Takdir Cinta miss arogan

Takdir Cinta miss arogan
24.pamit


__ADS_3

Menjelang malam,saat semua anggota keluarga berkumpul di meja makan,menyantap hidangan makan malam,Fero memilih berdiam di halaman belakang,menunggu Narend keluar dari dalam kamarnya,dan tak menunggu lama pria itu pun akhirnya keluar sambil mendorong sebuah koper.


" Kau sudah yakin?" tanya Fero seraya menghampirinya.


" Aku yakin." jawab Narend dengan tegas.


Fero pun mengangguk, lalu diam.Tersirat dalam benaknya ada rasa tak ikhlas,dan Narend pun menyadarinya.Ia segera maraih tangannya dan menautkan jemarinya.


" Tidak usah khawatir,aku akan berusaha untuk bisa menemui mu lagi besok." ucapnya seraya mengusap lembut pipi gadis cantik di hadapannya itu,namun tetap saja Fero masih saja bergeming,kenyataan ini begitu terasa sangat menyakitkan,ia tak bisa menerimanya begitu saja, jika pria yang selalu ada di sisinya akan pergi, meninggalkan banyak kenangan yang tak mungkin terlupakan.


" Aku pasti akan selalu merindukan mu." lirih Fero yang langsung menabrakan tubuhnya.Namun pria itu segera menahannya.


" Jangan! masih banyak orang." ucapnya.


" Aku tak perduli." sahut Fero yang kembali melakukan aksinya,membenturkan tubuhnya,menenggelemkan wajahnya pada dada bidang yang selalu membuatnya merasa semakin nyaman.Dan akhirnya Narend pun pasrah ia membalas dekapannya tak kalah erat,melingkarkan tangannya di pinggang Fero,lalu mengecup pucuk kepalanya,mereka tak memperdulikan para pengawal lain yang berlalu lalang seolah tak melihatnya.


Walaupun dalam benak mereka,ada rasa iri sekaligus takjub,kemampuan Narend dalam menghadapi Nona muda di rumah itu memang patut di acungi jempol,hingga kini Singa betina tersebut sampai bertekut lutut padanya,dan terlihat seperti seekor anak kucing saat berhadapan dengannya.


Keberadaan Narend pun sedikit merubah kebiasaanya, dimana Nona mudanya yang dulu tak pernah menginjakan kaki ke tempat itu,sekarang ia malah sering dan bahkan sudah menjadi rutinitasnya sehari hari.

__ADS_1


" Sudah, aku harus pamit dulu pada ayah mu." ucap Narend sambil menepuk punggungnya,dan Fero pun melepaskan pelukannya.


" Akan aku temani." Fero mengandeng tangan Narend dengan posesif,seolah menunjukan jika pria itu adalah miliknya,hingga mereka pun jalan beriringan,menghampiri Bayu yang ternyata sudah menyelesaikan makan malamnya.


Pria itu kini tengah duduk bersantai di sebuah gazebo yang terletak di taman bagian samping rumahnya,tepat berhadapan dengan kolam renang,sambil menikmati teh hangat, di temani sang istri juga anak tirinya,bercengkrama di iringi candaan dan gurauan,sesekali terdengar gelak tawa dari ketiganya,di terangi lampu taman yang temaram,serta taburan bintang di langit yang semakin memperhangat suasana di malam itu.


Fero tersenyum sinis saat melihatnya dari kejauhan,tangan yang sejak tadi melingkar di lengan Narend mulai turun,mengaitkan jemarinya dengan erat,mencari kekuatan,anak mana yang tak sakit hatinya jika melihat orang tua satu satunya yang ia miliki malah tak memperdulikannya,dan sibuk membahagiakan anak yang sudah jelas bukan darah dagingnya.


" Tenanglah,kau pasti bisa." ucap Narend,sambil membalas genggaman tangannya,jemarinya semakin terpaut erat,ia lalu mengecup punggung tangan itu.


" Wanita ku pasti kuat." ucapnya lagi.Fero menatapnya sesaat,lalu ia pun tersenyum dan menganggukan kepala.


" Demi kamu aku pasti kuat." balasnya.


