
Ponsel ku berdering tanda panggilan masuk,tak ku hiraukan suara itu selepas solat subuh barulah aku mengangkat panggilan masuk itu. "Assalamualaikum, mama apa kabar di Jerman? mama sehat kan kabar abang bagaimana?" Aku begitu senang saat ku tahu bahwa mama yang terhubung dengan ku, sejak dua minggu mama pamit untuk ikut abang mengurus perusahaan di Jerman, kami tidak pernah terhubung. "Aduhhh sayang nya mama, mama sama abang baik kok disini, Dila bagaimana?" "Dila baik kok ma, mama Dila rindu." Aku mulai terisak dengan kata-kata rindu ku pada mama yang memang begitu dalam sekarang. "Dila, kita pernah terpisah oleh jarak satu tahun yang lalu, saat kamu memutuskan untuk tetap bersama grandma, saat ini kamu harusnya sudah terbiasa bukan, ada mami Vena disana anggap saja dia mama." "Mama tidak mau bicara dengan menantu ke sayangan mama? Dia sedari tadi menguping pembicaraan kita ma." "Oh ya... dimana Fikar?" Kami mengubah sambungan menjadi video call.
__ADS_1
"Assalamualaikum mama, rindu tidak dengan menantu kece?" "Waalaikum salam, menantu ku yang mengaku tampan, bagaimana progresnya sayang?" "Sabar mama, sedang dalam proses pleas wait."Jawabnya sambil tertawa. "Maaa, kenapa baru bisa hubungi Dila sekarang, mama gak tau ya kalau Dila sangat rindu." Mama tersenyum melihat rengekan ku yang disertai candaan kak Zul.
__ADS_1
"Ma, anak mama aku pulangin... manja banget, kalau begini aku gak sanggup, bisa-bisa batal kalau puasa nanti." mama tertawa terbahak, bahkan sampai abang yang berada di sampingnya ikut penasaran dan bergabung. "Abangggg... Adila rindu abang, abang kenapa gak bicara sama Dila?" "Abang juga rindu Dila, tapi sekarang ada Fikar yang gantikan posisi abang kan?" "Siapa bilang abang tergantikan dengan kak Zul, abang istimewa bagi Dila." Kak Zul mulai kesal dengan kemanjaan ku dengan abang. "Fano, lo tau kan Dila istri orang, jangan godain istri orang, gak usah manja-manja sama istri orang bisa gak?" "Heh... lo tau gak? gue sama istri lo itu kakak beradik, wajar gue manjain adek gue, mau gimana pun gue gak bisa pisah, wudhu aja gak batal, lah elu, bisa pisah kapan aja, dan bisa haram sewaktu-waktu." Kak Zul mulai emosi dengan mulut abang yang memang selalu berujar kasar pada dirinya.
__ADS_1
Sambil menyiapkan beberapa lembar roti, bubur oat mild dan juga salad Kak Zulfikar duduk memandang ku. "Sayang, kenapa sih kamu masih memanggil saya dengan sebutan Kak Zul, kamu kan bukan adik saya, saya merasa seperti punya dua adik." Aku mulai terbahak menertawai ucapannya, "Memang kamu mau di panggil apa? Dady? kan belum pantas dipanggil begitu." "Panggil saya sayang, atau apalah." Aku terus tersenyum sambil menuang jus untuknya. "Bagaimana kalau Bee?" "Abi maksud kamu?" "Bukan, lebah." Dia menundukan kepalanya, "Bee, itu lebah, kamu panggil aku honey, madu. Madukan milik lebah, berarti aku milik kamu." Dia mulai tersenyum menjabat tangan ku. "Deal, HONEY..." Kami tertawa bersama, kemudian mami datang bersama Luna. "Hallo Chubby, bagaimana semalam tidurnya nyenyak, mau makan apa roti?" "Tidak, Luna mau uncel." Luna pagi ini begitu manja dengan uncelnya itu. "Sini sini, uhhh chubby nya uncel makan ya? ini enak loh buatan aunty Dila." Kemudian Luna membuka mulut menerima suapan bubur oat mild dari kak Zulfikar.
__ADS_1
Sarapan pagi hari adalah yang terbaik, dimana kami sekeluarga melupakan sejenak masalah yang ada.
__ADS_1