
Tak ingin terlalu lama mendengar olok olok dari Nizzam,Narend segera bertanya apa maksud Nizzam memanggilnya.
"Aku baru saja mendapat telepon dari kampung,nenek ku di sakit,dia di rawat di rumah sakit,dan aku harus segera menemuinya." jelas Nizzam,membuat Narend seketika bergeming,ketiadaan Nizzam di perusahan itu tentu akan membuat pekerjaannya terhambat,namun ia pun tak bisa melarangnya pulang.
" Ya sudah,sebaiknya kau segera pulang." ujar Narend,walau nampak keberatan.
" Kau yakin bisa menghandle semua pekerjaan?"
" Ya,akan aku usahakan." balas Narend malas.
" Baiklah,terimakasih! aku akan segera kembali setelah nenek ku sembuh,ingat kau jangan macam macam di sini." ujar Nizzam seraya mengacungkan jari telunjuknya.
" Iya,aku tau,kau tenang saja." sahut Narend,lalu mereka pun berpelukan,saling menguatkan,memberi dukungan sebelum Nizzam pulang ke kampung halamanya.
" Sampaikan salam ku pada Ayah dan Ibu." pesan Narend,sebelum ia keluar dari ruangan Nizzam dan kembali ke ruangannya.
" Siapa pria itu?" tanya Fero,saat Narend datang.
" Sekretaris ku." sahut Narend,ia lalu duduk di kursi kerjanya,dan mulai membuka laptop dan juga berkas berkas yang sudah menumpuk di atas meja.
" Oh,apa dia membicarakan ku?"
" Bukan,dia hanya pamit pulang,karena neneknya sakit." sahut Narend lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas berkas tersebut.
Fero pun mengangguk faham,dan kembali duduk di atas sofa sambil memainkan pinsel,menunggu Narend menyelesaikan pekerjaannya.
Lama berdiam diri membuatnya bosan,gadis itu mulai beranjak lalu menghampiri sang kekasih dan berdiri di belakangnya,tangan lembutnya mulai nakal menggerayangi pundak dan turun ke dada,mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan,menatap wajah sang kekasih dengan lekat,sementara Narend masih terlalu sibuk, ia bahkan tak menghiraukan godaan kekasihnya.
__ADS_1
Fero pun sudah merasa gemas,ia mengecup pipi Narend sekilas,membuat pria itu terperanjat,lalu tersenyum saat melirik Fero yang nampak merajuk,pria itu menarik pinggang Fero dan membawanya ke pangkuan.
" Kau bosan?" tanya nya
" Hmmm." Fero mengangguk.
" Tunggu sebentar lagi, sampai jam makan siang." ucap Narend sambil melirik jam di pergelangan tangannya.
" Ada yang perlu aku bantu,siapa tau aku bisa sedikit meringankan pekerjaan mu?" tawar Fero,membuat Narend terdiam,lalu melirik sang kekasih,dan tak lama ia pun tersenyum,sepertinya tawaran yang menarik,Fero bisa menggantikan posisi Nizzam untuk sementara selama pria itu tidak ada,bekerja sekaligus berkencan pasti sangat menyenangkan.
" Memangnya kau bisa?" tanya Narend.
" Tentu saja,aku pernah magang di perusahaan ayah ku! hmm.. maksud ku perusahaan Anggoro." ralat Fero.
" Itu memang perusahaan ayah mu." ujar Narend seraya menggusap punggung Fero dengan lembut.
" Baguslah,kalau begitu kau bisa lampirkan VC mu terlebih dulu,jika ingin membantu ku, dan menjadi sekretaris ku." ujar Narend sambil menyunggingkan sudut bibirnya.
" CV nya akan menyusul nanti." balas Fero,
Gadis itu pun melepaskan diri,dan turun dari pangkuan sang kekasih,ia nampak fokus saat mendengar penjelasan Narend tentang pekerjaan yang harus ia kerjakan,dengan otaknya yang cerdas, serta kemampuan yang di atas rata rata,tentu saja Fero bisa dengan mudah menyerap apa yang di ucapkan kekasihnya itu,ia langsung mengambil alih sebagian keperjaan Narend lalu kembali ke sofa dengan berkas berkas di tangannya.
