Takdir Cinta miss arogan

Takdir Cinta miss arogan
23. Kau wanita ku.


__ADS_3

Narend langsung membereskan pakaiannya,memasukannya ke dalam koper,tak lama pintu kamarnya terbuka,terlihat Fero datang tergesa gesa,gadis itu langsung masuk dan berjongkok di hadapanya.


" Narend, kau mau kemana? apa yang ayah ku bicarakan pada mu?" tanyanya.


" Maaf,Nona! aku tak bisa berada da di sisi mu lagi mulai saat ini,karena tuan Bayu telah menugaskan ku ke tempat lain." jawabnya.


" Tidak,itu tidak boleh terjadi." Fero langsung membongkar pakaian Narend yang sudah tertata rapi di dalam koper,melemparnya ke sembarang arah lalu menendeng koper tersebut dengan sekuat tenaganya.


" Kau harus tetap di sini,aku tak akan membiarkan mu pergi,kau sudah berjanji untuk selalu menemani ku." ucap Fero,dengan suara bergetar,dadanya kembali terasa sesak.


" Nona tenang lah,dengarkan aku dulu." Narend berusaha menenangkannya, merangkulnya dan membawanya ke dalam pelukan.


" Dengarkan aku,aku memang bukan pengawal mu lagi,tapi aku akan tetap menemanimu dan menjaga mu,bukan sebagai pengawal,tapi sebagai seorang pria terhadap wanitanya." jelasnya.


" Kau mengarti maksudku kan? kau sudah berusaha mempertahan ku,dan kini giliran ku untuk mempertahanmu,apapun yang terjadi kita akan terus bersama." ujarnya lagi,membuat Fero bergeming,air matanya mulai menetes membasahi pipi.Ia melingkarkan tangannya di pinggang Narend.


" Jadi,aku wanita mu?"tanyanya,sambil mendongakan kepala.


" Ya,kau wanita ku,mau kan?" Narend sedikit mencondongkan tubuhnya,mensejajarkan tinggi badannya.


" Maksud mu,pacar begitu?" tanya Fero lagi seraya memastikan,Narend mengangguk yakin.


" Iya, kau mau kan?"tanya Narend


" Kau yakin?"tanya balik Fero.


" Aku yakin,aku mencintai mu." ucapnya dengan bersungguh sungguh,dan itu semakin membuat Fero terisak hingga tak bisa berkata kata,ia menatap wajah Narend dengan lekat,nampak jelas ketulusan dari manik mata beningnya.

__ADS_1


Ia langsung tersenyum sambil menganggukan kepala lalu kembali memeluknya,Narend pun membalas pelukannya dan mencium pucuk kepalanya.


" Berhenti menangis." ujarnya seraya menyeka air mata yang masih deras keluar dari pelupuk mata gadis cantik itu,mengusap pipinya dengan lembut,sesaat tatapan mereka bertemu,ia mengecup sekilas mata sendu itu.


Lalu membawanya untuk duduk di tepi ranjang.


" Dengarkan aku,mungkin mulai sekarang kita tak akan bisa bertemu di rumah ini,tapi kita masih bisa ketemu di tempat lain,dan aku mohon tolong jaga diri baik baik selama aku tak berada di sisi mu."pinta Narend seraya mengenggam tangan Fero.


" Jadilah gadis yang baik,hadapi semua masalah dengan bijak,kita harus bermain cantik untuk melawan mereka,jangan mudah tersulut esomi,karena itu akan lebih mempersulit keadaan,kau mengerti kan? ucapnya lagi,Fero hanya mengangguk patuh tanpa bisa membantah,membuat Narend kembali menyunggingkan sudut bibirnya.


" Kau memang gadis pintar." ujarnya seraya mengusap kepala Fero dengan lembut,dan kini pemuda itu tak lagi segan untuk lebih dekat dengan gadis dihadapannya itu, karena mulai sekarang hubungan mereka bukan lagi sebagai pengawal dan majikan,malah, panggilan 'anda' dan 'Nona' yang sering ia sematkan hilang saat itu juga.


" Dan satu lagi,aku memutuskan untuk mengundurkan diri,aku tak ingin bekerja dengan ayah mu lagi,yah,aku sadar kasta kita memang berbeda,tapi aku akan berusaha keras agar bisa menyeimbangimu,sehingga aku pantas bersanding dengan mu,karena jika posisi ku masih sebagai pengawal,itu akan menjadi penghalang di antara hubungan kita."


