Takdir Cinta miss arogan

Takdir Cinta miss arogan
49.Sadar


__ADS_3

5 bulan berlalu,Narend barada di rumah sakit Singapura, saat ini kondisi Narend mulai ada kemajuan,tubuhnya merespon saat Shafa dan Marwah menggenggam tangannya,kedua gadis yang sudah menginjak remaja itu senantiasa menemani sang Kakak di sela sela kesibukanya sebagai mahasiswa. jemari Narend bergerak meski perlahan,namun begitu jelas terasa.


Layar monitor yang mendeteksi Laju pernafasan,detak jantung,juga tekanan darah dan yang lainnya menunjukan tanda tanda baik.


Shafa bergegas menghampirinya lebih dekat untuk memastikan.


" Bang,Bang Narend!!" ujarnya seraya memperhatikan raut wajah tampan Narend yang pucat pasi itu dengan seksama.


Narend mengerjapakan mata,bibirnya perlahan mulai bergerak.


" Fero!" gumamnya dengan suara yang sangat pelan,membuat si kembar langsung tersenyum dengan mata berkaca kaca,mengehela nafas lega seraya mengucap syukur.


" Cepat panggilkan dokter!" titah Shafa pada sang adik,dengan segera Marwah pun mengangguk.


" Fero!!" lagi lagi hanya kata itu terdengar dari mulut Narend.


" Bang Narend! ini Shafa." bisik Shafa,pria itu pun melirik dengan ekor matanya, bibirnya sedikit tersungging.


" Shafa!!"


" Iya,ini Shafa,bang Narend jangan dulu banyak bicara,Ok!" ujarnya,pria itu pun menurut dengan kedipan mata.


Tidak lama Marwah pun datang bersama seorang dokter yang lanjut memeriksa kondisi Narend, hingga akhirnya dokter tersebut menyatakan jika Narend sudah melewati masa komanya,kondisinya pun sudah jauh lebih baik dan tak ada lagi yang perlu di khawatirkan,hanya tinggal menunggu sampai ia pulih.


Mendengar hal itu tentu saja membuat si kembar bahagia,mereka saling berpelukan berbagi suka cita yang di rasakannya.


Mereka lalu kembali menghampiri Narend yang masih nampak lemas.


" Alhamdulillah,akhirnya bang Narend sembuh." ucapnya dengan antusias.Pria itu hanya menarik sudut bibirnya seraya memperhatikan kondisi sekeliling,memutar bola matanya, melirik ke sana kemari,otaknya berputar berusaha keras mengingat terakhir saat ia terbangun sebelum menjalani tidur panjangnya.


" Fero!!" gumamnya lagi,membuat si kembar mengerutkan kening.


" Fero? Fero siapa?" tanyanya heran.


Pria itu pun menggelengkan kepala,seolah belum siap untuk bertanya lebih lanjut tentang wanita yang di cintainya itu pada kedua adiknya.

__ADS_1


...****************...


" Nona! ku mohon, makan lah!" Robin terus menerus membujuk Fero untuk bisa membuka mulutnya,pria itu masih saja mengurung Fero di villanya,karena beberapa alasan,tak ada satu orang pun yang barhasil menolong Fero dari sandraannya,bahkan Bayu juga telah mengiklaskan dan menganggap jika anak tunggalnya itu sudah tak ada lagi di dunia ini,hingga akhirnya ia menghentikan pencariannya, 6 bulan bukan waktu yang singkat,sudah banyak waktu yang terbuang sia sia karena hal itu,baginya pekerjaan dan bisnis yang selama ini ia jalani lebih penting dari apapun.


" Sampai kapan kau akan mengurung ku di sini,kak?" lirih Fero,ia menatap Robin dengan mata sayu juga wajah yang sembab.membuat Robin langsung memalingkan wajah tak bisa lagi melihatnya.


Sudah cukup ia menahan diri selama ini,berusaha bersabar dengan rengekan yang terus menerus terdengar dari mulut Fero.


Tanpa di duga pria itu langsung membanting piring yang di pegangnya hingga hancur berserakan.


" Sudah cukup! kenapa kau selalu meminta pulang,kurang aku apa?kau lebih aman di sini dari pada tinggal dengan laki laki bajingan seperti itu!" bentak Robin,kali ini Fero tak lagi terhentak,karena bukan lagi yang pertama,melihat hal itu Fero langsung beranjak,berdiri di hadapan Robin dan menatapnya dengan tajam dan PLAKK!!!


Satu tanparan keras mendarat di pipi mulus pria tampan itu.


" Berani kau mengatai Narend ku seperti itu lagi, aku tidak akan segan segan untuk membunuh mu! kau tidak pantas pantas lagi di panggil kakak!" ancaman Fero membuat Robin terkekeh,sambil memegang pipinya yang terasa panas.


" Ya,aku memang tidak pantas di panggil kakak,aku tidak mau di panggil kakak,aku tidak suka di panggil kakak,kau puas!!" balas Robin,suaranya menggema di kamar itu,Fero seketika terdiam,namun matanya terus bicara,menyiratkan seolah olah ia ingin sekali menghajarnya lagi.


" Aku akan membawa mu kembali,tapi dengan satu syarat." ucapnya dengan suara yang sudah kembali tenang,mendengar hal itu,seketika mata Fero yang tadinya penuh kebencian kini berubah berbinar,dengan cepat ia menganggukan kepala.


" Menikah lah dengan ku." ucapanya berhasil membuat Fero kembali tercengang,bagai tersambar petir di siang bolong,dadanya terasa sesak,kakinya terpaku di tempat hingga ia tak bisa bergerak,sudut bibirnya terangkat setelah kesadaranya kembali, dengan cepat ia menggelengkan kepala.


" Kau bercanda?" gumamnya.


