Takdir Cinta miss arogan

Takdir Cinta miss arogan
51. Gadis berhijab


__ADS_3

Sesuai janjinya,Robin membawa Fero kembali ke Jakarta,di sana Robin telah menyiapkan sebuah apartemen mewah dengan fasilitas dan pelayanan yang lengkap untuknya.Sebelum pergi ia ingin memastikan jika wanita yang di cintainya itu akan baik baik saja di tempat barunya.


Sebagai bentuk pertanggung jawaban dan permintaan maaf atas apa yang telah di lakukannya terhadap Fero.


Ia berjanji tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padanya.


" Ingat Nona! nyawa mu sedang terancam, untuk sementara sembunyikan identitas mu,aku sudah menyiapkan semua keperluan mu,aku pastikan kau akan aman di sini." ucapnya pada Fero,gadis itu tak menyahut,ia hanya diam dengan tatapan nanar.


" Jika aku tak bisa memiliki mu,setidaknya izinkan aku untuk terus menjaga mu." ujarnya lagi, seketika gadis itu menoleh padanya,ia lalu sedikit menarik sudut bibirnya berbentuk sebuah senyum sinis .


" Aku sudah tidak punya apa apa,apa lagi yang ingin kau jaga?" balas Fero membuat Robin semakin terpojokan.


Pria itu semakin merasa bersalah setiap kali Fero mengungkitnya.


Itu sebabnya Robin tak ingin lagi tinggal bersama.Tanpa banyak bicara pria itu pun pergi,namun tak lupa ia berpesan pada orang suruhannya untuk tetap menjaganya.


" Tetap awasi Nona,biarkan dia pergi dan melakukan apapun sesuka hatinya,tapi jangan sampai dia menyadari keberadaan mu,lakukan itu diam diam." tegasnya,saat ia tengah berada di luar apartemen.


Fero sama sekali tak perduli dengan apapun,otaknya hanya berfikir kemana ia harus pergi, dan bagaimana cara mempertahankan hidupnya yang mungkin tidak akan lama lagi,mengingat nyawanya masih dalam incaran seseorang yang berusaha untuk membunuhnya, seperti yang selalu Robin katakan.


" Persetan dengan itu semua,aku tidak perduli,lebih baik aku mati saja." gumamnya,tanpa berfikir lama,gadis itu langsung pergi meninggalkan apartemen tersebut,lama ia berjalan tanpa arah dan tujuan dengan langkah gontai dan tatapan kosong,ia bahkan tak memperdulikan suasana sekeliling,memikirkan nasib hidupnya yang berujung tragis,cinta dan kesucian yang selama ini ia jaga harus berakhir dengan cara yang mengenaskan,tanpa terasa Fero berjalan semakin jauh,hingga akhirnya ia sampai di sebuah jembatan penyebrangan orang,gadis itu berhenti sejenak di sana sambil terus memperhatikan kendaraan berlalu lalang di bawahnya,tiba tiba saja bisikan kuat mendorongnya untuk melakukan sesuatu.


" Ibu!! maafkan aku, mungkin ini saatnya kita bertemu,tolong sambut aku dengan senyum cantik mu." lirihnya.


Tanpa berfikir panjang, satu kakinya mulai terangkat,berpijak pada sebuah tiang pembatas,lanjut kaki lainnya,tanpa ragu kini ia sudah bertengger dengan kedua kakinya dan siap untuk terjun bebas,Fero memejamkan mata,masa hidupnya telah di ujung tanduk, malaikat pencabut nyawa sudah siap hendak menjemputnya,beberapa detik kemudian mungkin ia sudah berada di alam lain,meninggalkan dunianya yang kelam.


namun harapannya sia sia,saat sepasang tangan melingkar di perutnya,dengan cepat tangan itu menariknya kembali.


" Kakak! apa yang kau lakukan?" suara seorang gadis remaja mengejutkannya,perlahan Fero membuka mata,netranya langsung melebar saat melihat seorang gadis muda berhijab tengah menatapnya dengan raut wajah khawatir.


" Apa dia yang maksud bidadari surga?" gumam Fero dalam hati.


" Kakak,apa kau baik baik saja?" gadis cantik itu kembali bertanya,seketika Fero tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Hah,apa Aku belum mati?"gumam Fero sambil memperhatikan seluruh tubuhnya yang masih utuh,lalu melirik ke kanan dan ke kiri namun suasana masih nampak sama.


Gadis berhijab biru itu nampak di buat bingung oleh kelakukannya,ia menatap Fero sambil mengerutkan kening.


" Kakak,kau tidak apa apa?" tanyanya lagi,dengan cepat Fero meliriknya sambil melayangkan tatapan tajam.


" Kenapa kau mencegah ku?dasar bodoh,pergi kau!" teriak Fero sambil mendorong tubuh gadis berhijab itu hingga tersungkur kebelakang,namun dengan segera ia kembali beranjak,lalu berusaha untuk menghampiri Fero.


" Apa kau sedang ada masalah?" tanpa rasa segan atau takut gadis itu tetap berusaha untuk mandekatinya,ia lalu manarik tangan Fero,namun Fero malah menghampaskannya.


" Itu bukan urusan mu, pergi kau!!" teriak Fero,ia lalu berlari,namun gadis itu malah mengejarnya.


Sebagai mahasiswi jurusan psikologi,ia tak bisa tinggal diam,saat menyadari jika wanita di hadapannya tengah di rundung masalah, hingga sampai melakukan percobaan bunuh diri,oleh sebab itu hatinya tertarik untuk mendekati, dan berusaha menolongnya.


