
Setelah membeli beberapa cemilan dan minuman untuk teman menonton,Si kembar memutuskan untuk menyaksikan film bergendre aktion,yang akan menampilkan beberapa adegan kekerasan,hingga pertumpahan darah,tentu saja Fero tak akan sanggup untuk melihatnya,ia berusaha untuk menolak,namun si kembar sudah terlanjur membeli tiket untuknya.Mau tak mau Fero pun menurut,dan ikut masuk ke dalam ruang gelap yang hanya di terangi oleh layar besar tersebut.
Nampak jelas gurat ketegangan dari sorot matanya,tangannya terkepal erat berusaha kuat untuk menahan rasa takutnya,dan tak hanya itu, tubuhnya pun bergetar hebat saat film tengah berlangsung,hingga tiba tiba Fero merasakan sesuatu yang lembut dan hangat telah mengenggam tangannya,gadis itu pun segera menoleh, melirik seseorang yang duduk di sampingnya,yang kini tengah tersenyum sambil menatapnya dengan mata berkaca kaca.
Saat itu juga Fero terbelalak,ia tak menyangka jika pria yang selama ini ia rindukan, kini hadir di hadapanya,dari balik cadar yang masih di kenakannya,Fero pun tersenyum,rasanya ia tak bisa lagi memendam rindu, menahan diri untuk tidak memeluknya,namun sedetik kemudian ia kembali teringat,jika kini mereka tak akan bisa bersama lagi,mengingat keadaanya sekarang tak lagi suci,Narend pasti tidak akan bisa menerimanya lagi.
Dengan berat hati, Fero melepaskan genggaman tangannya,ia lalu beranjak hendak pergi,namun dengan cepat pemuda itu langsung menarik tangannya kembali.
Hal itu membuat suasana tenang penjadi ricuh,para pengunjung lain yang merasa terganggu mulai melayangkan protes atas apa yang mereka lakukan,hingga dengan cepat Narend menarik tangan Fero untuk membawanya keluar, meninggalkan tempat tersebut.
Si kembar dan Nizzam yang sebelumnya nampak fokus menonton pun di buat heran,melihat kakak angkatnya yang datang secara tiba tiba, dan langsung membuat kegaduhan,dan akhirnya mereka memutuskan untuk menyusulnya keluar.
" Apa yang kamu lakukan?" teriak Fero,sambil berusaha melepaskan tangannya dari cekalan Narend.
" Harusnya aku yang bertanya,kenapa kamu lakukan ini pada ku?" balas Narend,dengan suara yang terdengar bergetar.
" Di saat kau terluka,kenapa kau tidak datang padaku? bukannya kau sudah pernah bilang akan selalu mempercayakan hidup mu pada ku,tapi kenapa kau malah menghindari ku,apa kau sudah tidak percaya lagi pada ku ?" lirih Narend,suaranya semakin terdengar bergetar,matanya berkaca kaca dan nyaris terisak,Narend tak bisa membayangkan, bagaimana wanita yang di cintainya itu bisa bertahan hidup, dan menjalani hari harinya ,dengan di hantui ancaman serta di lingkupi rasa takut.
__ADS_1
" Maafkan aku, aku memang tidak bisa melindungi mu dengan baik,tapi ku mohon, kembali lah,jangan tinggalkan aku,berikan aku kesempatan sekali lagi untuk tetap bersama mu dan menjaga mu,kau tau,aku sangat mencintai mu." Narend menundukan kepala,dengan genggaman tangan yang semakin kuat,ucapannya yang tulus membuat Fero bergeming,tanpa di pungkiri, gadis itu pun merasakan hal yang sama.
Rasa cinta yang begitu besar membuatnya sulit untuk pergi,walau hati kecilnya lagi lagi menolak,dan mengingatkan kembali akan kondisinya sekarang,yang tak jauh dari setumpuk sampah kotor yang tak berharga.
" Maafkan aku Narend,aku harus pergi! aku tak pantas lagi untuk mu." Fero kembali berusaha untuk melepaskan tangannya,namun Narend tak akan membiarkannya pergi begitu saja.
" Kenapa? apa hanya karena kau tak suci lagi?" seloroh Narend, membuat Fero tercengang,dengan sorot mata yang sulit di gambarkan.
" Jangan khawatir,jika hanya itu masalahnya,aku tidak perduli."ucap Narend,yang dengan cepat menarik tangan Fero agar lebih dekat dengannya,lalu memeluknya dengan sangat erat.
" Apa yang abang lakukan?" bariton si kembar berhasil mengagetkan keduanya,hingga dengan cepat pemuda itu melepaskan pelukannya.
Untung saja Robin datang di waktu yang tepat,ia langsung mendorong tubuh Narend dan Fero, hingga keduanya terlempar jauh,dan peluru yang nyaris mengenai mereka berhasil di hindari.
Namun masalah tak selesai sampai di sana,saat lagi lagi para suruhan Rika melayangkan peluru,dan nyaris mengenai si kembar, untungnya,Lagi lagi Robin menyadari hal itu, dengan cepat ia pun mendekap keduanya,hingga akhirnya peluru tersebut berhasil bersarang di belakang bahunya.
Shafa dan Marwah menjerit histeris,ketika melihat seorang pria yang memeluknya secara tiba tiba itu meringis,menahan sakit.
__ADS_1
" Kalian tidak apa apa?" tanya Robin,tanpa melepaskan pelukannya.
Dengan ingatan yang belum tersadar sepenuhnya,kedua gadis itu mengangguk.
" Bagus,kalau begitu pergilah!" titah Robin,yang langsung melepaskan dekapannya.
" Tapi kau terluka." ucap Marwah,namun sepertinya Robin tak mendengar,karena pria itu telah berlalu jauh,dengan mengacungkan senjatanya apinya.
Kini suasana di dalam gedung tersebut menjadi ricuh,para pengunjung berhambur keluar berusaha menyelamatkan diri.
Begitu juga dengan Narend,ia langsung menarik tangan Fero untuk membawanya pergi dari sana,sementara Azzam membawa si kembar,hingga akhirnya mereka sampai di parkiran.
" Zam,tolong bawa mereka pulang!" titah Narend,tanpa menunggu lama ia pun langsung kembali ke dalam gedung tersebut, untuk membantu Robin menyelesaikan masalahnya.
Kini gedung tempat hiburan tersebut,menjadi hancur lalu lantah,tak lagi berbentuk,dan berubah menjadi sarana untuk aksi saling tembak,hingga setelah lama saling serang,akhirnya,berkat kerjasama Narend dan Robin, para orang suruhan Rika berhasil di taklukan.
Narend yang tadinya sempat marah besar pada Robin,karena kejadian yang menimpa Fero,akhirnya sedikit luluh,walaupun ia masih belum bisa memaafkan atas aksi bejatnya pada sang kekasih,namun Narend mulai bisa berdamai dengan perasaannya sendiri, setelah melihat pengorbanan Robin yang dengan sungguh sungguh meminta maaf,dan menunjukan rasa bersalahnya.
__ADS_1
Pemuda itu pun membawa Robin yang terluka ke rumah sakit untuk mendapat pengobatan.
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA, JGN LUPA TINGGALKN JEJAK,DGN MEMBERI LIKE KOMEN DAN VOTENYA YA..😊😊😊