Takdir Cinta miss arogan

Takdir Cinta miss arogan
50.Menyesal


__ADS_3

Fero merasa dunia telah hancur,ia mengira jika tuhan memang tak pernah adil padanya,limpahan harta yang di milikinya tak mampu membeli kasih sayang yang tulus,bahkan impiannya untuk bisa hidup bahagia bersama pria yang di cintainya harus kandas begitu saja,karna lagi lagi orang yang di percayai malah mengecewakanya.


Marah,kesal,benci,sedih dan kecewa,menumpuk dalam benaknya,dadanya terasa sesak,namun ia hanya bisa menangis tanpa suara di balik selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya,setelah Robin puas dengan aksi bejatnya,pria itu langsung menyambar pakaian yang terhempas di bawah tempat tidur,lalu memakainya lagi,cepat ia pun keluar meninggalkan Fero sendiri di dalam kamar.


Perasaan menyesal seketika menyerang,namun itu semua tak akan membuat semua kembali seperti semula,pria itu kini duduk di meja bar dengan gelas kecil berisi wine dalam genggamanya,meneguknya hingga tandas lalu mengisinya lagi.


Tiba tiba seorang pengawal datang menghampiri,pengawal tersebut nampak membungkukan sedikit punggung sebelum menyampaikan maksudnya.


" Ada apa?" tanyanya


" Maaf,tuan! ada yang ingin saya sampaikan mengenai Tuan Narend."


" Bicara saja,tidak perlu banyak berbasa basi." tegas Robin,tanpa mengalihkan perhatian dari gelas kecil yang masih berada di tangannya.


" Saya ingin menyampaikan jika tuan Narend sudah siuman?"


Seketika raut wajahnya berubah pucat, dengan mata yang melebar sempurna.


" Kapan?" tanya nya panik.


" Belum lama,orang suruhan anda di sana baru mengabari saya dua jam lalu." terangnya,dengan tiba tiba sebuah tinjuan mendarat di perutnya,hingga pengawal itu tersungkur,Robin lalu meraih kerah kemeja dan mencengkramnya kuat kuat.


" Kenapa kau baru memberitahu ku sekarang, bodoh!" teriakanya membuat bulu kuduk pengawal itu merinding.

__ADS_1


" Maaf tuan,saya tidak mau menganggu anda di dalam kamar Nona Fero." terangnya,Robin langsung melepaskan cengkramanya lalu mendorong tubuh pengawal itu hingga terhempas.


" Enyah kau dari sini!" teriaknya lagi.


Pria itu nampak mengepalkan tangan hingga gelas yang masih di tangannya remuk dalam genggaman,nafasnya pun semakin memburu.sedetik demikian tubuhnya ambruk,ia duduk di kursi bar dengan lemas.


" Sial,dasar bodoh!" pria itu memukul kepalanya sendiri,lanjut membentur benturkanya ke meja,rasa sesal semakin menyerang,seolah hendak membunuhnya.


" Apa yang harus aku lakukan sekarang?"lirihnya lagi,mengingat janjinya pada diri sendiri,demi rasa cintanya pada Fero yang tak akan pernah terbalas, ia akan melepaskan gadis itu setelah Narend tersadar,membiarkan mereka menjalani hidup bersama,dan membuang jauh jauh perasaan itu,lalu melupakannya,menyadari jika cinta memang tak harus memiliki.


Namun harapan tak sesuai ekpetasi,merelakan gadis yang di cintai bahagia bersama pria lain bukan hal mudah, imanya yang tipis berhasil mengilangkan akal sehatnya,hingga perbuatan menjijikan itu tak bisa di hindari.


Robin kembali masuk ke dalam kamar Fero,seketika batinnya teriris setelah mendapati gadis yang selalu menunjukan keangkuhannya itu kini bagai kehilangan jiwa,diam dengan tatapan kosong,namun air matanya masih mengalir seperti aliran sungai yang deras.


" Maafkan aku,Nona!" gumamnya sambil menundukan kepala,namun Fero tetap bergeming,ekor matanya melirik pada pria yang nampak jelas rasa bersalah di wajahnya.


