Takdir Cinta miss arogan

Takdir Cinta miss arogan
56.Menyamar


__ADS_3

Si kembar baru saja tiba di apartemen,saat hari menjelang sore,mata keduanya langsung terbuka lebar dengan mulut menganga saat melihat Fero yang tengah mengenakan hijab Syar'i milik Shafa,wanita itu nampak salah tingkah,hingga dengan cepat ia membukanya,namun Shafa langsung menahan tangannya saat hendak membuka kancing yang berada di bagian dadanya.


" Kenapa di buka?"


" Hmmm,,maaf Shafa aku sudah lancang memakai pakaian mu." ucap Fero merasa bersalah,Shafa pun tersenyum sambil menggelengkan kepala.


" Tidak apa apa,kak! santai saja,jika kak Diana suka pakai saja,lagipula aku tak pernah memakainya,ini adalah hadiah pemberian saudara ku yang tinggal di Mesir." jelas Shafa,Fero pun menghela nafas lega.


" Terimasih,ya." ucapnya.


" Kak Diana terlihat lebih cantik." tutur Marwah dengan mata berbinar,membuat Fero tersipu malu.


" Lebih cantik lagi jika hijabnya di pakai juga." tambah Shafa yang langsung di setujui Marwah,ia manarik tangan Fero dan menyuruhnya untuk duduk sambil menghadap cermin.


" Aku sudah mencoba memakainya,tapi tidak bisa." jelas Fero,membuat keduanya tersenyum.


"Sini aku bantu pasangkan,tidak bisa karena belum terbiasa." Shafa langsung meraih jilbab dengan warna senada,lalu mulai memakaikannya di kepala Fero.


" Waaahhh!!" seru si kembar,Seketika wajah keduanya kembali berbinar,mereka begitu takjub dengan kecantikan yang di pancarkan dari paras wanita di hadapannya.


" Masyaallah, aku serius,ini tidak bohong,kak Diana benar benar terlihat lebih cantik seribu kali lipat." ujar Marwah antusias,membuat Fero tersenyum salah tingkah,ia langsung mencubit hidung gadis itu dengan gemas.


" Tidak usah berlebihan." tuturnya,namun dengan cepat Marwah kembali membuka suara.


" Aku tidak berlebihan." rengek Marwah seolah meyakinkan,meminta untuk di percaya.


Lalu Shafa pun menyahut.


" Dia benar,kak! kak Diana terlihat lebih cantik dari sebelumnya,semoga bisa tetap istiqomah ya." ucap Shafa,dalam benaknya ia meresa terharu,saat melihat seseorang yang mau mencoba sesuatu yang mungkin banyak dari sebagian orang hal itu terlalu sulit, dengan beberapa alasan tertentu.


" Ok! sekarang kita bisa pergi." ujar Marwah antusias,sambil menarik tangan Fero,membuat gadis yang di tariknya terkesiap.


" Pergi kemana?"tanyanya dengan wajah yang mulai pucat.


" Kita mau main , sudah beberapa minggu tinggal di kota ini, tapi kita belum sempat jalan jalan,kak Diana kan sudah lama tinggal di sini,jadi kak Diana pasti tau tempat main atau tongkrongan yang bagus ." ucap Shafa penuh semangat,membuat Fero seketika bergeming,ia bingung harus membawa mereka pergi kemana,namun tanpa di pungkiri ajakan si kembar memang menggiurkan,mengingat ia pun sudah lama tidak menikmati udara kota Jakarta.


" Tapi..." lagi lagi ia terdiam,saat teringat akan situasi yang tengah dalam bahaya.

__ADS_1


" Ayo kak! tunggu apa lagi?" si kembar sudah bergelayut di tangan kanan dan kirinya, membuat Fero tak bisa menolak,ia juga tak bisa membuat ke dua gadis di hadapannya itu kecewa,setelah beberapa lama terdiam,akhirnya ia menemukan satu cara, saat ekor matanya melirik sesuatu yang tergelatak di atas tempat tidur.


" Kalian bisa pakaikan itu pada ku?" pintanya sambil melayangkan jari telunjuknya,menunjuk pada selembar kain.


" Cadar?" tanya Marwah sambil mengerutkan kening.


" Ya." sahut Fero seraya menganggukan kepala dengan mantap,ia sudah tau apa fungsinya,karena sering melihat banyak orang yang memakainya.


" Tentu saja." sahut Shafa,ia langsung meraih lembar kain hitam itu lalu memasangkannya di wajah Fero,sampai menutupi setengah dari bagian wajahnya.


Fero menatap dirinya lewat pantulan cermin, di balik cadar yang di kenakannya ia pun tersenyum puas.


" Penyamaran yang sempurna." gumamnya dalam hati.


