
Narend kembali ke apartemen dengan langkah gontai,juga wajahnya yang nampak masam,tergambar jelas kekecewaan yang tengah ia rasakan,bahkan si kembar juga kedua orang tuanya, yang telah menunggu sejak tadi di sofa ruang tengah di buat terheran heran,saat melihat Narend yang masuk secara tiba tiba,dan berlalu memasuki kamarnya, tanpa menghiraukan tatapan dari seluruh anggota keluarga itu.
" Ada apa dengan nya?"gumam Alvi,sementara Al langsung mengedikan bahunya.
" Sepertinya terjadi sesuatu pada Bang Narend." tebak Shafa,yang langsung di setujui oleh Marwah.
" Sudah lah,ayah akan menanyakannya nanti." balas Al.
" Padahal aku sudah tidak sabar untuk mendengar kabar baik itu." kembali terdengar gumaman dari mulut Marwah.
Hingga akhirnya mereka pun membubarkan diri. tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali tetap menunggu sampai Narend bersedia untuk membuka suara.
Sementara di rumah sakit,Fero masih tetap setia menemani Bayu yang kini sudah di pindahkan ke ruang rawat inap,hatinya semakin pilu saat mendengar penjelasan dokter beberapa saat lalu tentang kondisi kesehatan sang ayah yang mengalami penurunan akibat penyakit jantung yang di deritanya sejak beberapa tahun lalu,tanpa ia ketahui.
Di tengah isak tangisnya,tiba tiba seorang pria muda berpakaian rapi menghampirinya.
" Selamat malam, Nona manis!" sapanya dengan senyum yang khas.
Saat itu juga Fero langsung mengangkat wajahnya,memastikan siapa pemilik suara yang tak asing di telinga nya itu.
" Kevin?" gumamnya.
" Syukurlah jika kau masih ingat aku." ucap Kavin,seraya berjalan menghampiri Fero,ia lalu membawa Fero untuk kembali duduk di sofa.
__ADS_1
" Ada perlu apa kau ke sini?" tanya Fero dengan wajah ketusnya yang khas.
" Aku ke sini untuk memastikan kebenaran tentang kabar kembalinya sang Putri raja ,dan ternyata benar juga,aku turut senang karena kau sudah kembali dalam keadaan baik." balas Kevin,dengan senyum yang tak pernah surut dari bibirnya.
" Ya,kalau begitu kau boleh pergi sekarang." balas Fero,seraya beranjak,namun dengan cepat Kevin maraih tangan Fero untuk tetap duduk di sampingnya.
" Heyy,,ayo lah Nona!Aku ini teman mu, apa kau tidak merindukan ku?" goda Kevin membuat Fero jengah.
" Apa mata mu buta? ayah ku sedang sakit,biarkan aku sendiri,jadi pergilah sebelum vas bunga ini terbang mengenai kening mu!" gerutu Fero sambil menunjuk vas bunga yang berada tak jauh darinya,namun ucapan Fero malah membuat Kavin terkekeh.
" Aku fikir setelah kau menghilang, kau akan kembali dalam sikap dan wujud yang lebih baik,tapi ternyata kau masih tetap Fero."ejek Kevin tanpa segan,hingga akhirnya Fero pun membuktikan ucapannya,gadis itu melemparkan vas bunga yang nyaris mengenai kepala Kevin,namun hal itu tak membuat Kevin jera,ia terus menggoda Fero sampai gadis itu menyerah,dan membiarkan Kevin tetap di sana,melakukan apapun yang ia mau.
Setelah lama menunggu,Fero merasakan pergerakan kecil dari Bayu,perlahan pria paruh baya itu membuka matanya,seketika sudut bibirnya terangkat setelah menyadari pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah cantik sang anak.
" Ya,ayah! aku di sini." jawab Fero.
" Ayah senang kau ada di sini sekarang,setidaknya ayah bisa pergi dengan tenang setelah memastikan kau baik baik saja." lirih Bayu,suaranya semakin tercekak dan terbata bata.
" Apa yang ayah bicara kan?" sahut Fero,kembali dengan isak tangis yang memilukan.
Kini tatapan Bayu beralih pada orang di sisi lainya,terlihat Kevin terdiri tegap di sana dengan mata berkaca kaca.
"Baguslah,ternyata Kau juga di sini,apa kau ingat apa yang harus kau lakukan setelah aku pergi?" ucap Bayu lemah,namun masih terdengar tegas.
__ADS_1
" Ya tuan,aku tau apa yang harus aku lakukan." jawab Kevin,sembari membungkukan sedikit badannya.
Setelah itu,Bayu kembali menatap Fero dengat mata sayunya,untuk saat ini tak ada yang lagi yang mampu ia katakan,bibirnya terasa kelu,bahkan untuk bernafasnya pun terasa begitu sulit.
Sementara Fero hanya bisa menangis,dengan mata tertutup ia menggenggam dan sesekali menciumi punggung tangan Bayu yang terasa dingin.
Sangat sulit untuknya melihat sang ayah yang dulu selalu terlihat gagah berwibawa kini bagai seongok daging tanpa nyawa.
Hingga Tak lama kemudian,matanya terbelalak setelah merasakan cengkaram tangan Bayu yang seolah tengah menahan sesuatu yang menyakitkan.
"Ayah!!" teriaknya.
" Maafkan ayah,Nak!" ucapan terakhir dari Bayu yang masih bisa Fero dengar, sebelum pria paruh baya itu menutup matanya,kejadian tersebut langsung membuat Fero histeris.
Ia terus menerus mengguncang tubuh Bayu,sementara Kevin segera berlalu hendak memanggil dokter,setelah itu ia pun kembali dan langsung merengkuh butuh Fero dan membawanya ke dalam dekapannya.
Seperti hembusan angin,Kabar duka menyebar begitu cepat,setelah keesokan harinya Bayu di pulangkan ke rumah duka,para pengusaha, serta rekan bisnis dan orang orang penting lainya satu persatu mulai berdatangan,papan bunga terlihat memenuhi sepanjang jalan.
Tak hanya itu Nampak juga Robin, serta para pengawal yang berlalu lalang mempersiapkan segala sesuatunya.
Kali ini Fero pun bisa sedikit tenang setelah Narend beserta keluarganya turut hadir untuk memberikan sedikit kekuatan untuknya.
Bahkan Si kembar pun dengan setia menemani di sisi kanan dan kirinya,sementara Narend sendiri sedikit menghindar karena tak ingin para pengusaha yang datang dan mengenalnya mengetahui tentang hubunganya dengan Fero,dan setelah melewati beberapa proses akhirnya Bayu pun di kebumikan dengan beberapa cara,sesuai kepercayaan yang di anutnya.
__ADS_1