
Akhirya Fero tau,setelah mendengar cerita dari si kembar, tentang apa yang telah Cyra lalui selama ini,berusaha untuk kuat dan mandiri memang bukan hal yang mudah bagi gadis seusia Cyra,tak jarang gadis berusia 17 tahun itu merengek, dan hanya bisa mengadu pada si kembar.Bagi Cyra,si kembar bukan hanya sebatas keluarga,melainkan sosok kakak yang selalu bisa di andalkan.
Terbukti pada saat ini,ketika Cyra menolak permintaan sang ayah,yang memintanya untuk masuk ke pondok pesantren.Cyra malah angkat kaki diri rumahnya,dan memilih untuk tinggal bersama si kembar.
" Maaf,kak! aku terlalu antusias menceritakan tentang Cyra,sampai lupa menanyakan maksud kak Fero datang ke sini." ujar Marwah,setelah sadar bahwa dirinya sudah terlalu banyak membicarakan hal-hal yang menurutnya tidak terlalu penting.
"Tidak apa-apa,setidaknya aku bisa tau masalah Cyra,agar kedepannya aku bisa mengerti,dan tidak terlalu mengiharaukanya.Lagipula kedatangan ku ke sini hanya ingin melihat kalian saja,ku rasa sudah cukup lama kita tidak bertemu." balas Fero,membuat si kembar tersenyum haru.
"Terimakasih,karena kak Fero masih mau menemui kami,walaupun bang Narend..." Shafa menjeda ucapanya, setelah melihat raut wajah Fero yang kini nampak berubah, setelah mendengar nama Narend.seketika ia pun mengerti apa yang tengah Fero rasakan.
" Kenapa,kak? apa bang Narend masih belum memberi kabar?" tebak Marwah.
" Hmmmm.." sahut Fero lemas.
" Jujur,aku juga tidak tau apa yang terjadi pada bang Narend,tapi aku rasa ada sesuatu yang dia sembunyikan." ujar Shafa,seraya menggenggam tangan Fero.
" Kami sudah berusaha mencari tau,tapi sepertinya ayah dan ibu tidak mengizinkan kami untuk tau." tambah Marwah,seraya ikut menghampiri Fero,lalu mengusap punggungnya.
" Kalian tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja,aku yakin suatu saat nanti dia akan kembali dengan membawa alasan yang masuk akal,dan aku berjanji akan selalu menunggunya." ujar Fero,sambil membalas genggaman tangan Shafa.
" kak Fero!!!" lirih si kembar,yang langsung mendekap Fero,seolah mengerti,dan ikut merasakan bagaimana rasanya di tinggal di saat sayang-sayangnya.
" Minggu depan kami akan pulang,jika kak Fero mau,ikut lah dengan kami." ajak Shafa antusias,namun tanpa fikir panjang Fero malah menolaknya.
" Maaf,aku tidak bisa.Karena sekarang aku harus mengurus perusahan ayah." ucap Fero, membuat si kembar kembali menghela nafas panjang.
" Sayang sekali." gumam Marwah.
" Lain kali saja,tapi jangan lupa, sampaikan salam ku pada Narend." ujar Fero sambil tersenyum, berusaha kuat agar si kembar tidak terlalu memperdulikanya,namun semakin kuat ia bertahan,semakin sakit juga yang ia rasakan,hingga akhirnya air mata yang lama terpendam pun kini mulai mengalir deras.
Fero menangis tersedu dalam pelukan si kembar.
"Aku mohon,untuk sekali ini saja, biarkan aku menangis." pinta Fero,membuat si kembar tak bisa berbuat apa-apa,mereka hanya diam,dan membiarkan Fero manangis dalam pelukanya.
" Kalian tau? aku sangat merindukannya." lirih Fero lagi,di sela sela isak tangisnya.
" Aku tau,kak! aku janji akan membawa Bang Narend kembali." ujar Marwah,membuat Fero tersenyum.
__ADS_1
" Terimakasih." Fero melepaskan pelukanya,kemudian menyeka air matanya,entah mengapa,usai menangis perasaanya menjadi sedikit lebih baik,ia pun akhirnya pamit untuk pulang.
Satu minggu berlalu,Fero masih tetap menjalani rutinitas barunya sebagai direktur,ia duduk di kursi kebesaranya dengan anggun,nampaknya ia sudah mulai terbiasa dengan pekerjaan tersebut,walau tak jarang ia masih mengeluh di saat keperjaanya tak kunjung selesai.
" Aku tidak bisa membayangkan,bagaimana ayah ku dulu bisa menyelesaikan pekerjaan sebanyak ini?" seloroh Fero,ketika Kevin masuk ke dalam ruangannya,sambil membawa beberapa tumpukan berkas.
" Berhenti mengeluh,ini belum seberapa." balas Kevin,membuat Fero memdesis sebal.
" Sebenarnya ada beberapa informasi yang harus aku sampaikan kepada mu." Kevin mulai serius,ia duduk di sofa sambil terus memperhatikan Fero yang nampak serius dengan berkas-berkas di hadapanya.
" Bicara saja,tidak perlu basa basi." sahut Fero,tanpa mengalihkan perhatiannya.
" Aku sudah berhasil menemukan ibu dan saudara tiri mu,sekarang apa yang akan kamu lakukan pada mereka?" ujar Kevin,membuat Fero seketika menghentikan aktifitasnya,ia lalu menatap Kevin dengan mimik wajah yang sulit di tebak.
