
Setelah itu tak ada lagi perbincangan di antara mereka,Robin kembali asyik dengan ponselnya berusaha menguak informasi tentang kejadian yang menimpa Fero,menstalking dari media sosial miliknya.
Sementara di waktu yang sama,Fero masih nampak antusias menunjukan hadiah yang di dapatnya pada Narend.
Untuk kalangan sekelas Fero barang tersebut memang tak seberapa,jika mau ia bahkan bisa membelinya hanya dengan menjentikan jemarinya,namun entah kenapa saat ini gadis itu nampak jauh berbeda,terlihat lebih manis dan menggemaskan,ia juga bisa menerima dan menghargai pemberian orang lain.
Hal itu membuat Narend tersenyum lebar,manik matanya tak lepas dari wajah ceria yang meneduhkan hati milik sang kekasih,refleks tangannya terulur membelai rambut panjang hitamnya dengan lembut,tak ingin menyurutkan senyum yang tersungging di bibir sang kekasih,Narend terpaksa memendam semua pertanyaan yang ada dalam benaknya,'Darimana hadiah hadiah tersebut.'
Itu semua bisa ia tanyakan nanti,yang terpenting senyum manis itu tak sampai memudar.
Tiba tiba sebuah ketukan pintu terdengar,semua mata tertuju ke arah suara,dan tak menunggu lama seorang perawat memakai masker serta nurse cap muncul dari sana,perawat wanita tersebut membungkukan badan sebelum menyampaikan maksudnya.
" Permisi Nona! masih banyak hadiah lain yang menanti anda di luar,dan ini salah satu." ucapnya,seraya menyerahkan sebuah kado yang di hiasi pinta cantik di atasnya.
Fero langsung menerimanya,sementara Narend dan Robin masih memperhatikan gelagat perawat tersebut yang sedikit nampak aneh,kedatangannya secara tiba tiba,hanya menyerahkan satu buah hadiah tanpa di perintah,bukanya masih banyak,kenapa hanya satu? menurut mereka tindakan perawat tersebut tak masuk akal dan terlalu mencurigakan.
Usai menyerahkan bungkusan kado tersebut,perawat itu pun pergi,belum sempat mencegah Robin dan Narend sudah di kejutkan dengan teriakan Fero.
Gadis itu menjerit histeris,sambil melempar benda yang baru ia terima itu,Robin dan Narend seketika terbelalak saat melihat apa yang membuat gadis itu histeris.
Sepasang bola mata manusia yang masih berlumuran darah melotot ke arahnya,kedua pria itu langsung bergerak cepat untuk menenangkan,namun Robin mengurungkan niatnya saat melihat Narend yang berhasil mendekap Fero lebih dulu.
__ADS_1
Dan akhirnya pria itu pun bergegas keluar memanggil para penjaga untuk segera menangani teror tersebut.
Narend mendekap tubuh sang kekasih yang masih gemetar,berusaha menenangkan perasaanya yang semakin terguncang,air matanya mengalir deras,serasa hangat saat menembus kemeja yang di kenakannya.
" Bawa aku pergi dari sini,Narend! aku takut." racaunya sambil meruang raung,berusaha melepaskan diri untuk bisa pergi dari sana,tanpa memperdulikan rasa nyeri panca oprasi,juga selang infus yang masih terpasang di nadinya.
" Ya,tenangkan dulu dirimu aku akan segera membawamu pergi." ucap Narend sambil terus merengkuh tubuh kecil Fero,dengan sekuat tenaga ia berusaha mencegah sang kekasih saat hendak beranjak.
" Aku tidak mau berada di sini,aku mau pergi saja,lepaskan aku!" teriak Fero semakin berontak,gadis masih berteriak histeris sambil terus meracau,kekuatannya dalam dirinya tak bisa tertahan lagi,hingga dengan terpaksa ia harus mendapat suntikan obat penenang.
" Dasar bodoh! kalian benar benar tidak berguna,kenapa kalian membiarkan orang asing masuk?" teriak Robin sambil melayangkan beberapa tinjuan ke wajah para penjaga hingga meninggalkan bekas lebam kebiruan,pria itu begitu nampak murka,membanting apapun yang bisa di gapainya,wajah tampanya memerah akibat amarah yang kian meluap,giginya gemertak,tulang rahang nya mengeras,para penjaga tak ada satu pun yang berani membuka suara,mulutnya seolah terkunci,menyadari kesalahannya terlalu fatal untuk bisa di maafkan.
