
Setelah jam makan siang,Narend pamit pada Nizam dan meminta izin untuk membawa mobil perusahaan untuk menemui Fero.
" Aku tunggu kamu di tempat biasa." Pesan yang di kirim Narend,tepat saat Fero keluar dari kelasnya,gadis itu langsung menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyum yang manis,ia lalu bergegas menuju tempat yang di maksud Narend yaitu parkiran dimana mobilnya berada dengan perasaan berdebar.
Fero berlari kecil,saat melihat sosok pria jangkung itu tengah berdiri di samping mobilnya,namun sesaat kemudian langkahnya terhenti saat melihat bukan hanya ada Narend di sana.
Fero menghela nafas kasar,sambil melanjutkan perjalanannya dengan langkah gontai,saat menyadari pria yang bersama dengan Narend adalah seorang pengawal yang pasti di utus sang ayah untuk menjaganya,terlihat dari setelan jas yang rapi dan kacamata hitam yang di kenakannya.
" Menyebalkan." gerutunya sambil memajukan bibirnya,melihat Hal itu Narend langsung berjalan menyusulnya.
" Hai!!" sapanya,dengan senyum manis yang mampu membuat orang diabetes.
" Haii." balas Fero,namun matanya malah melirik pria yang masih berdiri di tempat yang sama.
" Hai! aku di sini?" Narend mengibaskan telapak tangannya di depan wajah Fero,membuat gadis itu terhentak,lalu tersenyum salah tingkah.
" Kenapa, apa ada masalah?" tanya Narend.
" Tidak ada."
" Lalu bagaimana dengan sidangnya?"
"Lancar."
" Lalu kenapa?apa kau tidak suka aku di sini?" tanya Narend yang langsung di jawab dengan gelengan kepala.
" Tidak,bukan seperti itu,tapi...." ucapannya tergantung,ia kembali melirik pria yang masih berdiri di samping mobilnya.
Narend langsung mengerti saat mengikuti tatapan Fero,ia lalu menarik tangan Fero dan membawanya untuk menghampiri pria tersebut yang nampak gugup saat berhadapan dengannya.
" Selamat siang,nona!" sapa pria tersebut seraya membungkukan sedikit badannya.
" Dia pengawal baru yang di utus oleh ayah mu,aku bisa sedikit merasa lega karena ada yang menggantikan ku untuk menjaga mu." ucap Narend santai tanpa beban,walaupun keberadaan pengawal itu pastinya akan mempersulit mereka untuk bertemu.
Fero sudah siap melayangkan tatapan tajamnya pada pria itu,wajahnya yang cantik kini berubah tak bersahabat,matanya nyalang seperti burung elang yang siap menerkam mangsanya,hingga pria tersebut ketar ketir di buatnya.
__ADS_1
" Maaf,Nona! tolong jangan lakukan ini pada saya,biarkan saya bekerja pada anda dengan nyaman dan tenang, saya membutuhkan pekerjaan ini,karena kekasih saya sedang hamil dan saya harus segera menikahinya." Pria itu memohon sambil mengatupkan kedua tangannya di dada dengan suara bergetar,mengingat nasib dan masa depannya tengah di ujung tanduk,karena ia tahu jika ia mengundurkan diri maka tak akan ada lagi perusahaan atau pun orang yang sudi mempekerjakannya.
" Saya akan melakukan apa saja,asal anda bisa bersikap baik pada saya." tambahnya lagi,membuat Fero semakin membulatkan mata.
" Dasar kurang ajar!memang selama ini aku pernah bersikap jahat,keterlaluan." teriak Fero kesal,namun Narend segera merangkul pundaknya dan mengusapnya lembut.
" Ampun,Nona! maafkan saya." ia semakin gemetar,rasanya ia ingin terkencing saat itu juga,menghadapi Fero lebih menakutkan di banding berhadapan dengan calon mertua, fikirnya.
" Siapa nama mu?" tanya Fero masih dengan suaranya yang nyaring.
" Bi--Bimo,Nona!" jawabnya gugup.
" Dasar bodoh!berani sekali kau menghamili seorang perempuan sebelum menikahinya,seandainya aku tidak kasihan pada kekasih dan calon bayi mu itu,ingin sekali aku menghabisi dan menginjak junior mu hingga hancur,aku benar benar benci dengan pria seperti mu." ucap Fero kesal,dengan penuh penekanan di setiap ucapannya.
Semua orang menatapnya,saat tak sengaja mendengar umpatan Fero,itu semua membuat Bimo semakin tak berani mengangkat wajahnya,sementara Narend hanya menggulum bibir sambil terus mengusap punggung Fero.
" Sayang!!" bisiknya lembut,membuat Fero yang tengah terbakar amarah langsung meredup seketika,ia terpaku di tempat hatinya seperti lelehan lilin yang terbakar api,bergeming lalu menatap Narend yang tengah tersenyum hangat padanya,dan akhirnya api yang tadi berkobar membakar ranting ranting kering dalam dirinya padam begitu saja,berubah menjadi taman bunga yang bermekaran.
" Aku ke sini untuk menemui mu dan mengajak mu pergi ,bukan ingin melihat mu marah seperti ini." tambah Narend,semakin membuat hati Fero berbunga bunga.
" Tidak perlu khawatir,Nona! saya sudah tau buhungan anda,dan saya mendukungnya,saya akan mengizinkan anda pergi bersama Narend,saya di sini saja menunggu Nona Jessica,yang penting saya bisa tetap bekerja." ucap Bimo seolah membari angin segar,Fero tersenyum lebar seraya berjingkrak kecil.
