
Satu bulan berlalu,kondisi Narend belum juga menunjukan tanda tanda membaik,Al beserta keluarga nampak syok setelah mengetahui kondisi anak angkatnya itu,yang semula mereka kira pemuda itu pergi melarikan diri bersama kekasihnya,seperti gosip yang sudah tersebar entah dari mana awalnya,mereka pun langsung memutuskan untuk segera membawa Narend ke Luar negeri,untuk mendapat perawatan yang lebih baik.
Walau pihak rumah sakit sempat melarangnya, karena Narend masih dalam pengawasan Robin,Namun akhirnya Al berhasil membawa Narend pergi dari rumah sakit tersebut.
Ayah dua anak itu membawa Narend ke salah satu rumah sakit terbesar di Singapura,sekaligus mengurus si kembar yang akan melanjutkan pendidikannya di sana.
Sementara di kediaman Anggoro,Bayu nampak frustasi dan putus asa,setelah kepergian anak gadisnya beberapa bulan lalu,walau ia sudah mengerahkan banyak pihak untuk mencarinya,namun hasilnya tetap nihil,tak ada satu pun yang berhasil mengetahui keberadaan Fero,pria paruh baya itu hanya mendapat informasi tentang kondisi Narend yang kini tengah mengalami koma,hingga ia pun yakin jika Fero tak lagi bersamanya.
Rika dan Jesicca yang diam-diam menguping pembicaraan antara suami dan orang suruhannya,nampak tertawa girang,mereka menyeringai sinis karena sudah berhasil menyingkirkan gadis yang selama ini menghambat rencananya.
" Sampai kapan pun dia tidak akan kembali,karena aku yakin jasadnya pun sudah habis di makan cacing." gumamnya.
Di tempat lain,Fero tak henti hentinya meminta pulang,rasa rindu pada sang kekasih tak lagi bisa terpendam,walau Robin selalu berusaha menghasut dirinya agar bisa melupakan Narend. Seolah olah pemuda yang di cintainya itu tak lagi peduli,Namun Fero tak bisa percaya begitu saja sebelum ia mendengar atau melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Beberapa kali ia mencoba untuk melarikan diri,namun para pengawal selalu berhasil menangkapnya lagi,hingga kini ia pun menjadi seorang tahanan,terkurung di dalam kamar seharian.
Gadis itu duduk di tempat tidur sambil memeluk lututnya,menyembungikan wajahnya di antara paha,ia mendongak saat mendengar pintu terbuka.
" Kak! aku mau pulang." lirihnya dengan suara parau,tenaganya mulai terkuras habis,hingga ia tak bisa berbuat apa apa,hanya bisa menangis sambil menunjukan wajah dan matanya yang sembab.
Robin terlihat mengepalkan tangan kuat kuat,berusaha meredam amarahnya,saat melihat makanan yang di sajikan lagi lagi tak tersentuh sama sekali,ia duduk di bibir ranjang tanganya terulur hendak menyentuh kepala Fero,namun gadis itu segera menepisnya,lalu memalingkan wajah,akhirnya tangan itu mengepal di udara,dengan segera Robin menariknya kembali.
__ADS_1
" Nyawa mu sedang dalam bahaya,nona! saat ini kau lebih aman berada di sini." ujarnya.
" Aku tidak perduli lagi dengan nyawa ku,yang jelas aku ingin kembali dan bertemu dengan Narend." teriaknya.
" Berhenti menyebut nama pria itu!aku sudah muak mendengarnya." bentak Robin membuat Fero terperanjat ia menatap Robin tak percaya,hingga kini matanya kembali berembun,cairan bening menggenang di pelupuk matanya.
" Kau menghawatirkan nyawaku,tapi secara tidak langsung kau sudah membunuh ku secara perlahan dengan mengurung ku di sini." gumam Fero dengan suara bergetar,ia lalu kembali menenggelamkan wajahnya,sehingga punggung itu nampak bergetar.
" Aku benci pada mu,Kak! aku benci!!" tegas Fero dengan penuh penekanan.
Robin di buat frustasi,ia menyugar rambutnya dengan kasar,lalu kembali ke luar,membiarkan Fero sendiri di dalam kamar.