" Narend! kau harus membayarku tiga kali lipat,dari gaji sekretaris mu." canda Fero membuat Narend tergelak.
" Mana bisa begitu,kau baru karyawan kontrak,belum menjadi karyawan tetap,jadi bekerjalah dulu dengan baik,baru aku akan menaikan gaji mu." balas Narend.
" Baiklah,tidak masalah kalau pun kau tidak memberi ku gaji,tapi kau harus menuruti keinginan ku, dan memenuhi kebutuhan ku." ucapan Fero membuat Narend semakin tergelak sambil menggelangkan kepala,ia tak bisa membalas omongannya lagi,karena ia tak mungkin bisa menang,gadis itu memang cerdik,kebutuhannya sehari hari bahkan lebih besar di banding gaji tiga bulan yang di mintanya tadi.
__ADS_1
Hingga akhirnya jam makan siang pun tiba,mereka mengakhiri pekerjaannya sementara,dan memutuskan untuk makan siang.
" Kita akan makan siang dengan pakaian seperti ini?" tanya Fero ragu,sambil lagi lagi melirik pakaian yang di kenakannya yang tak masuk akal.
" Kita tidak akan kemana mana,hanya ke kantin,tak masalah bukan?"
ucap santai Narend tak bisa di terima begitu saja,bagi Fero penampilan nomer satu,dimana pun dan kapan pun,pakaian merupakan cerminan jati diri seseorang,sementara dengan sweater hoodie dan celana training longgar seperti ini,serta wajahnya pun nampak polos tanpa sentuhan make up sedikit pun,jika ada yang melihatnya,mereka tidak akan menyangka jika gadis itu adalah FERONICA PUTRI ANGGORO,putri tunggal dari seorang pengusaha sukses dan orang terkaya di tanah air,mana bisa ia menunjukan wajahnya di hadapan orang banyak,lagi pula pakaian seperti itu tak cocok untuk ia kenakan di kantor dengan cuaca panas seperti ini.
" Orang orang bisa menertawakan ku." lirih Fero lagi.
Narend menghembuskan nafas kasar,lalu meraih pindak Fero dan mengandengnya.
" Tak akan ada yang berani menertawaiku,selagi aku ada di sisi mu." ujar Narend,kemudian ia pun langsung membawa Fero,berjalan beriringan,membuat semua mata tertuju pada mereka,Fero menunduk menyembunyikan wajahnya di balik kupluk sweater yang bertengger di kepala,mengikat tali di bagian lehernya dengan kencang hingga menutupi sebagian wajahnya.
Dekapan Narend begitu erat dan terlihat intim,hingga mampu membuat kaum hawa menjerit hesteris tanpa suara,dengan mata berkabut dan juga sesak nafas,serta tak sadarkan diri, ketika melihat sosok pria yang mereka kagumi dalam diam,pria yang tak mudah mereka gapai,kini malah nampak mesra dengan gadis mesterius yang membuat mereka penasaran,gadis seperti apa yang sudah berhasil mencuri hati seorang Narendra Aljari itu?
" Aku tidak bisa seperti ini terus Narend." cicit Fero,ia lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kantin yang nampak ramai,hingga tak ada tempat untuk mereka duduk.
" Ya sudah,kau mau makan apa? biar aku pesankan,kita makan di ruangan ku saja." ucap Narend membuat Fero kesal.
" Kenapa tidak dari tadi saja,kita bisa pesan makanan dan makan di ruangan mu,tidak perlu repot repot ke sini." seloroh Fero, yang mulai memasang tanduk tak kasat matanya,dengan sedikit meninggikan suaranya,membuat semua perhatian tertuju padanya.
Namun Narend malah terkekeh ,ia manarik kepala Fero dengan gemas, membuka mulutnya lebar lebar,gerakannya seolah ingin menelan kepala gadis itu hidup hidup,dan hal sederhana itu berhasil membuat para kaum hawa patah hati berjamaah.
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA,,JGN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTENYA YA...🤗🤗
__ADS_1
Ada yang mau ngetek? 😍😍