" Kenapa tidak bilang dari tadi,jika kau mau bekerja sama dengan ku,kalau begitu aku juga mendukung mu,kalau perlu kau bisa menghamili banyak wanita dan aku akan menanggung semua biaya pernikahan mu." seroloh Fero, membuat kedua pria itu menganga yang percaya.
" Kau bawa mobil?" tanya Fero lagi,yang langsung di jawab dengan gelengan kepala.
" Tuan Bayu bilang jika aku harus memakai mobil anda,Nona!" jelas Bimo.
" Baiklah,tapi jangan lupa langsung cuci mobil ku dengan bersih setelah gadis itu menaikinya,dan bilang padanya jangan berani menyentuh barang barangku,jangan merubah isi dan letak barang barangku, bahkan sekecil apapun perubahan itu aku akan mengetahuinya." ujar Fero panjang lebar,sambil melempar kunci mobilnya pada Bimo.
" Ayo pergi!" gadis itu langsung melilitkan tangannya di lengan Narend,lalu pergi begitu saja tanpa mengucapkan apa apa lagi,membuat Bimo kembali dapat bernafas dengan normal,ia bergidik ngeri saat melirik Narend dan Fero bergandengan tangan berjalan meninggalkannya.
" Gadis itu benar benar menyeramkan,seperti nenek sihir yang berubah wujud,tapi kenapa Narend bisa menyukainya,hhhuuufff aku lama lama aku bisa gila." ujarnya seraya menghembuskan nafas kasar.
Sementara pasangan kekasih itu kini sudah berada dalam mobil yang di bawa Narend,Fero masih bergelayut manja di lengan sang kekasih sambil menyenderkan kepala di bahunya.
__ADS_1
" Mau kemana sekarang?" tanya Narend,seraya mengecup pucuk kepala Fero.
"Terserah, Kemana pun kau pergi aku akan ikut." balas Fero semakin mengeratkan gandengan,menghirup aroma maskulin yang khas, membuat gadis itu semakin nyaman dan tenang.
" Baiklah,kita makan siang." ajak Narend yang langsung di angguki Fero.
"pakai dulu safety belt nya!" titahnya sambil membantu memasangkannya,tubuh mereka bersentuhan saat Narend menarik tali pengaman yang berada di samping kiri Fero,tiba tiba saja gadis itu meraih tengkuknya,lalu menyambar bibir tipis itu dengan buas,Narend pun membalasnya,manarik tubuh Fero kuat kuat hingga dengan mudah gadis itu sudah berada di atas pengkuannya,melingkarkan kakinya di pinggang Narend,mereka semakin memperdalam ciumannya,saling mencurahkan kerinduan dengan saling memautkan bibir dan tubuhnya yang semakin rapat.Narend melingkarkan tangannya di pinggang Fero dengan sangat erat begitu juga Fero yang menahan tengkuk Narend.
Hingga akhirnya mereka tersenggal kehabisan nafas dan mengakhiri ciumanya.
Fero tersenyum sambil menatap wajah tampan ke kasihnya itu dengan lekat,sementara Narend mulai menyalakan mesin mobil dan melajukannya tanpa melepaskan Fero yang masih duduk manis di atas pangkuannya.
Seolah nyaman dengan posisi seperti itu tanpa merasa terganggu,Fero pun dengan senang hati masih tetap duduk di sana,semakin merapatkan tubuhnya,lalu kembali menyenderkan kepalanya di bahu kekar Narend sambil sesekali mengecupi ceruk lehernya.
" Aku sangat mencintai mu." bisiknya dengan intens,membuat Narend semakin meremang,jiwa pria normalnya semakin tak terkendali,tubuhnya terasa tersengat listrik bertegangan tinggi,dan Fero pun merasakan sesuatu yang semakin lama semakin keras menonjol di sekitar pangkal pahanya.
" Kau menginginkannya?" tanya Fero menyeringai,seraya menggoda,ia mulai membuka satu persatu kancing kemeja Narend hingga memperlihatkan dada bidang yang mencetak di balik balutan kaos dalamnya yang ketat,seolah gadis itu berubah murahan di hadapan nya,namun Narend langsung menahan tangan itu saat kancing terakhirnya.
" Jangan! aku tidak ingin kau menginjak junior ku,seperti apa yang kau katakan pada Bimo tadi." ujar Narend sambil menghentikan laju kendaraanya,lalu menyuruh Fero untuk turun dari pangkuannya.
"Tidak masalah,karena aku juga menginginkannya,aku akan memberikannya untuk mu,hanya untuk mu.,aku percaya pada mu." bisik Fero yakin,namun Narend segera menggelengkan kepala,bukan menolak,tapi ia tak ingin melakukan sejauh itu sebelum terikat ikrar janji di hadapan tuhan.
Ia juga tak ingin merusak harga diri dan merendahkan wanita yang di cintainya dan menodai cinta sucinya,meskipun ia menyadari bahwa ciuman pun merupakan perbuatan yang salah.
"Jangan nakal,kau harus menjaganya dengan baik, Mahkota mu terlalu berharga,hanya suami mu yang pantas mendapatkannya,dan aku akan berusaha untuk menjadi suami mu." ucap Narend sambil mengancingkan kemejanya kembali dan membenarkan penampilannya.
" Baiklah kalau begitu,aku akan menjaganya untuk mu,hanya untuk mu." Fero mengalah ia menyenderkan punggungnya di senderan kursi dengan lesu,birahinya terpaksa harus ia tahan sampai Narend memenuhi janjinya,semetara Narend melanjutkan laju kendaraanya menuju suatu tempat yang mungkin belum pernah Fero kunjungi sebelumya.
*
*
*
Mohon bantuannya dan dukungannya,dengan memberi like komen dan vote,agar thor lebih semangat...😊
__ADS_1