Takdir Cinta miss arogan

Takdir Cinta miss arogan
67.Kembali ke pondok


__ADS_3

Pembicaraan pun di mulai,si kembar menjelaskan bagaimana Narend pergi ,sesuai dengan apa yang mereka lihat saat itu,tak ada yang tau apa yang sebenarnya terjadi,mengapa Narend pergi begitu saja tanpa pamit.


Sedangkan Fero hanya bisa diam,sambil terus mendengar apa yang si kembar ceritakan,dengan fikiran yang sudah berkelana jauh,hingga akhirnya ia pun mengingat kembali ketika terakhir kali mereka bertemu saat di pemakaman Bayu,gelagat Narend memang nampak berbeda,bukan lagi Narend yang selama ini ia kenal,bahkan di saat ia dalam keadaan terpuruk dan membutuhkan sandaran.Narend malah nampak acuh dan tak perduli,seolah menghindar.


" Apa kalian bertengkar?" pertanyaan yang di layangkan Shafa membuat Fero tersadar dari lamunanya.


" Tidak,kami baik - baik saja." jawab Fero cepat.


" Kalau begitu, kenapa bang Narend pergi? aku perhatikan akhir akhir ini dia juga sering melamun, bahkan sampai mengurung diri di kamar seharian." tambah Marwah.


" Entah lah,Mungkin dia sedang ada masalah di kantornya,kalian tidak usah khawatir, dan jangan terlalu di fikirkan." balas Fero,berusaha tetap tenang dan berfikir positif,walau dalam benaknya tersimpan beribu ribu pertanyaan.


" Ini sudah siang,sebaiknya kalian berangkat kuliah,aku juga harus pergi." ucap Fero lagi seraya beranjak,dan bersiap untuk pergi.


Selang beberapa waktu,Fero kembali ke rumahnya,ia berjalan dengan pandangan lurus kedepan,sorot matanya pun nampak kosong,bahkan ia sama sekali tak menghiraukan para pengawal dan pelayan yang menyapanya.


Dengan lemas Fero merobohkan tubuhnya di sofa ruang tengah,tanpa ia sadari sepasang mata tengah memperhatikannya dengan raut wajah aneh.


" Kau tidak apa apa, Nona?" tanya seorang pria yang sudah sejak tadi duduk si sana sambil memangku sebuah laptop, serta beberapa tumpukan kertas penting di hadapannya.


" Kau berniat untuk mengusai rumah ini?" tanya Fero sambil meliriknya sekilas,lalu kembali ke posisi semula.


" Apa maksud mu?" protes Kevin.


" Sejak kepergian ayah ,aku perhatikan kau tidak pernah keluar dari sini." jelas Fero.


" Hahh!! sebenarnya aku juga ingin sekali meninggalkan rumah ini,lagi pula aku sudah sangat merindukan istri ku,tapi karena kesetiaan dan tanggung jawab ku pada tuan Bayu,aku harus mengesampingkan masalah pribadi ku." gerutu Kevin dengan raut wajah kesal.


" Kau bilang 'setia'? lalu kenapa kau masih di sini?kenapa tidak sekalian saja kau ikut ke liang lahat." balas Fero dengan santai,semakin membuat Kevin kesal,terlihat jelas dari raut wajahnya yang memerah,juga tangannya terkepal erat,namun ia tak bisa berbuat banyak selain berusaha untuk tetap bersabar.


" Aku lebih baik menghadapi seribu Tuan Bayu,dari pada satu nona Fero." gumamnya dalam hati.

__ADS_1


" Sepertinya kita mengalami masalah besar." ucap Kevin,kembali pada apa yang ia kerjakan sebelumnya,pria itu terus menyibak satu persatu tumpukan kertas di hadapannya seolah tengah mencari sesuatu yang berharga,air mukanya berubah serius.


"Aku tidak perduli." sahut Fero dengan entengnya,seolah tak mau tau dengan 'masalah besar' yang Kevin maksud,dan lagi lagi membuat Kevin menjerit dalam hati.


Hingga akhirnya pria itu pun memilih pergi,sebelum kesabaranya semakin surut,karena ia tahu,berhadapan dengan Fero hanya akan membuat darah tingginya kambuh.


Sementara itu Fero terus bergelut dengan fikirannya sendiri,mengingat apa yang terjadi sehingga Narend bisa pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan.