"Sialan, Pergi dari sini! atau aku akan menghabisi kalian semua, aku tidak mau melihat wajah kalian lagi!" ucapnya dengan tegas,tanpa bisa di bantah.
Usai dengan urusanya Robin kembali ke ruangan dimana Fero berada,ia menghela nafas lega,saat melihat Fero yang sudah nampak terlelap.
" Kita tidak bisa membiarkan Nona Fero di rawat di sini lagi." ucap Robin sambil menatap Narend dengan raut wajah serius.
" Aku akan membawanya pergi jauh untuk sementara."tambah Robin,membuat Narend bergeming,pemuda itu menatap ragu pada pria di hadapannya.
Nyawa sang kekasih memang dalam bahaya,ia tak bisa berbuat banyak,demi kesalamatan Fero ia terpaksa harus merelakan kekasihnya itu untuk tidak tinggal dengannya lagi.
__ADS_1
" Kemana kau akan membawanya?" tanya Narend.
" Ke suatu tempat yang tidak mungkin terjangkau siapa pun."
"Beri tahu aku,tempat apa yang kau maksud?" tegas Narend,namun pemuda itu malah menggelengkan kepala.
" Aku tidak akan memberitahu mu sekarang."ucapanya,membuat Narend ragu,ia tak bisa percaya begitu saja pada pria yang mengaku sebagai kakak angkat kekasihnya itu.
"Jangan coba coba untuk memisahkan kami,Aku tidak akan membiarkan mu membawa Fero pergi,sebelum aku mengetahui kemana kau akan membawanya." tegas Narend,membuat Robin tersenyum sinis,ia melangkah memdekat mengikis jarak di antara mereka.
"Perlu aku ingatkan, Aku sudah memberikan mu dua kali kesempatan untuk membawanya pergi dan tinggal di rumah mu,tapi lagi lagi kau gagal,dan sekarang kau membiarkan Fero ku ketakutan seperti itu." ujar Robin,tatapannya dingin,namun pancaran api nampak jelas syarat akan ancaman,hal itu membuat Narend semakin yakin untuk tak melepaskan Fero pada Robin.
" Dia kekasihku,kau tidak bisa membawanya begitu saja,asal kau tau, dia tidak akan bisa hidup tenang tanpa aku." tegas Narend,hingga berhasil menyulutkan emosi dalam diri Robin,pria itu langsung mendaratkan tinjuannya di pipi mulus Narend,pemuda itu sempat tumbang dan tersungkur ke belakang,namun dengan cepat ia kembali beranjak,sambil memegang pipinya yang terasa kebas.
" Justru kehadiran mu yang membuat hidupnya menjadi tidak tenang,dan selalu mengalami banyak masalah." bantah Robin.
" Langkahi dulu mayat ku,jika kau ingin membawanya pergi." Narend langsung membalas tinjuan dengan brutal,dengan cepat ia menindih tubuh Robin yang sudah terkapar,dan kembali melayangkan beberapa tinjuan di wajah dan perut pria itu,tak sedikit pun Narend memberi kesempatan lawanya untuk melawan.
Namun tanpa di duga orang suruhan Robin mulai berdatangan,mereka menghalau aksi brutal Narend dan berhasil menghentikannya,mereka juga membalas dengan menyerang Narend memukul dan menhajar Narend hingga pria itu kini tak berdaya,jumlah yang tak sesuai membuat pemuda itu kewalahan,ia tak bisa melawan dan tak bisa lagi menahan saat Robin dan orang suruhannya membawa Fero yang masih terlelap di atas brankar.
" Jangan!! jangan bawa dia." lirihnya,sebelum mata itu tertutup dalam kondisi tubuh yang sudah melemas terkapar tak berdaya, serta darah segar bercucuran memenuhi seluruh tubuhnya.
__ADS_1
TERIMASIH SUDAH MEMBACA JGN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTENYA YA..😊