Takdir Cinta miss arogan

Takdir Cinta miss arogan
29. Pedas


__ADS_3

Narend menepikan kendaraanya setelah sampai di tempat tujuan,sebuah warung makan sederhana yang nampak asing bagi Fero,gadis itu menatap heran padanya,tanpa mau turun dari dalam mobil,belum sempat bertanya Narend sudah keluar,lalu membukakan pintu mobil untuknya.


" Ayo!" ajaknya sambil mengulurkan tangan.


" Kita makan di sini?" tanya Fero memastikan.


" Ya,apa kau keberatan?" Narend balik bertanya.


" Tidak,aku hanya belum terbiasa." sahut Fero,ia pun langsung turun,dan maraih tangan Narend mereka berjalan sambil bergandengan tangan dan masuk ke warung makan tersebut.


" Kau mau makan apa?" tanya Narend saat mereka sudah sampai di depan kaca etalase yang menjajalkan beberapa pilihan lauk.


Fero nampak bergeming,makanan itu benar benar asing baginya, ia hanya tau ayam goreng dan telur dadar yang memang sudah menjadi makanan pokok bagi kebanyakan orang,namun tak ingin terlihat bodoh ia pun menunjuk apa yang terlihat enak menurutnya.


Tanpa menunggu lama makanan yang di inginkannya sudah ada di hadapannya,lengkap dengan segelas es teh manis,dengan ragu gadis itu pun mulai memasukan makanan tersebut ke dalam mulutnya.


Dan alangkah terkejutnya saat ia merasakan bibirnya yang panas serta tenggorokannya yang terasa terbakar.


Ia mengibaskan kan tangan di depan wajahnya dengan mata yang mulai berkaca.


" Astaga!! ini pedas sekali." cicitnya,membuat Narend panik,ia segera memberinya minum dan menyingkirkan piring berisi makanan tersebut.


" Kau tidak apa apa?" tanya Narend,Fero mengangguk masih dengan menjulurkan lidah serta mengembuskan nafas melalui mulutnya.


lalu menutup kupingnya yang terasa berdengung.


Tubuhnya pun bergetar,sambil menghentak hentakan kaki.

__ADS_1


" Kau tidak suka pedas?" Narend melirik piring Fero yang masih berisi penuh dengan makanan,ia melihat beberapa makanan pedas,di antaranya sambel goreng kentang,terong balado dan ayam rica rica.


Gadis itu mengangguk tanpa bisa berkata kata.


keringat mulai nampak bercucuran di dahinya.


" Aaakkkhhh,,Narend!! bagaimana menghilangan rasa pedas ini." Fero mulai frustasi masih mengibaskan bibirnya dengan telapak tangan.


Pria itu pun langsung memesan susu hangat yang di percaya untuk penetralisir rasa pedas.


" Kau tidak suka pedas,tapi kenapa malah memesan makanan pedas?" tanya Narend bingung.


" Mana aku tahu." sahut Fero setelah berhasil meneguk segelas susu hangat tersebut hingga tandas.


" Astaga,kau tidak tau makanan ini? main mu kurang jauh, Nona! dan pulang mu kurang malam." ujar Narend,ia lalu mengusap punggung Fero yang kini sedikit mulai membaik,namun Fero yang polos dan tak mengerti dengan candaan receh tersebut malah menanggapinya dengan serius.


Ya,dia baru ingat bahwa gadis yang di ajaknya makan itu adalah FERONICA PUTRI ANGGORO,putri tunggal dari seorang pengusaha sukses dan salah satu orang terkaya setanah air,mana pernah memakan makanan semacam itu,para koki di rumahnya saja di datangkan langsung dari luar Negara, makanan dari Negera mana pun bisa dia nikmati dengan mudah,tanpa harus keluar rumah.


" Maaf,aku tidak tau,aku kira kau memesan makanan itu karena kau memang suka pedas." ujar Narend merasa bersalah.


" Dasar bodoh! berarti kebersamaan kita kurang lama,sampai kau tak tau apa yang aku suka dan tak aku sukai." balas Fero sedikit kesal,Narend mengehela nafas kasar,rupanya singa betinanya itu belum sepenuhnya jinak.