Lagi lagi Fero hanya bisa mengangguk,mendengarkan dan menyimak semua yang di ucapkan Narend padanya.


" Terimakasih,kita akan berjuang sama sama agar bisa bersama selamanya,aku ingin kau menjadi wanita terakhirku,cinta terakhir ku,jika tuhan menakdirkan aku ingin kau menjadi istriku." ucapnya membuat gunung es yang menutupi hati Fero mencair sedikit demi sedikit,bahkan kata 'istri' yang tak pernah Fero bayangkan sebelumnya membuatnya tersipu kala mengingatnya.


" Kau mau kan?" goda Narend seraya mendekatkan wajahnya pada Fero,yang tengah menundukan kepala,lagi lagi Narend semakin mendekatkan wajahnya berusaha melihat rona merah pada wajah wanita yang kini sudah resmi menjadi kekasihnya.


" Hentikan,kau membuatku malu." cicit Fero sambil mendorong bahunya,ia menutup wajahnya dengan telapak tangan,membuat Narend terkekeh merasa gemas,kemudian ia kembali mendekapnya erat.


" Kau telihat semakin cantik jika sedang manja seperti ini." gumam Narend.


Sekian lama mereka berada dalam ruangan tersebut,Fero mumutuskan untuk pergi kembali ke rumah utama setelah membantu Narend membereskan pakaian yang sempat ia acak acak sebelumnya.


Setelah kepergian Fero,Bimo yang sejak tadi berdiri di teras kamar sambil memperhatikan keadaan kamar Narend yang tertutup merasa penasaran,ia pun langsung menghampirinya.

__ADS_1


" Narend,kau mau kemana?" tanyanya setelah berhasil masuk ke dalam kamar Narend.


" Aku harus pergi,mungkin tak akan kembali lagi ke sini,terimakasih karena kau sudah menjadi teman ku di sini." jawab Narend,sambil menepuk bahu Bimo.


" Kau serius?Lalu bagaimana dengan nona Fero,dia tak akan bisa jinak tanpa keberadaan pawangnya." ucapnya sedikit berkidik,membayangkan ketika ia dan kedua temannya berusaha menengkan Fero saat kejadian beberapa saat lalu.


" Kau tenang saja,aku sudah membacakan mantra padanya,dia tidak akan sebuas yang kau fikirkan." canda Narend,namun entah kenapa Bimo malah mempercayainya.


" Syukur lah." ucapnya seraya menghembuskan nafas lega.


"Memangnya Apa yang kalian lakukan di kamar ini tadi." bisiknya.


" Kami tidak melakukan apa apa,memang apa yang kau fikirkan?"elak Narend dengan santai lalu duduk di samping Bimo seraya memberikan minuman botol pada pria itu.


" Ah,sudahlah,aku tidak mau berburuk sangka."ucapnya sambil menegak minuman tersebut,setelah itu Bimo kembali ke luar,meninggalkan Narend hendak melanjutkan tugasnya.


Sementara di rumah utama,Fero nampak cuek seolah tak pernah terjadi apa apa saat berpapasan dengan ibu tiri yang menatapnya sinis,dan itu sama sekali tak membuat Fero gentar,ia malah semakin menantangnya.


Gadis itu berjalan di hadapannya dengan angkuh bahkan sedikit menyenggol bahunya, seolah tak melihat keberadaanya,dan itu semakin membuat Rika kesal.


" Gadis kurang ajar,lihat saja aku akan memberimu pelajaran!" ucapnya lantang,tanpa segan,membuat Fero tersenyum lalu membalikan tubuhnya lagi menghadap pada wanita paruh baya itu.


" Anda bicara padaku nyonya?"


"Ups!! apa Anda kesal karena aku telah menyenggol mu,maaf aku tak melihatnya,karena keberadaan anda di sini tak lebih dari butiran debu,yang hanya mengotori barang barang bekas di rumah ini." balasnya santai dengan gaya yang alegan,setelah itu ia melanjutkan langkah kakinya dengan tawa yang menggelegar,Hatinya begitu puas saat melihat raut marah dari wajah tua itu.


Ya,Narend benar, lebih baik melawanya dengan santai,usir secara halus,tak perlu mengeluarkan banyak tenaga,cukup dengan kata kata pedas yang mampu menusuk relung hati yang paling dalam hingga sampai menembus empedunya,dan itu akan membuat luka yang tak akan mudah untuk di sembuhkan.

__ADS_1



__ADS_2