Fero berlari sekuat tenaga,tanpa menghiraukan teriakan dari gadis yang masih terus mengejarnya,tanpa ia sadari mereka kini tengah berada di tepi jalan raya,saat Fero hendak menyebrang tanpa di duga sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi.


" Awas kak!!"


" Aaakkkhhh.!!!" keduanya berteriak.


" Ssstttt!!" keduanya meringis saat merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya karena harus terbentur trotoar.


" Apa yang kau lakukan?" bentak Fero,membuat gadis itu terperanjat,namun sedetik kemudian ia tersenyum.


" Kakak baik baik saja?" tanyanya, dengan suara yang begitu lembut.


" Biarkan aku pergi! kenapa kau terus mengejarku? mau mu apa? apa jangan jangan kau mau menyakiti ku juga?" seloroh Fero,gadia itu menggelengkan kepala dengan cepat.


" Jangan lari lagi kak,aku tau kau sedang ada masalah,percayalah seberat apapun beban masalah yang kakak hadapi saat ini, semua itu tidak pernah melebihi batas kemampuan Kakak,percayalah aku tidak akan menyakiti Kakak,ini kartu identitas ku yang asli,dan ini kartu pelajar ku,jika aku macam macam kakak boleh melaporkan ku pada polisi." ujarnya, sambil menahan Fero saat hendak beranjak,lalu mengeluarkan beberapa kartu pengenal dari tas kecilnya.


Seketika Fero bergeming,lalu menatap manik mata yang syarat akan ketulusan,entah kenapa hatinya mulai luluh,ia lalu kembali duduk menghadap gadis yang kini tengah tersenyum lebar padanya.


" Kau tidak tau apa apa tentang masalah ku." lirihnya,matanya mulai berkabut,menahan sesuatu yang siap meluncur kapan saja.

__ADS_1


" Aku tidak tau karena kakak tidak memberitahu ku."sahutnya,sambil meraih tangan Fero lalu menggengamnya.


" Aku bukan kakak mu, lagi pula apa yang bisa kamu lakukan untuk masalah ku." ujar Fero.


" Tapi ku rasa kau lebih tua dari ku,jadi aku pantas memanggil mu kakak,


Seorang sahabat akan selalu ada untukmu ketika kamu punya masalah. Bahkan terkadang memberi saran yang bodoh hanya tuk melihatmu tertawa."ucapanya membuat


Fero tersenyum miring,lalu menghembuskan nafas kasar, hidupnya sudah terlalu lelah,ia tak punya lagi waktu untuk menanggapi ocehan gadis itu.


"Tapi sayangnya kau bukan sahabat ku,lagi pula aku tidak percaya dengan kata sahabat." gumamnya yang masih terdengar jelas.


"Kalau begitu Mulai sekarang kita sahabatan. Mana ku Marwah." gadis itu sempat membersihkan telapak tangannya yang kotor terlebih dulu sebelum ia menjulurkannya ke hadapan Fero.


Fero tersenyum sambil menggelengkan kepala,gadis di hadapannya memang beda,aura positif begitu terpancar dalam dirinya, sehingga kehadiranya bisa menghasilkan dampak baik untuk orang sekitarnya, termasuk pada orang yang baru ia kenal sekalipun,tanpa Ragu Fero pun membalas.


" Diana." balasnya,ia terpaksa memakai nama sang ibu demi menutupi identitas aslinya,yang mana nama Fero memang tengah di buru banyak orang demi ke pentingan pribadi,juga demi keselamatan dirinya sendiri dari incaran musuh musuhnya.


Marwah tersenyum lebar,tanpa di duga satu tangannya terulur meraih pipi Fero yang nampak pucat dan sembab itu.


" Namanya bagus,sesuai orangnya." Puji gadis itu yang kini di ketahui bernama Marwah.


" Mulai sekarang kita sahabatan,Ok!" ucapnya antusias.


" Kau yakin mau jadi sahabatku?"tanya Fero ragu


" Tentu saja."


" Kau belum tau tentang aku,hidup ku begitu buruk dan memalukan,bersahabat dengan ku tidak akan ada untungnya untuk mu." ujar Fero.


"Sahabat menunjukkan cintanya disaat ada masalah, bukan saat bahagia,aku ingin menjadi sahabat Kakak,tidak perlu ragu untuk membagi masalah kakak padaku,siapa tau aku bisa membantunya,percayalah,aku orang baik."


" Masalah ku tidak akan mudah terselesaikan,tapi aku memang butuh seseorang untuk menemani ku." lirih Fero sambil menatap Marwah,tatapan matanya begitu dalam,Marwah bisa merasakan bahwa wanita di hadapannya memang tengah membutuhkan perlindungan,hal itu membuat Marwah semakin iba,jiwa kemanusiaan yang beradabnya mulai meronta ronta,jiwa sosialnya semakin menggebu gebu,tanpa ragu iapun mengangguk.

__ADS_1


" Tidak perlu khawatir,aku akan menemani kakak,apa kakak bisa ikut aku sekarang?" ucap Marwah,menyadari jika mereka tengah menjadi pusat perhatian banyak pejalan kaki,karena keberadaanya yang terlihat memalukan, duduk lesehan di atas trotoar tanpa alas apapun.


TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA, JGN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTENYA YA..😊


__ADS_2