" Tidak,aku sudah lama mencintai mu,itu sebabnya aku tidak tertarik pada wanita lain." ujarnya membuat Fero mengulum bibir menahan tawa.


" Aku yakin itu bukan cinta,aku tau kau hanya menganggap ku adik,kau hanya ingin melindungi ku,bukan ingin memiliku."


" Kau salah,Nona!selain ingin melindungi mu,aku juga ingin memiliki mu,aku sudah lama berusaha menahan diri untuk bisa mendapatkan mu,tapi sekarang aku tak bisa lagi." Robin berjalan dengan langkah kecil,sontak membuat Fero mundur,matanya semakin melebar saat pria itu terus mengikutinya,tubuhnya pun nampak bergetar, melihat raut wajah Robin seakan ingin menerkamnya hidup hidup.


" Jangan macam macam,aku adik mu." gumam Fero.


" Aku anak tunggal dari ibu kandungnku." balas Robin,sampai pada akhirnya,Fero tak bisa lagi bergerak,punggungnya sudah menempel ke tembok,sementara Robin sudah berdiri di hadapannya dan mengunci pergerakannya,tubuhnya sedikit condong ke depan,mensejajarkan wajahnya,Robin bisa memastikan jika gadis di hadapannya begitu ketakutan sekarang,namun kali ini ia tak bisa lagi untuk bersabar,mengingat informasi tentang Narend yang ia dapat satu hari lalu masih saja sama,belum ada tanda tanda jika pemuda itu akan sembuh.


" Kau mau menikah dengan ku?"bisiknya dengan suara berat.

__ADS_1


" Tidak!!" tolak Fero dengan cepat dan tegas.


" Aku tidak terima penolakan,mulai sekarang kau miliku,hubungan kakak beradik di antara kami sudah terputus semenjak cinta ini tumbuh." bisiknya tepat di telinga Fero,dengan satu kecupan di akhir kalimatnya,Fero gemetar,kepalan tangannya semakin kuat namun tubuhnya melemas.


" Jangan lakukan itu,Kak!" lirihnya,ketika Robin menyapukan bibirnya di ceruk leher,merambat ke pipi dan berakhir di bibir.


" Hhhmmmmppp..."dengan sekuat tenaga Fero mencoba mendorongnya,namun tenaganya kalah telak,kedua tangannya terkunci rapat dengan cengkraman yang kuat,Robin menahan tangannya di sisi kanan dan kiri, tubuhnya tak bisa di gerakan sedikit pun karena himpitan dari tubuh tinggi dan tegap pria di hadapannya,bahkan pria itu tak memberinya kesempatan untuk bernafas,cukup hanya dengan memberi nafas buatan melalui bibirnya yang kini sudah menempel sempurna di bibir mungil milik Fero.walau tak ada sambutan yang menyenangkan,namun semua itu tak menyulutkan aksinya untuk tetap berusaha mendapatkan apa yang ia inginkan sejak dulu.


Fero hanya bisa menangis tanpa suara,seraya terus berusaha melepaskan diri,namun lagi lagi ia gagal,kondisinya yang tak berdaya tanpa asupan makanan yang baik, membuatnya tak bertenaga.


" Jangan menangis! aku janji tidak akan menyakitimu." bisiknya lagi,seraya mengeratkan dekapannya,tanpa di duga tangannya bergerak dengan cepat merobek pakain yang di kenakan Fero, dengan satu gerakan pakaian itu kini tak berbentuk.


Fero menjerit histeris,ia memberikan tendangan pada barang berharganya hingga akhirnya gadis itu pun berhasil keluar dari kungkungannya,dengan cepat ia menyilangkan tangan di dada,menutupi dua bukit yang kini sudah jelas terlihat,walau belum sepenuhnya.


" Apa yang kamu lakukan?" teriaknya.


Kali ini Robin pun nampak tak terima,keinginan untuk mendapatkan Fero semakin membuncah,dorongan kuat dalam dirinya seakan menutup dan membutakan semua akal sehatnya,hingga tanpa di duga tamparan keras pun melayang dan mendarat di pipi Fero,gadis itu tersungkur tepat di atas tempat tidur,dengan cepat ia menindihnya,lalu membuka semua pakaian yang melekat di tubuh indah itu.


" Hentikan! ku mohon jangan lakukan itu." Fero mengiba.Namun Robin tak mendengar atau pun melihatnya.


" Tenanglah,rileks,Ok! aku akan melakukannya perlahan."gairah yang selama ini terpendam semakin meronta ronta,hasratnya tak lagi bisa tertahan untuk menikmati tubuh indah yang terpampang jelas di dapan matanya,hingga dengan cepat Robin pun melucuti semua pakaiannya,tak butuh lama tubuh mereka sama sama polos,sampai pada akhirnya Fero terbelalak saat sesuatu yang keras berhasil merobek mahkota yang selama ini ia jaga dengan baik.


" Robiiinn!!!" jeritnya,ia terus berusaha mengerakan tubuhnya dengan sisa tenaga yang ia punya,hatinya begitu hancur,tangisnya perlahan mereda berganti dengan tatapan tak berdaya.Sesuatu yang sangat berharga dalam dirinya kini hilang dalam sekejab olrh pria yang selama ini telah melindunginya dengan baik.


Air matanya terus saja mengalir namun tidak ada lagi suara yang keluar,bahkan di saat pria itu masih terus saja mengerang nikmat,mengusai tubuhnya.


" Maafkan aku Narend." hanya kata itu yang mampu ia ucap.


***TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA JGN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTENYA YA...


😣


INI DIA PENAMPAKAN SI ROBIN YG MINTA DI BEJEK..


__ADS_1


Maaf kalau wajahnya gk sesuai dengan akhlaknya..😅


__ADS_2