" Ayok bestie,tunggu apa lagi?" Marwah langsung maraih tangan Fero dan membawanya keluar dari apartemenya,tak lama mereka telah sampai di depan lobby sambil menunggu seseorang yang hendak menjemputnya.


Tak lama sebuah mobil yang di kendarai seorang pria berhenti di depan ketiga wanita itu,tiba tiba Fero langsung terbelalak,ia menundukan kepala saat netranya menatap pria tersebut.


"Maaf sudah membuat kalian menunggu." ucapnya,yang langsung di balas dengan gelengan kepala.


" Tidak apa apa,Bang!" sahut Shafa.


Namun pria itu malah menyalah artikan tindakan Fero,seolah ia tengah menghindari kontak mata dengan lawan jenis,seketika sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman,entah kenapa hanya melihat matanya saja suasana jantungnya mendadak gaduh.


"Ekhemm!! Shafa kalian tidak mau mengenalkan abang pada teman mu itu?" tanyanya.


" Ah,iya! Shafa lupa,ini namanya kak Diana.


Kak Diana,ini namanya Bang Nizzam." ucap Shafa yang duduk di sebelah Fero.


" Hai,aku Diana." sapanya,seraya mengulurkan tangan,berusaha bersikap biasa saja agar tidak terlalu mencurigakan.


"Hai juga, Nama ku Nizzam." sahutnya,tanpa merilik,karena Nizza masih fokus menyetir.


Dengan cepat Shafa meraih tangan Fero dan kembali menurunkannya.


"Kita di wajibkan untuk tidak bersentuhan kulit dengan lawan jenis,kecuali mahramnya,dan lebih baik juga ucapkan salam untuk menyapa." bisiknya.

__ADS_1


Fero yang baru mengetahui soal itu langsung di buat salah tingkah,untung saja Nizzam masih fokus menyetir Sehingga tidak melihat tangan yang ia ulurkan.


" Maaf, aku tidak tahu." bisiknya.


" Tidak masalah,kita masih bisa belajar bersama sama." ucap Shafa lagi,dengan suara sepelan mungkin.


" Kita mau ke mana?" tanya Nizzam.


" Bagaimana kak,kita mau kemana?" tanya Marwah sambil menoleh ke belakang.


" Hmmmm,,lurus saja,sebentar lagi sampai." ucapnya.


Tak menunggu lama mereka pun sampai di sebuah tempat hiburan malam,seketika semua orang yang berada di dalam mobil tersebut nampak terkejut saat melihat banyak orang keluar masuk dengan penampilan nyaris telanjang,terkecuali Fero,gadis itu malah tersenyum lebar,ia langsung membuka pintu mobil dengan antusias.


Nizzam yang tadinya sempat berbunga bunga kini layu seketika.


Ia langsung menoleh pada kedua gadis itu dengan tatapan yang sulit di artikan.


" Kalian tidak salah memilih teman?" tanyanya sambil memicingkan mata.


Shafa dan Marwah hanya terkekeh,mereka menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Maaf,dia baru belajar." ucap Marwah sambil menunjukan deretan giginya.


" Ya ampuun!! aku baru saja merasakan jatuh Cinta,tapi kenapa harus pada wanita seperti ini." gumam Nizzam dengan lirih,ia kembali membulatkan saat melihat Fero yang sudah menyingkab ujung gamisnya dan menaikannya sampai ke lutut, sambil meliuk liukan tubuhnya mengikuti alunan musik yang masih terdengar walau ia masih berada di luar,tanpa menghiraukan tatapan aneh dari para pengunjung lain.


" Lihat itu?" serunya sambil menunjuk Fero.


" Astagfirullah!!" si kembar langsung memanggil Fero untuk kembali masuk ke dalam mobil.


" Kenapa?" tanya Fero menatap heran.


" Kita tidak bisa masuk ke sana." ujar Marwah ragu,Fero pun langsung mengerti dan menuruti permintaan si kembar untuk segera masuk ke mobil.


" Kita nonton saja." ajak Nizzam,dengan cepat ia pun langsung memutar stir menuju sebuah bioskop yang berada di dalam pusat perbelanjaan tak jauh dari tempat itu.


Di sana Marwah dan Shafa terus memimbing Fero untuk bisa berjalan dengan baik tanpa harus menaikan gamis yang di pakaianya, seperti yang Fero lakukan sebelumnya,Fero merasa frustasi,ia begitu kesulitan saat memakainya ,namun ia tetap berusaha untuk setenang mungkin dan melakukannya dengan baik,hingga ia pun berhasil melabui beberapa pria mencurigakan yang terus memperhatikan gerak geriknya.

__ADS_1


Fero bisa memastikan keberadaanya memang dalam bahaya,terbukti dari banyaknya pria mencurigakan yang berpapasan dengannya di sana,ia bahkan bisa dengan mudah membedakan ciri ciri pria biasa dengan pria yang berprofesi sebagai seorang bodyguard.


__ADS_2