
Pagi ini Zulfikar membangunkan Adila, pasalnya sejak solat subuh tadi Adila tak kunjung bergerak dari ranjang, tak seperti biasanya.
"My honey, kamu gak berangkat ke TK? ini sudah jam 10 loh, saya harus berangkat ke kantor." Zulfikar terus mengelus lengan sang istri yang membelakangi nya.
Adila mulai membuka matanya, "Aku tidak berangkat ke TK, aku lemas sekali bee, jika kamu mau ke kantor nanti makan siang tolong bawakan aku manisan ya."
"Kamu sakit?" "Tidak bee, hanya saja badan ku sedikit lelah, mungkin karena pesta kemarin." Zulfikar mencium kening istrinya yang enggan bagun untuk menghadap dirinya barang sebentar saja.
Saat Zulfikar hendak membuka pintu Adila dengan sigap membuka selimut dan menarik pintu kamar mandi dengan cepat.
uekkk... uekkk... huekkk...
Semua isi perut Adila tumpah, mengagetkan suaminya yang hendak pergi, Zulfikar masuk kedalam kamar mandi, memijat tengkuk istrinya. "Honey, kamu sakit, kita ke dokter ya, saya takut kamu nanti kenapa-kenapa."
Adila meremas dasi suaminya, "Tidak perlu bee, aku hanya kecapean, istirahat sebentar juga sembuh, oh ya... kamu pakai parfum apa? kok wanginya beda?"
Zulfikar bingung, Adila selama ini tidak pernah protes dengan parfum yang dikenakannya. "Ini parfum yang sama honey, kamu tidak suka?" Adila senyum dan mengendus dada suaminya.
"Tidak wanginya sangat enak, mual ku segera hilang, berangkat lah, jangan lupakan pesanan ku ya."
__ADS_1
Zulfikar segera pergi, karena memang hari sudah sangat siang, Adila turun ke ruang makan, perutnya sudah sangat kosong dan segera minta di isi.
"Mbak Darmi, adakah yang bisa Adila makan? aku sangat lapar mbak." tanya Dila pada asisten rumah tangganya yang sedang membereskan ruang keluarga.
"Loh, nyonya, pucat sekali, sakit kah? Hanya ada roti nyonya, jika mau makan nasi akan saya buatkan makanan sebentar, mau makan apa nyonya?"
"Saya tidak berselera makan roti mbak, saya hanya lemas, bisa masakan saya daging atau ayam mbak." mbak Darmi segera melihat stok ayam di kulkas.
"Ada ayam nyonya, mau dimasak apa?"
"Sup ayam sepertinya enak mbak, tapi ayamnya saja ya mbak, tidak dengan sayuran." Mbak Darmi menuruti perintah Dila, Dila yang kelaparan pun tiba-tiba merasa mual lagi, sudah ke 9 kalinya dia muntah dan sangat lemas.
Adila membuka kulkas, mengambil beberapa kue yang bisa menjadi penghambat rasa mualnya. Tak lama sup ayam sudah jadi, Adila gembira sekali, senyuman terpancar indah dari wajahnya.
Setelah makan sup, Dila berbaring di sofa, kakinya di pijat oleh mbak Darmi.
"Nyonya, lusa saya jadi pulang kampung ya nyah." Mbak Darmi sekedar mengingatkan Adila
"Ini tanggal berapa sih mbak? mbak tega ninggalin saya dalam keadaan begini, mbak pala saya pusing sekali, mami juga lagi gak ada dirumah, kak Zul juga sedang sibuk."
__ADS_1
"Tapi nyonya, saya harus pergi, anak saya akan menikah masa tidak ada saya."
"Yasudah mbak Darmi pulang saja semoga nanti malam saya sudah lebih baik." Dila mengingat ingat tanggal dan bulan, membuka aplikasi di ponselnya.
Adila memekik, kaget. "Hah, mbak ini tanggal 25?" "iya nyonya, ini tanggal 25, ada apa nyonya."
Adila bangun dari rebahannya di sofa, pelan ia berjalan menuju lantai dua mencari sesuatu didalam lemari.
"Bismillah ya Allah semoga ini hal yang kami ingin kan."
Zulfikar kembali ke rumah dengan membawa sepelastik manisan yang Adila pesan. "mbak, ini tolong di simpan ya pesanan Adila, oh ya Adila dimana?"
"Nyonya di kamar tuan." Zulfikar segera masuk ke kamarnya, menemui Adila yang saat itu sedang menangis memegangi perutnya yang datar. Zulfikar yang datang reflek memeluk dan bertanya.
"Honey, kenapa? sakit lagi?" Adila menggeleng, menuntun tangan Zulfikar ke perutnya.
"Ada kehidupan di sini bee, aku sudah tespeck tadi." Adila menyerahkan tespeck itu pada Zulfikar sampai tangannya gemetar.
Perlahan air mata Zulfikar turun, dia mencium kening Adila.
__ADS_1
"Terima kasih ya Allah, honey kali ini saya pinta kamu untuk tetap ada di ranjang, jangan kemana-mana saya akan hubungi dokter agar melakukan perawatan di rumah saja sayang." kembali Zulfikar memeluk, dan kini mencium perut Adila, membisikan sesuatu disana.
"Anak Ayah, baik-baik ya disana jadi anak yang kuat, karena kamu yang akan selalu membuat wanita yang ayah cintai tersenyum." Adila tertawa sembari menahan geli yang timbul akibat ulah Zulfikar.