Takdir Cinta miss arogan

Takdir Cinta miss arogan
40.Cobaan yang berat


__ADS_3

Sesampainya di apartemen,Narend langsung masuk ke dalam kamar mandi,melucuti pakaiannya,lalu menenggelamkan tubuhnya di dalam bathtub dengan air dingin,merileks kan otot dan juga persedian yang sempat menegang,ulah para manekin yang berani menggodanya,tak lupa ia pun mengguyur kepalanya,membersihkan debu debu yang mengotori fikirannya.


" Bisa bisanya kau bangun,hanya dengan melihat patung patung itu." kesal Narend pada adik kecilnya.


Sementara Fero,nampak antusias membongkar barang belanjaan yang di belikan Narend,gadis itu nampak tersenyum puas,pilihan Narend memang tak pernah salah,walau tak sesuai seleranya namun Fero tetap menyukainya,Gadis itu seketika mematung,saat netranya tertuju pada beberapa pakaian pribadi wanita,ia segera meraihnya dan membukanya.Saat itu juga ia terkikik geli.


"Ahh,,dasar! ternyata kau nakal juga." gumamnya dengan seringai di bibirnya.


Ia lalu mengangkat wajahnya ,melirik pada pria yang baru ke luar dari dalam kamar mandi,dengan hanya mengenakan sehelai kain handuk yang melilit di pinggangnya.


Tetes demi tetes air dari rambutnya mengalir indah menyusuri leher kekar hingga ke dada bidang yang berotot, dan hilang di telan grafitasi.


Fero langsung beranjak,mengayunkan kakinya dengan anggun dan pelan, menghampiri sang kekasih yang nampak menggoda.


" Sswwiiitt,,sssweeiiitt!!" Fero bersiul,gadis itu mengedipkan sebelah mata seraya mengigit bibir bawahnya.


Gadis angkuh yang selalu jual mahal pada orang lain, kini mendadak turun harga hingga sale besar besaran di buatnya.


Saat sudah saling berhadapan,Fero mengalungkan satu tangan di leher Narend,sementara satu tangannya merayap menyusuri patahan indah yang terukir seperti maha karya 3 dimensi di perutnya.


" Sempurna." hanya satu kata yang terucap dari bibirnya,sebelum tangan itu bergerak semakin ke bawah,dan...akhirnya ia berhasil menarik kain handuk tersebut hingga terlepas.


Seketika pria itu terbelalak,ia langsung mendekap Fero,hingga tubuh mereka menempel sempurna,bahkan Narend tak memberi ruang sedikit pun untuk bergerak,karena jika Fero bergerak sedikit saja,adik kecilnya akan terusik dan perlu waktu lama lagi untuk bisa menenangkannya.


Tak hanya tubuh,Narend juga sudah menempelkan bibirnya dengan lekat,hingga ciuman panas pun terjadi,semakin lama semakin dalam,Fero memejamkan mata merasakan sesuatu yang menonjol menyentuh perutnya,Narend pun mulai mengayunkan langkahnya,membawa tubuh Fero melayang ke udara seakan menembus awan,gadis itu tersenyum dalam hati, mengira jika Narend akan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur,lalu menindihnya,namun harapannya tak sesuai ekpetasi,Narend malah membawanya ke luar dari kamar tersebut,setelah berhasil dengan segera pemuda itu melepaskan ciumanya,ia lalu menutup pintu rapat rapat dan menguncinya,ia tak ingin Fero melihat adik kecilnya.

__ADS_1


Narend masih menyenderkan punggungnya di pintu,lalu menghembuskan nafas kasar,sambil memegang dadanya yang berdegup kencang,unpatan dan teriakan dari luar masih bisa di dengarnya,Namun ia tak mengiraukannya,dan dengan cepat ia punmemasangkan pakaianya.


" Kau jahat!" sungut Fero,saat Narend kembali membukakan pintu untuknya.


Gadis itu mengerucutkan bibirnya sambil melipat kedua tangannya di dada.


