narend sambil melangkahkan kakinya menuju kamarnya sendiri.
__ADS_1