
Sebelum kejadian pilu itu terjadi,Bimo sebagai pengawal yang tak becus menjaga Nona mudanya sempat di buat panik,saat mengetahui niat jahat Rika yang telah mengubah seisi ruangan dengan sesuatu yang berbau merah,sama hal nya dengan para palayan,mereka hanya bisa menuruti perintah tanpa bisa berbuat apa apa apaĺagi menolak.
Oleh karena itu Bimo pun memanggil Narend untuk segera datang,namun setelah Narend tiba di sana,para penjaga gerbang tak mengizinkannya masuk,hingga akhirnya keributan pun tak terhindari, dan semua itu mengakibatkan Narend terlambat menolong Fero.
******
" Fero, bangun lah! kau dengar aku?" Narend menepuk ringan pipi kekasihnya,berharap Fero menyahut.
" Bantu aku!" titah Narend sambil membawa Fero masuk ke dalam kamar,pada seorang pelayan perempuan yang sejak tadi hanya memperhatikannya dari jarak dekat.
Narend segera membawa Fero ke dalam kamar mandi,membasuh tubuh yang berlumuran darah tersebut dengan tangannya sendiri,tak perduli jika tubuh mulus yang indah itu nampak jelas di matanya, melambai lambai hendak menggodanya.
" Apa dia pernah seperti ini sebelumnya?" tanya Narend pada pelayan yang membantunya.
" Iya,tapi tidak sampai pingsan seperti ini." jawab Sang pelayan.
Setelah selesai membersihkan tubuh Fero dan juga memasangkanya baju,Narend membawa kekasihnya itu ke rumah sakit,di temani Bimo.
Selama dokter mananganinya,Narend dan Bimo menunggu di luar,dengan harap harap cemas.
" Jika terjadi apa apa pada Fero,aku tak akan segan segan untuk menghabisimu." ancam Narend dengan penuh penekanan,membuat Bimo semakin tertekan,karirnya terancam hancur,bukan hanya Narend yang akan menhajarnya tapi juga Bayu yang akan menendangnya tanpa ampun,seperti buah simalakama,Bimo di hadapkan di posisi serba salah,kalaupun dia menolong Fero tadi,Rika tidak akan membiarkannya berlama lama kerja di sana lagi,karena sebagai nyonya di rumah mewah tersebut peran Rika sama tingginya dengan Bayu,tak ada yang bisa melawannya kecuali Fero.
Lama menunggu akhirnya seorang dokter keluar dari ruang pemeriksaan,memberi keterangan tentang kondisi kesehatan fisik dan mental Fero saat ini.
__ADS_1
Setelah merasa cukup dengan apa yang perlu di sampaikan,dokter itu pun berlalu,mempersilahkan Narend untuk menemui Fero yang kini sudah sadarkan diri.
Namun ada yang aneh,Fero nampak begitu rapuh,ia duduk di atas brankar sambil memeluk lututnya,menenggelamkan wajah di sana.bahkan ia tak berani membuka matanya sama sekali.
Kejadian yang terjadi 15 tahun lalu kembali terbayang,saat kecelakaan besar menimpa sang ibu ,dan itu merupakan hal paling buruk dalam hidupnya
Fero yang saat itu baru berusia 5 tahun,harus menyaksikan kejadian mengenaskan itu dengan mata kepalanya sendiri ,saat sebuah mobil konteiner melindas tubuh sang ibu,hingga kepalanya terputus,hingga terlempar dan tergetak tepat di hadapanya,darah segar menutupi wajah cantik ibunya,tak hanya itu, jalanan yang menjadi saksi bisu,tempat perkara itu terjadi pun berubah menjadi lautan merah yang pekat.
" Jangan,jangan lakukan itu padaku,aku tidak mau,kau tidak suka!!" gemam Fero denga suara bergetar
Narend pun meraih tubuh kekasihnya itu yang nampak ketakutan,hatinya terasa sakit saat melihat sang pujaan hati dalam keadaan yang menghawatirkan.Sikap sombong dan arogannya yang selalu ia tunjukan, seolah terhempas begitu.
" Fero! maafkan aku karena tak bisa menolong mu tepat waktu." Narend mendekapanya dengan sangat erat sambil mengecupi pucuk kepalanya.