Di tempat lain,Narend baru saja tiba di pondok pesantren milik orang tua angkatnya,ia tumbuh dan besarkan di sana,pemuda itu pun tersenyum haru melihat suasana yang masih nampak sama,sangat tenang dan damai,meskipun banyak anak santri dan juga anak panti yang tinggal di tempat tersebut.


" Istirahatlah sambil menunggu waktu makan malam." titah Al,seraya mengajak Narend untuk masuk ke rumahnya.


Narend mengangguk patuh,ia pun masuk ke dalam kamar yang biasa ia tempati sejak dulu,sebelum ia memutuskan untuk pergi merantau ke kota,membantu mengembangkan perusahaan milik Al.


Mengingat hal itu,Narend merasa tak enak hati,karena ia tak pernah konsisten dengan keputusannya sendiri,bahkan ia tak bisa menepati janjinya pada Fero,dan kini entah apa yang harus ia lakukan selama tinggal di sana.


Ajaran agama yang sudah Al sampaikan nyaris tak lagi di ingatnya,apa lagi sudah ada banyak ustadz dan pengajar di sana yang bisa membantu Al.


Tak lama sebuah ketukan pintu terdengar.


"Narend!! Ayo,makan malam dulu!!" suara lembut dengan ciri yang khas terdengar dari balik pintu.


" Ya,bu!! sebentar lagi." balas Narend.


Saat di meja makan,suasana hening tercipta,dentingan sendok dan garpu yang saling beradu bagai alunan musik tanpa nada.


Narend terus menunduk sambil mengaduk aduk makanan di hadapannya,hal tersebut membuat Alvi curiga hingga ia langsung menatap sang suami,telepati yang ia kirim lewat tatapan matanya terhubung dengan cepat.


Al tersenyum sambil menggelengkan kepala,seolah berkata 'tidak apa apa'.


"Narend,setelah selesai makan ikut ayah sholat isya berjama'ah,ya." ucap Alvi untuk memulai pembicaraan.

__ADS_1


" Baik, bu." seperti biasa pemuda itu selalu patuh terhadap apa yang di perintahkan orang tua angkatnya.


" Sudah lama kita tidak sholat berjama'ah,teman teman mu pasti sangat senang jika tau kamu ada di sini." tambah Al,seolah berusaha mencairkan suasana.


Namun lagi-lagi Narend hanya mengangguk.


Selang beberapa waktu akhirnya shalat berjama'ah pun telah usai.


Narend tak langsung pulang,pemuda itu malah berdiam diri dan termenung di teras mesjid,rasa gundah yang menyerang hatinya belum juga reda,rasa bersalah pada Fero juga telah ia rasakan.


Hingga tiba tiba ia merasakan sesuatu yang menyentuh pundak nya.


" Narend?" suara seorang pria terdengar dari balik punggungnya,membuat Narend seketika membalikan tubuhnya.


Ia langsung berhambur memeluk orang tersebut yang tak lain adalah Yusuf dan Syarif,sahabat baik sejak mereka kecil,tinggal dan tumbuh besar bersama dalam tempat yang sama membuat ketiganya seolah memiliki ikatan batin yang kuat.


" Masyaallah,apa kabar bro?sudah lama sekali kita tidak bertemu." ucap Yusuf,yang kini telah menjadi salah satu pengurus di pondok pesantren tersebut.


" Aku baik,bagaimana dengan kalian?" balas Narend.


" Alhamdulilah,kami juga baik,subhanallah pak menajer yang satu ini makin keren saja." puji Syarif dengan bangga.Narend tersenyum untuk menimpalinya.


" Ngopi yuk! mumpung ngajar lagi libur ." ajak Yusuf langsung di setujui dua sahabatnya.


Kini ketiganya telah berada di dapur umum,tempat paforit para santri di sana,biasanya setelah selesai belajar dan mengaji mereka akan menghabiskan waktu di tempat itu guna untuk menengkan fikiran yang lelah,setelah seharian bergelut dengan hafalan taqrib,jurmiyah,dan lainnya.


Narend dan kedua sahabatnya berbincang dengan penuh suka cita,mengingat semua jadian lucu yang mereka alami bersama,hal tersebut membuat Narend sedikit lebih tenang,dan bisa melupakan kegundahan di hatinya walau hanya untuk sementara...


...****************...


Hallo guys,,alhamdulillah kita ktmu lagi,maafkan thor yang sudah lama menghilang bak di telan bumi,anggap saja di musim dingin ini thor sedang hibernasi.🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2