" Jahat kenapa,hmm?" pemuda itu sedikit mencondongkan tubuhnya,meraup wajah kekasihnya dengan gemas,lalu mengecup bibirnya sekilas.


" Aku kira kau akan melempar ku ke tempat tidur dan mengukung ku,seperti pada film yang pernah aku tonton." seloroh Fero,membuat pria itu menggelengkan kepala.


" Kau memang tidak pekak,aku jadi ragu apa mungkin kau memang tidak bisa bergoyang." celotehan Fero semakin membuat Narend terbahak,pria itu mengacak rambut Fero dengan gemas .


" Kau benar benar,menginginkanya?" bisik Narend


" Tunggu setelah aku menghalalkan mu,saat itu akan ku tunjukan goyanganku." balas Narend seraya menggulum bibirnya,merasa geli dengan ucapanya sendiri.


"Halal? Kau kira aku ini babi." protes Fero. Lagi lagi membuat tawa Narend semakin pecah.


" Mandi lah,segerkan fikiran mu!" titahnya,lalu ia pun keluar hendak memesan makanan untuk makan malam.


Fero tak bisa tinggal diam,selesai membersihkan diri,gadis itu keluar dengan mengenakan gaun meresahkan yang di belikan Narend tadi,gadis itu menghampiri sang kekasih yang kini tengah duduk di sofa sambil memainkan ponselnya,Fero langsung mendaratkan bokongnya di pangkuan Narend,hingga pemuda itu terperanjat,bola matanya seakan melompat dari tempatnya,begitu juga dengan jantungnya yang sudah bertingger di kepala,tubuh Narend bergetar,lututnya terasa lunglai hingga tak mampu menopang bobot tubuh ramping Fero.


" Ap...apa,yang kau kalukan?"lidahnya terasa kelu,namun pertanyaan menuntutnya untuk bertanya.


" Tidak ada,aku hanya ingin duduk di sini saja." sahut Fero,sambil mendorong tubuh Narend dengan gunungnya,hingga pria itu terjengkang ke belakang,dan menempelkan punggungnya di sandaran sofa,Narend bahkan bisa merasakan hangat dan kenyalnya benda tersebut yang terus mendesaknya,hingga membuatnya sesak nafas.

__ADS_1


Pria mana yang akan tahan,saat melihat kulit yang nampak begitu putih dan mulus tak ada cacat sedikitpun,serta tubuhnya yang aduhai cantik sekali bak gitar Spanyol,di tambah pakaian super mini dan tipis yang di pakaianya,seketika Narend ingin sekali menghajar seseorang yang telah berani merancang dan menciptakan pakaian tersebut.


" Ekhemm." pemuda itu masih berusaha menetralkan kegugupannya,walau nampak jelas jakunya naik turun.


"Tahan,, Mohon bersabar ini ujian!!" suara hati Narend.


Walau rasanya saat ini juga ia ingin sekali menjerit histeris,memohon ampun kepada gadis yang selalu berhasil membuatnya tak berdaya,menahan setiap gejolak yang semakin membara dalam dirinya,sungguh ia sudah menyerah dan tak sanggup lagi mengahadapi ujian seberat ini.


" Ada apa dengan mu,kenapa kau memakai pakaian seperti ini?" tanya Narend,setelah detak jantungnya kembali normal.


" Apa maksud mu? kau sendiri yang membelikanya,jadi aku harus memakainya." sahut Fero.


" Tapi,,itu bukanya untuk dal*man?"


" Bukan,ini jaring dan perangkap untuk menangkap buaya jantan yang lugu seperti mu." ujar Fero seraya berbisik mesra di telinga Narend,membuat pria itu themor seketika,membeku di tempat,tulangnya seakan mendadak lunak,hingga membuat tubuhnya terasa semakin lemas merosot ke bawah dan akhirnya ambruk begitu saja,seperti lelehan lilin yang terbakar api.


***TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA, SEMOGA SUKA.


JGAN LUPA LIKE


KOMEN


DAN VOTENYA YA...😊😊***


__ADS_1


__ADS_2