
Hari ini hari kedua setelah kami menjadi suami istri, Mami memaksa ku untuk mengajak Adila berbulan madu, tapi dibelakang mami Adila telah berbicara pada ku terlebih dahulu.
"Kak, tolak saja ya paket honey moon yang mami beri untuk kita." Adila berkata seperti itu setelah kami selesai solat maghrib.
"Kenapa memangnya kamu gak suka tempatnya ya? kalau gak suka ya kita ganti saja tujuannya. Memangnya Dila mau kemana?"
Tawar ku yang membalas tolakan Dila.
"Kak, bukan begitu." Dila menatap ku seperti memohon. "Lalu apa? kita kan hanya berlibur saja, lagi pula sayang loh kalo ditolak." Aku menjawab sambil membenarkan posisi duduk menghadap Adila.
"Kak, sebenarnya lusa adalah hari kenaikan sabuk, aku tidak bisa meninggalkan acara itu dengan alasan hanya utuk liburan." jelasnya.
Dalam hati aku hanya bisa berkata tidak papa mungkin acara kenaikan sabuknya sangat penting, maklum sudah hampir 12 tahunkan Adila menekuni bela diri tekwondo.
Aku masih tersenyum menatapnya,
"Kak mama menghubungi ku, besok mama dan bang Fano akan pergi menghadiri pernikahan kerabat papa yang ada di Amerika, Dila disuruh mama untuk menginap disana beberapa hari, bersama kakak. Kakak mau tidak menemani Dila?" Ya aku dan istri ku kini tinggal dirumah ku, rumah yang ditempati mami dan adik ku sekarang.
"Adila, untuk apa kamu bertanya, saya ikut atau tidak? Jelas saya akan mengikuti kemana langkah mu menetap, saya akan ikut kamu menginap dirumah mama, saya tidak mungkin tega membiarkan kamu sendirian disana." Adila tersenyum dengan sangat manisnya. "Untuk urusan honey moon biar saya yang jelaskan ke mami nanti, kamu jangan kahawatir ya." Aku berusa menjelaskan kembali pada Dila.
__ADS_1
Setelah melaksanakan solat Isya sekitar jam sembilan malam, aku dan Adila mulai terlelap, sampai saat ini aku masih mengenakan sofa sebagai tempat tidur, tapi sofa kali ini lebihnyaman dibandingkan sofa saat malam pengantin kami.
Hari berlalu tepat pukul 08.00 Adila dan aku sudah sampai ditempat mama, Adila segera masuk karena memang mama sudah pergi sejak subuh tadi. "Kak Zul, mau minum apa biar Dila buatkan?" tawarnya.
"Tidak usah saya bisa ambil sendiri nanti." Aku menyahut dari halaman belakang yang berada di sebelah dapur, Dila hanya tersenyum menatap ku dari sisi pintu.
Hari sudah siang, "Dimana kak Zul kok gak keliatan ya dari tadi." gurau Dila saat menata makanan di meja. Namun Zulfikar datang dari arah halaman belakang,
"Ih... Astagfirullah, Kak Zul ngagetin aja sih." Dila berteriak kaget.
"Masa kaget? Kamu masak ini semua Adila?"
Sambil mengambil piring dari hadapan Zulfikar, Adila mulai menyendoki satu persatu makanan yang telah dimasaknya. "Iya kak, siapa lagi, mama kan gak punya asistan rumah tangga, ngak seperti dirumah kakak, disini semuanya serba dilakukan sendiri, kata mama gak boleh bergantung sama orang lain."
Zulfikar menggenggam tangan Adila, Adila menoleh dan menatapnya mengisaratkan ada apa. "Dila, bagaimana jika aku melakukan kesalahan kepada mu?" Dila menatapnya heran,
"Bagaimana jika nanti malam saya melakukan kesalahan, mengingat kita hanya berdua dirumah ini." Tanya Zulfikar pada istrinya, dan sekarang Adila membalas genggaman tangan Zulfikar.