" Iya,baiklah! maafkan aku,karena kebersamaan kita memang belum cukup lama,tapi mulai sekarang dan seterusnya aku akan lebih sering menghabiskan waktu dengan mu,hingga kita menua bersama." ucap Narend,dan akhirnya berhasil meluluhkan hati Fero dengan mudah.


Gadis itu tersenyum,lalu menyuruh Narend untuk melanjutkan makanannya,sementara ia memilih memperhatikan wajah tampan itu tanpa berkedip seraya bertumpu dagu.


Narend pun melanjutkan makannya dengan lahap hingga tandas tanpa menghiraukan tatapan gadis di depannya,setelah selesai ia langsung membayarnya,dan mereka pun pergi.

__ADS_1


Narend melajukan kembali mobilnya,menuju sebuah restoran mewah dan berkelas,yang pastinya sangat cocok untuk kalangan sekelas Fero.


Sebenarnya ia bisa saja memaksa kekasihnya itu untuk coba memakan makanan sederhana yang sering ia makan,namun sebagai pria ia tak pantas melakukan hal itu,terlebih Fero sudah terlahir dari kalangan atas yang selalu bisa mendapat apapun yang ia mau dengan mudah,tinggal di istana yang megah,di manjakan dengan barang barang mewah,tak mungkin Narend membawa Fero untuk mengikuti gaya hidupnya yang sederhana,yang ada dia lah yang harus berusaha untuk lebih bisa menyenangkan dan memenuhi kebutuhannya,lebih dari apa yang sudah orang tuannya berikan.


Namun tugas terberatnya bukan dalam masalah materi,melainkan mengubah sikap dan prilakunya,sikap yang baik mencerminkan prilaku yang baik juga,tak sedikit orang yang sudah bergelimang harta namun masih tetap merendah,dan tak memanfaatkan kekayaannya tersebut untuk berkuasa.hal itu yang ingin Narend ajarkan pada kekasihnya,dan pastinya ia akan melakukannya secara perlahan.


" Kenapa kita ke sini?" tanya Fero penasaran setelah sampai di parkiran.


" Kau belum makan kan? sekarang kau yang makan dan aku akan mememani mu." jelas Narend.


Tanpa berfikir panjang,Fero pun mengangguk,tak bisa di pungkiri cacing dalam perutnya memang sudah berdemo sejak tadi,terlebih ia sudah melewatkan sarapan tadi pagi akibat keberadaan saudara dan ibu tirinya.


Mereka pun masuk mencari meja yang masih kosong,sambil menunggu pesanan,Fero kembali membuka pembicaraan.


" Narend ! apa yang akan kau lakukan setelah berhenti bekerja dengan ayah ku?" tanya Fero ragu,mengingat ancaman sang ayah tak pernah main main,orang yang sudah mengecewakan seorang Bayu anggoro tidak akan lagi mendapat pekerjaan dengan mudah,kecuali jika mereka mau bekerja keras dan mau membuka usaha sendiri,namun tentu saja semua itu tak semudah membalikan telapak tangan.


Karena Bayu bukan orang sembarang,ia akan melakukan apa saja demi kepuasannya sendiri.


" Yang akan aku lakukan sekarang adalah bekerja keras,agar aku bisa segera membuktikan pada ayah mu,jika aku pria yang pantas untuk mendapatkan mu." balas Narend yakin.


" Tapi masalahya,kau mau kerja dimana? kau tau kan,ayah ku tidak akan membiarkan mu mendapat pekerjaan dengan mudah,perusahaan apapun tidak akan bisa menerima mu." balas Fero,raut wajahnya berubah,seolah menyiratkan kekhawatiran,Namun Narend masih bisa tersenyum tenang,ia menggenggam tangan Feri seolah meyakinkan.


"Kau tidak perlu khawatir, Walaupun aku tak bisa di terima di perusahaan manapun,tapi yang jelas aku masih bisa menciptakan lowongan pekerjaan untuk orang lain." ucap Narend membuat Fero mengerutkan kening tak mengerti.


" Makan lah dulu,aku akan memberi tahu mu nanti." titah Narend saat pelayan datang mengantarkan pesanan.


Fero mengangguk cepat,dan mulai makan dengan lahap,ia begitu semangat untuk mendengar penjelasan Narend selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2