" Fero ada apa ini?" tanyanya sedikit terkejut,saat melihat tangan mereka terpaut,saling menggenggam satu sama lain,lalu melirik koper yang di bawa Narend dengan satu tangan lainnya.


" Maaf tuan,sepertinya saya tidak bisa bekerja lagi dengan anda,karena saya tak ingin di tugaskan dimana pun, selain bersama nona Fero."balas Narend tanpa ragu,membuat air wajah Bayu seketika berubah.


" Jadi kau mau membantah perintah tuan mu?" Rika angkat bicara.

__ADS_1


" Tidak,aku tidak membantah perintah siapapun karena mulai sekarang aku akan mengundurkan diri,dan tuan Bayu bukan lagi tuan ku." sahut Narend,masih santai tak ada sidikitpun rasa rakut yang ia tunjukan,hingga Fero menoleh padanya memperhatikan wajahnya yang tenang namun terlihat tegas,tanpa emosi maupun gugup.


Gadis itu tersenyum,perasaannya semakin yakin jika pria di sampingnya adalah yang terbaik,yang bisa menyeimbangi, dan menghadapi sikap juga prilakunya.


" Lalu apa ini,jangan bilang kau akan membawanya pergi setelah keluar dari rumah ini?" bentak Rika seraya memisahkan genggaman tangan kedua orang yang tengah di landa asmara itu secara kasar,sontak membuat Fero membulatkan mata,ia maju satu langkah hendak melukukan sesuatu,namun Narend segera merangkulnya,melingkarkan satu tangannya di pinggang Fero hingga gadis itu kembali terdiam.


Pria itu mengangat sudut bibirnya,lalu kembali menatap pada Rika.


" Tidak nyonya!mana mungkin aku membawa anak gadis orang begitu saja sebelum ada ikatan,aku membawanya ke sini untuk menyerahkannya pada kalian sebagai orang tuannya,karena aku tak lagi bisa melindunginya,jadi aku berharap kalian bisa menjaganya dengan baik,sebelum aku kembali kesini dan membawanya sebagai istriku." ucapanya membuat semua orang membulatkan mata tak percaya,begitu juga dengan Fero yang menganga di buatnya,gadis itu tak menyangka jika Narend akan berani bicara seperti itu pada ayahnya,namun itu semua membuatnya tersenyum seketika.


Sementara Jessica menjarit tanpa suara,ia tak terima dengan hal itu,namun ia tak bisa berbuat apa apa,selain diam dan memasang tatapan tajam.


" Tolong tuan,jaga Nona Fero baik baik,dan sayangi dia." kini Narend menatap pada pria paruh baya yang sejak tadi tak mengeluarkan sepetah kata lagi setelah Rika menyelanya.


" Cukup! apa kau yakin akan mengundurkan diri dari tempat ini,kau sudah tau konsekuensi jika kau berani keluar dari sini sebelum masa kontrak mu habis?kau tidak akan bisa lagi mendapat pekerjaan dimana pun!" ucap Bayu dengan penuh ancaman.


" Jangan harap kau bisa membawa Fero dan menjadikannya istrimu,karena aku takan memberiarkan anak ku jatuh ke tangan pemuda kurang ajar seperti mu yang bahkan tak akan punya masa depan." ancamanya membuat Fero terkejut,ia kembali memasang wajah sangarnya setelah tadi wajahnya terlihat cantik karena ucapan Narend.


" Jika ayah tak mengizinkan aku dan Narend bersama, jangan salahkan aku jika aku pergi dari rumah ini." timpal Fero sedikit meninggikan suaranya,dan lagi lagi Narend kembali maraih pinggangnya untuk menenangkan.

__ADS_1


Namun ancaman Bayu tadi sama sekali tak membuat Narend gentar,ia masih bisa tersenyum,lalu menganggukan kepala.


" Baiklah tuan,mungkin untuk saat anda benar,tapi aku akan segera membuktikanya, jika aku pria yang pantas mendapatkan putri anda,tapi aku mohon sayangi dan jaga dia sebelum aku kembali kesini untuk menunjukannya." Narend yang semula selalu menunduk patuh terhadap perintah Bayu,kini seolah mendongakan kepalanya,seraya menantang.


__ADS_2