
Selesai mengatasi para masa yang saling berebut untuk bisa masuk,Robin langsung melanjutkan niatnya,menemui seseorang yang harus bertanggung atas kejadian ini,tak butuh waktu lama pria pun itu kini sudah berada di dalam sebuah ruangan bersama seseorang tersebut.
" Jelaskan,kenapa semua ini bisa terjadi?" tanya Robin dengan suaranya yang tegas,serta wajahnya yang amat nampak menyeramkan,sambil menggebrak meja dengan keras.
" Maaf tuan,aku sudah berusaha untuk menyembunyikan keberadaan Nona Fero,tapi entah kenapa kabar ini bisa bocor dan begitu cepat sampai ketelinga banyak orang.
" Aku tidak mau tau,kau harus segera menanganinya,sebelum semakin banyak lagi orang yang tau,jika kabar keberadaan Nona Fero sampai ketelinga orang yang sedang mengincarnya,aku tidak akan memaafkan mu.
Kau tau? nyawa Nona Fero sedang terancam,aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya." tegas Robin,mampu membuat kuduk merinding. orang itu mengangguk dengan tubuh gemetaran.
" Baik,Tuan!" ujarnya.
Setelah itu Robin kembali ke kamar dimana Fero di rawat,ia lalu tersenyum setelah melihat Fero nampak antusias dengan hadiah hadiahnya.
" Kakak,kau darimana saja? lama sekali." protes Fero,pura pura merajuk.
" Maaf,Nona! ada yang harus aku selesaikan." sahut Robin ia lalu menghampiri Fero dan duduk di sebelahnya.
" Apa kau membutuhkan sesuatu?"
" Tidak,aku hanya merindukan kekasih ku." keluh Fero,membuat Robin menggelengkan kepala.
__ADS_1
" Dasar bucin." ujarnya sambil mencubit gemas pipi Fero.
" Kakak tidak tau bagaimana rasanya jatuh cinta,lain kali kau harus mencobanya." seloroh Fero,namun Robin nampak acuh dan tak perduli,Ia lalu menjauhkan diri dan duduk di sofa sudut kamar tersebut,tanpa mau menimpali ucapan Fero,membuat gadis itu mencebik kesal,dan tak mau melanjutkan ucapanya lagi.
jatuh cinta adalah hal yang mustahil baginya,walaupun sudah banyak kaum hawa yang berusaha menggoda,bahkan terang terangan menawarkan tubuhnya,namun Robin tak pernah merasa tertarik sedikit pun,hingga akhirnya banyak issue yang bermunculan jika pria tampan itu seorang penyuka 'terong'.
Sementara itu,Narend yang kini tengah berada di kantor nampak termenung,duduk di kursi kerjanya sambil memainkan pulpen,berkas berkas yang masih nampak menunpuk di atas meja seolah tak berkurang, pria itu semakin frustasi di buatnya.
Bayangan sang kekasih selalu menari nari dalam ingatannya,sesak di dada tak mampu terbendung saat rindu kembali menyusup dalam kalbu,jam di pergelangan tangan berputar begitu lamban,hingga akhirnya ia berusaha kembali fokus untuk menyelesaikan pekerjaannya terlebih dulu sebelum ia pergi.
Dan kini waktu yang di tunggu pun tiba,dengan segera Narend beranjak,menyambar jas yang gantungkan di senderan kursi kerjanya,lalu ia pun mulai meninggalkan area perkantotas,lekas pergi menuju rumah sakit dimana sang kekasih berada.
Tak lama pria itu sampai,para pengawal terlihat biasa saja,mereka membiarkan Narend masuk dengan mudah,ia sempat mengeryitkan dahi saat berjalan menyusuri sepanjang koridor terdapat banyak sekali buket bunga dan sebuah kado berbagai ukuran di sana,hingga akhirnya ia sampai di kamar sang kekasih.
"Aku fikir kau tidak datang." lirih Fero sambil merentangkan tangan.
" Aku pasti datang,bagaimana keadaan mu?" sahut Narend sambil memeluk sang kekasih dengan sangat erat,melepas rindu yang sejak tadi menyerangnya.
" Jauh lebih baik." Fero nampak enggan untuk melepaskan pelukannya,tangannya masih melingkar di punggung Narend,ia lalu merebahkan tubuhnya seraya manarik tubuh Narend hingga tubuh kekar dan kuat itu menindih tubuh kecilnya.
Pria itu berusaha untuk kembali bangun,namun Fero segera menarik dasi yang di pakainya.
__ADS_1
" Jangan pergi,aku merindukan mu." bisiknya dengan manja,membuat Narend merasa gemas,pria itu langsung menyambar bibirnya sekilas,dan mencium pipinya dengan gemas.
" Aku tidak akan kemana mana,tapi lepaskan aku,jika seperti ini terus aku bisa menyakiti mu." ujar Narend,berhasil membuat cekalan tangan Fero mengendur,gadis itu kembali duduk sambil melingkarkan tangannya di lengan Narend.
Narend di buat risih saat mendapati bukan hanya ada mereka di sana,walaupun Robin masih nampak acuh seolah tak melihatnya,pria itu hanya duduk di sofa dan asyik dengan dunianya sendiri,tanpa menghiraukan keadaan sekitar yang mungkin sudah terasa panas tersulut bara api cinta yang tengah di rasakan pasangan kekasih itu.
Narend melirik Fero yang masih bergelayut manja di lengannya,sambil sesekali menciumi telapak tangannya,matanya seolah menyatakan ' Jangan seperti ini,aku malu'
Gadis itu malah tersenyum,dan semakin mengeratkan dekapannya.
" Tenang saja,Kak Robin lebih polos dan dingin dari kamu,dia tidak akan terganggu dengan apa yang kita kalukan sekarang."ucapnya dengan lantang,membuat pria yang di maksudnya itu melirik,lalu tersenyum sinis.
" Aku tidak bisa menghentikan dua sejoli yang sedang di mabuk asmara,karena dunia akan terasa milik berdua.jadi percuma,mereka akan menganggap suara ku seolah bisikan setan,dan keberadaan ku seolah angin lalu." balas Robin panjang lebar,membuat Fero terkekeh, baru kali ini ia mendengar Pria yang sudah di anggapnya kakak itu mengeluarkan banyak kata kata.
Terdengar mengemaskan,hingga ia semakin tertarik untuk kembali menggodanya.
"Aku sudah bahagia,sekarang saatnya kakak mencari wanita untuk teman hidup mu,dan hiduplah dengan normal,tepis semua rumor yang menyatakan jika kakak...."
" Hidup normal? memangnya sekarang hidup ku tidak normal?" protes Robin tak terima.
" Aku tidak perduli dengan rumor itu,yang jelas aku bahagia dengan hidup ku sekarang." ucap Robin tegas,membuat Feri mengela nafas kasar sambil mengedikan bahu seolah menyerah,pasalnya ini bukan kali pertamanya ia bicara seperti itu pada Robin.
__ADS_1
Di usianya yang sudah cukup matang,serta memiliki wajah tampan dan hidup mapan, di saat Fero sudah beberapa kali ganti pasangan,namun Robin sama sekali belum pernah mengenalkan atau memberitahu jika dirinya tengah menjalin hubungan atau dekat dengan seorang wanita,sebagai adik yang baik tentu saja ia merasa khawatir,Fero hanya bisa berharap semoga suatu saat nanti akan ada gadis yang berhasil masuk ke dalam hatinya.