" Secinta itu kah kau pada pria itu?sampai sampai kau tak pernah menganggap aku sebagai seorang pria,aku sudah bekerja keras agar layak untuk mendapatkan mu,dan tak hanya itu,aku juga berusaha untuk tetap menjaga dan melindungi mu dari jauh,tapi kau malah memilih pria yang baru hadir, karena dia selalu ada untuk mu."lirihnya.
Pria itu tersenyum kecut,menyadari kisah asmaranya yang berakhir tragis,melabuhkan hati pada wanita yang tidak tepat,ia sudah berusaha keras untuk menghindar,namun hatinya malah tak sejalan,kini ia sadar terkedang tuhan hanya mempertemukan,bukan mempersatukan,karena yang hadir belum tentu takdir.
" Ternyata cinta memang menyakitkan." gumamnya, sambil menekan dada kuat kuat,ia tersenyum lirih sambil menggelengkan kepala,rasa cintanya membuat dirinya lemah,walau sudah sering ia mendapat serangan peluru atau sabetan benda tajam,namun rasa sakitnya tak pernah sesakit ini.
" Aahh,,image ku bisa hancur jika anak buah ku melihat keadaan ku seperti ini." gumamnya lagi,sambil beranjak.
tak ingin berlama lama tenggelam dalam kegalauan,pria itu pun memutuskan untuk menyelesaikan urusannya terhadap seorang pria yang kini sudah menjadi tawananya,pria tersebut tak lain adalah Max pelaku penusukan terhadap Fero yang terjadi beberapa waktu lalu.
__ADS_1
Kemudian ia memasuki sebuah gudang yang berada di belakang Villa,sudut bibirnya tertarik membentuk seringai sinis, ketika mendapati seorang pria yang sudah terkapar berlumuran darah yang sudah mulai mengering.
Robin langsung menyiramnya dengan air hingga pria itu terperanjat,amarahnya semakin menggebu ketika mengingat apa yang sudah Max perbuat terhadap Fero,setelah mendapat cinta dari Fero, ia malah mengecewakan dan menyia nyiakannya,dan kini ia malah berusaha untuk menghabisi nyawanya dengan keji.
Robin tak bisa tinggal diam lagi,ia kembali menghajarnya tanpa ampun,meski tak ada niatan untuk membunuhnya,namun setidaknya ia bisa menyaksikan bajingan itu mati perlahan.
" Kau tau,aku yang lebih dulu mencintainya,tapi kau malah merebutnya dari ku,setelah berhasil mendapatkanya,kau malah menyakitinya." ucap Robin,sambil menarik rambut pria itu,hingga kini kepalanya mendongak menatapnya dengan mata setengah tersadar,namun Max masih bisa menyeringai,ia tenarik sudut bibirnya seolah mengejek.
Wajah yang sudah tak berbentuk serta tubuhnya yang nampak mengenaskan tak menyulutkan Max untuk tetap memancing amarah Robin.
"Jadi kau mencintainya?kalau begitu ambil saja,dia wanita yang membosankan,aku menyesal karena sudah berhabiskan banyak waktu hanya untuk mendapatkannya."ujar Max pelan,namun masih bisa di dengar.
Berharap Robin bisa menghabisinya langsung agar rasa sakit yang di alaminya segera berakhir,namun nampaknya Robin tak bisa terlabuai begitu saja.
" Tapi kau tenang saja,aku belum sempat menikmati tubuhnya,jadi kau masih bisa mendapatkan mahkota sucinya.Tapi,itu pun jika pengawalnya belum sempat mendahului mu."tambah Max sambil terkekeh,seolah menyiramkan bensin ke dalam kobaran api.
Membuat Robin semakin naik pitam,namun nyatanya pria itu selalu berhasil meredam amarahnya dengan baik,hingga kini ia hanya bisa membenturkan kepala Max dengan sangat keras pada dinding tembok beton,hingga lolongan yang menyayat dari mulut Max kembali terdengar.
Setelah itu Robin pun kembali ke luar.
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA,JGN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTE..😊
__ADS_1