
Selesai makan siang bersama,Fero akhirnya bersedia untuk pulang kerumahnya hendak menemui sang ayah,dengan hanya di temani Narend,gadis itu nampak ragu saat mobil yang di tumpanginya sudah sampai di depan gerbang rumah mewah tersebut,rasanya begitu asing setelah beberapa bulan ia pergi, dan tak pernah lagi menginjakan kaki di sana.
" Ayo,turunlah!" ajak Narend sambil membukakan pintu mobil untuk Fero.
" Aku takut." lirih Fero,yang masih bergeming,tanpa mau bergerak sedikit pun dari posisi duduknya.
" Kamu tidak usah khawatir,ada aku di sini." ucap Narend,berusaha untuk meyakinkan.
" Tapi kau hanya sendiri,bagaimana jika mereka melukaimu." terlihat gurat kekhawatiran dari wajah Fero.
" Kamu tenang saja,mereka di pihak ku." ucap Narend sambil menunjuk beberapa orang yang tengah memotong rumput liar di pinggir jalan tak jauh dari tempatnya berada. dengan mengenakan seragam petugas kebersihan , para orang suruhan Narend nyaris tak di kenali.
" Aku sudah menyiapkan semua ini untuk berjaga jaga." tambah Narend lagi,membuat Fero sedikit bisa bernafas lega,ia pun akhirnya turun dari mobil dan mulai melangkahkan kakinya untuk mendekati gerbang rumah mewah tersebut.
Para penjaga nampak terkejut,saat Fero tiba tiba masuk tanpa permisi,walau gerbang tersebut sudah di lengkapi alarm dan sebuah kode, sehingga tak mudah untuk bisa di masuki orang sembarangan, namun sebagai Nona muda di rumah itu,tentu saja Fero masih bisa memasukinya dengan mudah.
Tanpa menghiraukan tatapan para pengawal,Fero dan Narend mulai melangkahkan kakinya, mamasuki halaman hingga akhirnya mereka sampai di teras rumah mewah tersebut.
Dengan ragu Fero menekan bel dengan jari lentiknya, tak menunggu waktu lama,pintu utama pun terbuka ,dan nampaknya bukan hanya pintu saja yang terbuka ,ternyata mata dari seseorang yang telah membukakan pintu pun tak kalah lebarnya, hingga bola mata itu nyaris keluar dari tempatnya.
" Fero!!" gumam Rika dengan suara tertahan.
Sementara Fero langsung tersenyum sinis,saat melihat kalung berlian yang melingkar di leher ibu tirinya itu,rasa takut dan khawatirnya kini berubah menjadi rasa yang penuh kebencian.
Bagaimana tidak? kalung berlian tersebut satu satunya peninggalan dari mendiang ibunya,selama ini ia bahkan tak berani memakainya,hanya karena tak ingin merusak atau menghilangkannya,namun sekarang dengan lancangngnya wanita itu malah memakainya tanpa tau malu.
" Hallo nyonya,senang bisa bertemu dengan mu lagi." sapa Fero.
" Aku tidak percaya ini." gumam Rika lagi.
Dan saat itu juga Bayu baru saja datang dari aktifitasnya di kantor,Fero dan Narend belum juga menyadari kehadirannya,hingga akhirnya Fero memutar tubuhnya, untuk melihat siapa orang yang baru saja menyebut namanya.
" Fero,apa benar ini kau?" Bayu nampak terkejut sekaligus bahagia,bahkan pria paruh baya itu sampai melempar tas jinjingnya,untuk bisa memeluk putri tunggal nya.
__ADS_1
Sementara Fero nampak bergeming,saat Bayu memeluk erat tubuhnya,dengan isak tangis haru,tanpa terasa matanya pun mulai berkaca kaca,setelah sekian lama akhirnya kini Fero bisa kembali merasakan pelukan hangat sang ayah.Entah kapan kali terakhir sang ayah memeluknya seperti itu.
" Ayah tidak sedang bermimpi kan,kau putri ku, kan? astaga aku tak percaya ini."racau Bayu,sambil terus saja terisak,memperhatikan sang anak dari atas hingga ke bawah.
" Kau kemana saja?ayah mencari mu kemana mana, maafkan ayah,ayah benar - benar menyesal karena telah menyakiti mu." ucap Bayu terlihat begitu tulus,membuat Fero luluh,hingga akhirnya gadis itu pun membalas pelukan sang ayah,air matanya tak bisa terbendung lagi,ia pun terisak sambil bersandar di bahu Bayu.
" Kau putri ku,ayah mohon tetaplah di sini,dan jangan pernah mencoba untuk meninggalkan ayah lagi,ayah janji akan menuruti semua keinginan mu."ucap Bayu membuat, Fero menangis semakin tersedu,tanpa bisa berkata apa apa lagi.
Namun Rika tak bisa membiarkan hal itu berlangsung terlalu lama,wanita itu langsung menarik tubuh Bayu,hingga pelukan itu berakhir.
" Kau bicara apa,Mas! anak mu sudah kurang ajar,dia pergi begitu saja,tanpa memikirkan sedikit pun perasaan mu,dan sekarang dia kembali,dan kau akan dengan mudah menerimanya lagi?" teriak Rika.
" Aku yakin,dia ke sini dengan maksud tertentu." tambah Rika lagi.
" Ya,kau memang benar,tapi tenang saja, aku ke sini bukan untuk kembali,tapi aku hanya ingin memberitahu tentang rencana pernikahan ku dengan Narend,sebenarnya aku tidak mengharapkan kehadiran kalian,tapi setidaknya aku sudah memberitahunya, agar tak menjadi masalah di kemudian hari." balas Fero.
