Tempat Terakhir

Tempat Terakhir
Moody


__ADS_3

Siang ini kami sekeluarga pergi ke acara ulang tahun perusahaan yang ke 8, semua pencapaian kami sudah sangat maksimal, kerja keras aku dan Fano mencapai satu titik dimana perusahaan yang kami bangun belum cukup lama namun begitu banyak kerjasama yang telah tersepakati, dengan kejujuran dan profesionalitas kami berdua membangunnya dengan keringat serta waktu.


Bahkan aku teringat saat pertama aku mulai mengenal Adila yang sangat membenci perusahaan ini kerena Fano yang tak pernah sempat mengajaknya pergi atau sekedar piknik di taman belakang rumah.


Aku bersalaman dengan beberapa patner ku dengan mengandeng Adila,


"Bee, aku mau kesana sebentar ya, menemui seseorang yang ku kenal."


Adila meminta izin sejenak untuk menjauh.


Aku kembali berbincang dengan relasi ku.


Melihat Adila yang sedang berdiri sekitar 10 meter didepan ku bersama seorang pria yang seumuran Rasya, membuat ku penasaran, tanpa sungkan aku merengkuh pinggang Adila dari samping,


"Oh.. bee, kamu disini rupanya, ohya... perkenalkan ini Mahardi, temannya Rasya."


Adila membuat ku ber oh ria, teman Rasya ternyata.


"Mahardi, kenalkan ini suami saya, kakaknya Rasya, Kak Zulfikar." tanpa ragu aku menjabat tangannya, pria yang cukup jantan dan ramah, pasti ada udang di balik batu.


"Kak Zulfikar, saya Mahardi Ari Wijaya, saya berada di sini hanya menggantikan orang tua saya, saya anak dari Hugo Wijaya."

__ADS_1


"Senang bertemu dengan anda, oh ya tuan Hugo pasti sangat sibuk bulan ini bukan?"


"Ya, tentu kak, oh ya boleh saya tau dimana Rasya?"


"Rasya ada di ruang VVIP, bersama mami dan kak Jefrin, kamu bisa menemuinya, nanti setelah dia selesai makan siang." Begitulah jawaban yang Adila lontarkan terhadapnya.


Mahardi pun berlalu kini aku meminta penjelasan dari Adila.


"Kamu tau bee, Mahardi sebenarnya sangat mencintai Rasya, meski awalnya Rasya harus menerima tekanan darinya."


"Maksud kamu honey?"


"Dia membuat video memalukan tentang Rasya, aku meminta teman lama ku untuk mengusut kasus itu sampai tuntas, Aku menemui Mahardi di kantor polisi, setelah aku bicara banyak dengannya ternyata alasan nya hanya karena dia mencintai Rasya, awalnya aku marah tapi dia berjanji hanya akan merayu Rasya bukan mengancamnya."


"Awalnya aku juga berfikir, tidak mungkin menyerahkan Rasya pada pria seperti dia, pisikopat, dan prosesif. Tapi aku melihat sisi lain darinya, tak sampai hati dia menyebarkan video itu bee, aku banyak menasehatinya, seketika aku melihat tatapan matanya berubah sama seperti pertama kali kamu menatap ku, itu yang membuat ku paham berarti dia mencintai Rasya dengan tulus."


"Tapi tetap saja Adila, kamu itu salah. tidak bisakah kamu berdiskusi terlebih dahulu dengan saya!" Nada ku sedikit membentak. Adila masih berusaha untuk menenangkan ku yang sudah tersulut emosi.


"Bagaimana pun dan apapun alasannya saya tetap tidak suka jika adik yang saya sangat sayangi harus menderita karena pria seperti dia." Aku mulai kalap, tapi Dila masih tenang.


"Aku tau kamu takut dengan kejadian yang menghampiri Kak Jefrina, namun kasus ini berbeda kak, Rasya menolak keras pria yang memang mencintainya, namun pria itu salah cara untuk memiliki Rasya."

__ADS_1


"Ya.. ya.. teruslah dalam keras kepala mu dan kau selalu menang, saya menyerah Adila!"


Aku berlalu meninggalkan Adila, entah mengapa aku bisa sekasar itu terhadapnya.


Hari telah larut aku masih dengan sikap diam ku terhadap Adila, bahkan kami hanya diam sejak tadi. Mami terus bertanya dengan sikap dingin ku yang nyaris tak pernah mami rasakan.


Aku masuk kedalam rumah dengan mengendong Deluna yang tertidur dengan lelap. Adila tersenyum mentap ku yang keluar dari dalam kamar Luna, "Bee, kau lelah, mengapa diam saja, jika ada masalah tolong beri tahu aku."


"Kau yang memulai semua masalahnya, jadi selesaikan." Aku hanya menatap lurus, membuka pintu kamar dan berbaring di ranjang, aku pura-pura tidur.


Perlahan ku sadari tangan halus Adila meraba jass yang ku kenakan, melepas dasi, dan kemeja ku, hendak membuka semua yang masih utuh ku kenakan. Aku mendengar dia meminta maaf, tapi kali ini aku tak sanggup melihat dan mendengarnya.


Aku bagun dan memeluknya, "Maaf my honey, entah kenapa aku sedikit sensitif hari ini."


Dila masih dalam senyumnya yang menawan.


"Tidak apa-apa, aku yang harusnya minta maaf, katakan apa dengan menjauhi Rasya darinya kau akan memaafkan ku?"


"Jika Rasya juga mencintai dia, dan dia menjamin keamanan, dan kebahagian Rasya maka kau tidak perlu menjauhi dia dari Rasya." Aku mencium bibirnya sekilas namun berkali-kali.


"Saat kau dipercaya maka jagalah kepercayaan itu honey."

__ADS_1


"I Love You bee, terimakasih atas semua rasa percaya mu itu."


Aku berlalu memasuki kamar mandi dan mandi dengan air hangat, entah aku jadi moody an seperti ini.


__ADS_2