" Begini kah caramu berterimakasih? atau jangan jangan ibu ku lupa mengajarimu cara berbalas budi? aku baru sadar jika ibu ku telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya,dengan menolong mu, merawat mu,dan memberikan kasih sayangnya pada mu." seloroh Fero,berhasil membuat Robin mematung,menutup matanya rapat rapat,menahan sesuatu yang begitu menyayat hati,kata kata Fero bagaikan ribuan tombak yang menghujam jantungnya,namun semua itu memang tidak sebanding dengan apa yang sudah Robin lakukan padanya.


" Maafkan aku,sungguh aku benar benar menyesal,aku akan bertanggung jawab atas apa yang sudah aku lakukan." sahut Robin tanpa berani menunjukan wajahnya.


"Aku tidak butuh tanggung jawab mu,apapun yang kau lakukan tidak akan bisa mengembalikan mahkota berharga ku,yang sudah kau ambil paksa." sahut Fero,berusaha tegar meskipun matanya tak bisa berbohong,air mata masih terus mengalir deras tanpa henti.


" Aku akan membawa mu pulang ke Jakarta,dan aku akan menikahi mu."

__ADS_1


" Itu tak perlu,aku tidak menginginkannya lagi,lebih baik kau tenggelamkan aku ke lautan,tubuh ku yang kotor ini lebih pantas jadi santapan ikan ikan di sana,dari pada harus menikah dengan mu." balas Fero,membuat Robin semakin merasa bersalah,tanpa di duga pria itu pun mengeluarkan air mata.


" Maafkan aku,aku benar benar menyesal." ujarnya.


" Penyesalan mu tak lagi berguna." sahut Fero dengan penuh penekanan,sikap manja yang selalu ia tunjukan pada Robin seolah hilang terhempas gelombang pasang yang menyeretnya ke dalam lautan lepas.


Tak ada lagi panggilan Kakak yang ia sematkan untuknya.Pintu hatinya seolah sudah tertutup rapat dengan kebencian,hingga tak ada celah sedikitpun untuk memaafkan.


Robin tak mau banyak bicara,ia memang pantas mendapat perlakuan seperti itu setelah apa yang sudah di lakukanya terhadap Fero,menyadari jika kesalahannya memang tak akan mudah di maafkan begitu saja.Ia lalu keluar menghampiri para pengawal.


" Siapkan kapal,bawa Nona Fero pulang,jika dia tidak mau tinggal di rumah tuan Bayu lagi,sediakan tempat tinggal yang layak untuknya." titahnya.


...****************...


Satu minggu kemudian,kondisi Narend di nyatakan sembuh total,tubuhnya mulai kembali bugar,dan sudah di izinkan untuk pulang,kini ia tengah berada di apartemen si kembar,ia meminta izin untuk meminjam laptop,tanpa curiga kedua gadis itu mengizinkannya.


Jemari tanganya mulai bergerak mengetikan sesuatu di atas tombol keyboard,tidak sulit mencari Nama Feronica Putri Anggoro di sebuah aplikasi di jejaring sosial,tanpa menunggu lama,foto foto dari pemilik nama tersebut terpampang jelas di sana.Namun seketika nafasnya seakan terhenti saat membaca kabar berita yang di sampaikan oleh beberapa situs media sosial,yang membahas tentang kepergian putri tunggal dari seorang pengusaha terkaya di tanah air itu,yang sampai sekarang belum di temukan,banyak bakar yang mengatakan jika gadis itu sudah meninggal, namun jasadnya sampai sekarang belum di temukan.


" Ini tidak mungkin." gumamnya dengan suara bergetar,dengan segera ia pun beranjak,meminta si kembar untuk mengizinkannya pulang lebih dulu ke tanah air.


" Bang Narend kenapa?" tanya Shafa.


" Aku harus segera pulang sekarang juga." ujar Narend.

__ADS_1


" Tapi ibu dan ayah sedang dalam perjalanan kemari,bang Narend sabar dulu, tunggu mereka tiba di sini untuk menjemput kita." cegah Marwah,mau tidak mau pria itu pun menurut,tanpa membantah.


TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA,JGN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTENYA YA..😉


__ADS_2