"Adila sudah yakin, bahwa kakak tidak akan melakukan hal yang salah, mungkin Dila belum faham bagaimana sikap dan kebiasaan kakak tapi, Adila percaya bahwa imam yang Adila pilih adalah orang yang selalu berusaha untuk membuat Adila tidak kecewa." Adila tersenyum menatap suaminya dengan lembut serta mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Dila, terima kasih sudah mempercayai saya, Dila mungkin kemarin saya melakukan kesalahan, kesalahan dalam menikahi kamu." Kata ambigu mulai mempengaruhi posisi mereka Adila yang mulai bertanya-tanya, kembali mengajukan pertanyaan.
"Kesalahan apa kak? kakak menyesal telah menikah dengan Dila." Adila berdiri dari duduknya, namun tangan Zulfikar menahannya.
"Bukan begitu maksud saya, saya tidak pernah menyesal, tapi saya ingin jujur dan mengakui sesuatu, saya sudah melakukan zinah kepada mu Adila."
Adila diam dengan semua pengakuan Zulfikar, selama ini dia tidak pernah melakukan apapun, bagaimana bisa berzinah?
"Zinah yang bagaimana yang kita lakukan? aku bahkan tidak pernah menyentuh atau disentuh oleh kakak, bahkan aku juga baru mengenal kakak setelah menikah dan usia pernikahan kita pun baru 2 hari kak!" Dila mulai tersulut dengan perkataan Zulfikar.
"Dila, zinah yang aku maksud bukan karena kita berdua, tapi tentang zinah ku sendiri, sejak pertama aku melihat mu tanpa pakaian seorang muslimah, saat kamu keluar dari kamar dan segera membanting pintu, sejak saat itu aku mulai berzinah, membayangkan hal liar tentang mu yang begitu cantik, memimpikan mu, bahkan setelah melakukan solat taubat, aku masih terus berfikiran begitu, saat kamu menyebut nama pria lain aku seakan sudah memiliki mu, maka dari itu aku meminta mu pada mama, dan aku menyetujui waktu 1 minggu yang kamu berikan, saat kamu mengiyakan ajakan ku untuk menikah aku juga selalu memikirkan hal liar tentang mu, Dila maafkan kesalahan ku yang sudah berfikir begitu tentang mu."
Adila mulai terisak dan meneteskan air matanya. Bagaimana pun perasaan Dila seperti wanita yang direndahkan bahkan meski hanya lewat pandangan yang hanya sekejap, tapi membuat pria yang satu ini memiliki fikiran begitu terhadapnya.
"Jangan teteskan ini untuk saya, ini terlalu berharga, air mata mu bernilaikan sebongkah berlian untuk saya, untuk kali ini saya belum mampu membeli sebongkah berlian itu untuk menggantinya." Sambil berujar Zulfikar menghapus tetesan air mata Adila dengan ibu jarinya, kemudian dia menciumi air mata Dila itu.
"Kak, kenapa kesalahan mu terlalu romantis untuk ku, bahkan ketika kakak hanya sekedar memandang ku sebentar, kakak segera solat taubat, setakut itu kah kakak terhadap syahwat." tanya Adila dan kembali terisak.
"Iya Adila, meski aku takut melakukan kesalahan itu terlalu dalam lagi, apalagi sampai ketahap menyakiti mu, dengan mengencani mu lalu meninggalkan mu, saya takut cinta akan datang diantara hubungan yang tidak halal, maka saya menghalalkan kamu supaya kamu bisa mencintai saya tanpa membuat kita jatuh pada kesalahan."
__ADS_1
Adila mulai tersenyum dia memandang suaminya, meraih tangan suaminya dan menciumi punggung tangan suaminya dengan sangat lembut. "Terimakasih karena telah menjaga ku dengan ikatan suci ini, Kak Zul itu semua bukan kesalahan, itu semua keromantisan mu, karena itu semua penuh dengan ketulusan hati mu, itulah alasan ku mengapa aku menerima pinangan mu. "
Adila tersenyum dan Zulfikar tertawa dengan penuh kebahagian, mereka meneruskan dengan menyantap makanan, "Emmm... Dila, buatkan makanan ini untuk saya ketika saya jauh dari kamu ya, supaya saya bisa selalu memikirkan kamu bukan hanya pekrjaan, terimakasih sudah menerima ku Adila." Sambil menikmati sambal teri kacang buatan Adila, yang dibarengi dengan sayur Lodeh dan tempe goreng.