" Oh ya,kalian akan menikah? setelah beberapa lama tinggal bersama?Ah aku jadi curiga,apa jangan jangan kau....." Rika sengaja menjeda ucapanya,lalu melirik ke arah perut Fero,berniat untuk memancing emosi Fero.
" Kau yakin,apa aku akan percaya begitu saja?" tanya Rika sinis,di iringi dengan cibiran. Membuat Fero langsung mematung seketika,dadanya pun terasa sesak, dengan tatapan nyalang,refleks ia pun memegang perutnya sendiri saat menyadari apa yang akan di ucapkan Rika barusan.
" Kau lihat sayang! anak mu yang selama ini kau bangga banggakan,dan kau percayai itu sekarang telah menunjukan kebusukannya,Hah !! selamat ya,mungkin sebentar lagi kau akan menjadi kakek." cibir Rika,membuat Fero semakin naik fitam,dan kali ini ia benar benar tak bisa menahan diri untuk tidak memberinya pelajaran.
Gadis itu langsung meraih leher Rika dan mencengkramnya dengan kuat,tak hanya itu,ia pun menekan kuku tajamnya hingga nyaris menembus kulit leher dari wanita itu.
" Kurang ajar! dasar wanita sialan! berani kau menuduh ku yang bukan - bukan,akan ku robek leher keriput mu ini!! " Teriak Fero,amarahnya semakin mengiba, hingga tak ada satu pun yang bisa menghentikannya,bahkan Narend dan beberapa pengawal sekalipun tak mampu lagi melerainya.
Rika nyaris saja kehilangan nyawanya,jika Robin tidak datang saat itu juga.
" Hentikan!!" teriak Robin,seraya melepaskan tembakan ke udara,dan hal itu berhasil mengalihkan perhatian semua orang, termasuk Fero.
Narend dengan cepat langsung mendekap Fero,untuk membuatnya sedikit lebih tenang.
Robin yang datang secara tiba tiba,membuat Bayu semakin tak mengerti,tak hanya membawa beberapa anak buahnya,pria itu pun membawa Max yang sudah nampak mengenaskan, banyak luka yang terdapat di seluruh bagian tubuhnya,bahkan wajahnya pun nyaris hancur tak berbentuk.
__ADS_1
" Maaf tuan,jika aku sudah lancang datang ke sini,tapi ada sesuatu yang harus aku sampaikan."ucapnya.
" Bicaralah,jangan banyak basa basi,aku tidak punya banyak waktu." sahut Bayu dengas malas.
" Baiklah,sebenarnya aku lah yang selama ini membawa nona Fero pergi,aku sengaja menyembunyikannya di tempat yang jauh,untuk menghindari ancaman pembunuhan yang di tujukan untuknya." jelas Robin,berhasil membuat semua orang tercengang,terutama Rika, yang sudah mulai terlihat panik dan salah tingkah,wanita itu sudah nampak tak enak diam,apalagi saaf melihat tatapan Robin yang terus tertuju padanya.
" Hentikan Omong kosong mu itu!! dan katakan apa yang sebenarnya kalian inginkan?" Rika berusaha menyela untuk mengalihkan pembicaraan.
" Tenanglah Nyonya,tak ada yang kami inginkan, kecuali kebenaran." balas Robin.
" Apa anda tahu tuan,jika sebanarnya orang yang sudah berusaha menghabisi Nona Fero ternyata ada di rumah ini?" tambah Robin tanpa basa basi,membuat Rika semakin ketar ketir.
" Katakan sekarang,siapa yang kau maksud." tegas Bayu.
" Anda akan langsung mengetahuinya setelah melihat ini semua." ucap Robin,seraya menyerahkan ponsel yang berisi beberapa barang bukti berupa rekaman CCTV, yang ia ambil saat terjadi penusukan yang menimpa Fero di apartemen Narend beberapa bulan lalu,dan pesan suara yang di kirimkan pelaku utama pada Max.
Tak menunggu lama,Bayu memutar rekaman tersebut,sampai terdengar suara seorang wanita yang di kenalinya.
" Rika!!" gumam Bayu,dengan tatapan tajam, yang langsung tertuju pada wanita di sebalahnya.
" Apa? kenapa kau malah menuduh ku." lirih Rika sambil menunduk, tanpa berani mengangkat wajahnya.
" Aku harap ini bukan suara mu." gumam Bayu dengan suara beratnya.
" Tentu saja,itu bukan suara ku,apa kau tidak bisa membedakannya." Rika berusaha untuk terus menyangkal.
" Jika anda tidak percaya,cobalah hubungi nomernya,kontak Nyonya besar masih ada di sana." titah Robin,hingga tanpa pikir panjang Bayu pun menuruti perintah Robin,untuk menghubungi kontak yang sudah di sebutkan pria itu barusan.
Beberapa kali panggilan tersambung,namun tak kunjung di angkat.
" Kau lihat !dan kau tau sendiri ini satu satunya ponsel milik ku,tak ada panggilan masuk di sini,apa kau masih menuduh ku?" ucap Rika dengan percaya diri sambil menunjukan ponsel yang di genggamnya pada Bayu.
Dan sejak saat itu,Bayu pun mulai tersulut emosi,ia merasa sudah di permainkan,hingga akhirnya ia pun membawa Fero masuk, lalu menyuruh Narend dan Robin untuk pergi,tanpa mau mendengar penjelasan lain lagi.
__ADS_1