Gadis itu menampilkan seringai mematikan.
" Dimana mereka sekarang?" tanya Fero.
" Aku sudah menyerahkan mereka pada Robin." sahut Kevin santai,namun tidak dengan Fero,gadis itu langsung terbelalak,lalu menggebrak meja dengan kencang,seperti menuangkan minyak ke dalam api,emosinya seketika meluap usai mendengar nama Robin. tak lama kemudian Fero merasakan dadanya yang teramat sesak ,tubuhnya pun mulai melemah,bahkan ia sudah tak sanggup untuk menopang berat badanya,hingga akhirnya Fero pun terkulai tak sadarkan diri, tubuhnya nyaris ambruk seandainya Kevin tak segera meraihnya.
Setelah mendengar keberadaan Fero di rumah sakit,Robin pun datang,ia menghampiri Kevin yang tengah duduk di kursi tunggu.
" Bagaimana kondisi Nona Fero?" tanya Robin.
" Dokter masih menanganinya." sahut Kevin.
"Dia pasti terlalu lelah, seharusnya kau tidak terlalu menuntutnya bekerja keras." ucap Robin,seolah menyalahkan.
" Mana aku tau,selama ini dia terlihat baik-baik saja." balas Kevin tak terima,sampai akhirnya dokter yang menangani Fero pun keluar,keduanya langsung berhambur,hendak memastikan kondisi Nona mudanya.
" Bagaimana kondisinya sekarang,apa dia baik-baim saja." tanya Kevin.
" Sepertinya Nona Fero mengalami trauma,apa mungkin ada sesuatu yang membuatnya syok?" dokter tersebut balik bertanya,membuat Kevin bingung,dengan ragu ia pun menggelengkan kepala.
" Ku rasa tidak." gumamnya.
Setelah beberapa lama menunggu,akhirnya Fero tersadar,ia mengedarkan pandanganya,menyapu seluruh ruangan bercat putih.
__ADS_1
" Dimana aku?" gumamnya.
Kevin yang baru saja selesai mengubungi Salsa,segera menghampiri.
" Syukur lah,kau sudah bangun." Kevin menghembuskan nafas lega.
" Kenapa aku bisa ada di sini?" tanya Fero.
" Tadi kau pingsan,makanya aku membawa mu ke sini." jelas Kevin,terdengar helaan nafas berat dari Fero,ia pun berusaha kembali menutup mata,namun bayangan kelam yang dulu ia alami,kini kembali bermunculan,seolah menari-nari di depan mata.
" Jangan...Jangan lakukan itu!!" Fero meracau,di iringi isakan.
" Nona,sadar lah!" saru Kevin,sambil mengguncang tubuh Fero,hingga akhirnya Fero kembali membuka mata.
" Kenapa? apa yang terjadi?" tanya Kevin panik,melihat raut wajah Fero yang nampak pucat dan menghawatirkan,tubuhnya berkeringat dingin,nafasnya pun tersenggal-senggal.
" Kau!!" tiba-tiba Fero menjerit histeris.
" Kurang ajar,berani-beraninya kau ke sini,pergi!! jangan pernah menampakan diri mu di hadapan ku lagi!!" teriak Fero seraya mengacungkan jari telunjuknya pada Robin,yang berdiri di ambang pintu,tanpa berani mendekat,gadis itu terus menjarit histeris sambil meronta-ronta,dengan sigap Kevin pun merangkulnya,berusaha untuk menenangkan.
Untung saja saat itu Salsa pun datang ,setelah mendapat panggilan dari sang suami,ia langsung menghampiri Kevin yang tengah kewalahan.
" Tolong tenangkan dia,aku akan memanggil dokter." titah kevin pada sang istri.
Setelah itu,dengan cepat Kevin pun mengajak Robin keluar,karena merasa ada yang tidak beres ,Kevin membawa Robin ke sebuah gedung kosong tak jauh dari rumah sakit.
" Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa Nona Fero sampai seperti itu?" tanya Kevin,sambil mencengkram kerah kemeja yang di pakai Robin,terlihat jelas amarah yang terpancar dari sorot matanya.
" Lepaskan dulu tangan mu!!" balas Robin,sambil berusaha melepaskan diri dari cengkraman Kevin.
Setelah kejadian itu,Robin memang selalu di hantui rasa bersalah,bahkan dirinya pun merasa tak habis fikir atas tindakannya sendiri,ia memang sudah berniat untuk menyerahkan diri pada polisi,namun sepertinya,hal itu belum setimpal dengan apa yang sudah ia lakukan pada Fero,oleh sebab itu Robin memutuskan untuk menemui Narend dan mengakui perbuatanya,berharap balasan yang setimpal dari Narend,namun sayang,pria itu malah memaafkanya.
Dan kini,tanpa ragu Robin pun kembali mengaku pada Kevin,tentang perbuatanya terhadap Fero dulu,hal itu tentu saja membuat Kevin marah besar,ia langsung menghajar Robin dengan membabi buta.
" Kurang ajar,seharusnya kau mati saja,pria seperti mu tidak pantas untuk hidup!!"geram Kevin,sambil terus melayangkan tinjuanya.
" Ya,kau benar,aku memang pantas untuk mati." sahut Robin,sambil menerima serangan bertubi-tubi dari Kevin,seakan-akan ia memang sudah siap untuk mati.
__ADS_1