" Tenanglah,sayang! aku ada di sini." tambahnya lagi.
" Kita pulang,aku akan membawa mu ke apartemen untuk sementara." ucapnya,lalu ia pun meraih tubuh Fero dan mengendongnya,membawanya ke dalam mobil hendaknya mengajaknya ke apartemen,masih di temani Bimo.
Jam dinding di dalam kamar Narend sudah menunjukan pukul 11.00 siang,seharusnya saat ini Narend berada di kantor,mengingat ia baru saja kembali masuk ke sana,namun karena kejadian ini terpaksa mau tidak mau ia harus menemani Fero yang tengah merebahkan tubuh di ranjangnya, masih dalam kondisi yang menghawatirkan,pandangannya kosong antara sadar dan tidak,bahkan ia tak menyahut atau mengatakan apapun saat Narend mengajaknya berbicara.
" Fero! bicaralah.Ku mohon jangan membuatku khawatir." ucapnya,seraya menggenggam tangan sang kekasih dan mengecupi punggung telapak tangannya.
Namun Fero masih saja bergeming,kedipan mata dan tarikan nafasnya saja yang seolah masih terlihat bergerak.
__ADS_1
Dan tiba tiba,suara ponsel Narend berdering,pria itu menggeser tubuhnya hendak meraih benda pipih tersebut yang tergeletak di atas nakas samping tempat tidurnya.
" Iya,hallo!" ucapnya,saat ponsel itu menempel di telinganya.
" Hallo,Narend kau dimana? hari ini kita ada meeting penting,kau harus segera ke kantor sekarang juga." ujar seseorang di balik sambungan telepon.
" Baiklah aku akan kesana,tapi setelah jam makan siang." balas Narend.
" Baiklah,aku tunggu,jangan sampai telat,kau harus ingat ini meeting penting dengan salah satu perusahaan besar,kita tidak boleh menyia nyiakan kesempatan bagus ini."
ucap orang tersebut yang tak lain adalah Nizam,suaranya begitu bersemangat hingga Narend tak mampu menolak,bagaimana tidak,kali ini mereka akan mengadakan pertemuan penting yang akan membahas tentang kerjasama yang melibatkan perusahaanya dengan perusahaan terbesar asal Korea,banyak perusahaan yang mengajukan kerjasama dengan perusahaan tersebut, namun hanya beberapa perusahaan yang terpilih dan salah satunya adalah SM group.
" Ya aku tahu." sahut Narend malas,ia lalu mematikan ponselnya dan kembali menghampiri Fero.
" Sayang! maafkan aku,aku harus pergi." ucap Narend yang langsung mendapat tatapan sendu dari Fero
" Jangan tinggalkan aku." lirihnya,semakin membuat Narend frustasi,ia mengusap wajahnya dengan kasar,lalu kembali menatap Fero.
" Aku ada meeting penting yang tak bisa di tinggalkan,ingat sayang! ini kesempatan baik untuk ku,jika mereka menerima kerjasama kita,perusahaan ku akan lebih maju,dan aku bisa segera menikahi mu." bujuk Narend sambil mengenggam tangan Fero,membuat Fero kembali bergeming,menatap Narend dengan wajah keberatan.
"Kau tidak usah khawatir, Ada Bimo di luar,panggil saja dia kalau kau membutuhkan sesuatu dan jika terjadi apa apa segera hubungi aku." Narend meraup pipi Fero dan mendekatkan keningnya,tatapan mereka bertemu deru nafaa dari keduanya terasa hangat menerpa wajah,lama berdiam Fero mengangguk kecil,membuat senyum terbit di bibir tipis Narend.
" Terimakasih,sayang! aku mwncintai mu." lirihnya,seraya menempelkan bibirnya,dengan lembut dan perlahan.
__ADS_1
" Aku akan pesankan makanan,jangan lupa makan dan istirahatlah,aku akan segera kembali setelah urusan ku selesai." ujar Narend ,setelah menghentikan ciumannya,ia lalu pergi karena waktu semakin mepet,tak ingin mengecewakan siapapun, karena bagi kalangan pembisnis waktu adalah uang,jangan sampai uang itu terbuang sia sia karena harus menunggunya.
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA,JANGAN LUPA LIKE VOTE DSN KOMEN..😊