
Malam ini malam yang menegangkan bagi ku, pasalnya kali pertama aku tidur dengan seorang pria dalam hidup ku, meski terkadang aku dan abang sering juga satu kamar, tapi ini berbeda.
Malam sudah makin larut, aku tak bisa menahan kantuk, Kak Zul yang sedari tadi keluar, belum masuk kamar juga, aku tidak mungkin kan menunggunya.
Sepersekian menit aku menunggu dia datang dan duduk disebelah ku, dia meraih tangan ku dan menciumnya.
"Adila, sekarang aku sudah halal untuk mu, maaf aku memberikan mahar yang hanya cincin, aku tak tau berapa nilai mu dimata ku, yang jelas kamu tidak bisa dihargai oleh apapun karena kamu sangat berharga untuk ku." Dia menatap ku lekat, lalu membuka ransel yang berisi perlengkapannya selama tinggal di sini.
"Tidurlah, aku mau mandi dulu, kamu pasti lelahkan." Aku segera mengambil selimut dan menutupi tubuh ku.
Tepat pukul 3 dini hari, aku terbangun karena haus, aku melihatnya tidak ada diranjang, lalu kemana dia. Aku mencarinya disetiap sudut kamar, bahkan juga mengetuk kamar mandi.
Aku keluar kamar dan menuju dapur, aku kaget melihatnya duduk sambil tertidur di sofa ruang tamu. Aku mencoba mendekatinya dan membangunkannya.
"Kak, Kak Zul. Bangun kak kenapa tidur disini?" Dia mulai terbangun dan menatap ku yang ada disampingnya. "Emmm saya ketiduran ya?" Dia bertanya dan memandang ku, aku malu saat sadar dia melakukan tatapan itu.
__ADS_1
"Pindah ke kamar saja ya kak, nanti kalau disini seluruh badan kakak malah sakit, lagian juga tidak enak kalau dilihat orang." Jelas ku lembut padanya, namun hanya dibalas senyuman.
Kami berdua naik ke ranjang, aku merasa dia sangat gelisah begitu pula aku yang masih terjaga sejak tadi.
"Kak Zul kenapa? ada yang salah kok belum juga tidur?" Tanya ku yang mengagetkannya.
"Kamu juga belum tidur Dila, ada apa?" Tanya kak Zul balik kepada ku.
"Kok, tanya balik? Aku hanya belum terbiasa tidur dengan orang lain." Jelasku sambil menunduk menandakan aku malu sekaligus bersalah sudah berujar begitu.
"Kamu belum terbiasa ya? sama saya juga, saya tadi sebenarnya bukan ketiduran tapi memang ingin tidur disana soalnya takut kamu terganggu dengan keberadaan saya, tapi justru saya yang gak bisa tidur karena ada kamu." Jelasnya kepada ku.
Dia bangun dari posisinya, duduk di sebelah ku.
"Jangan, lebih baik saya tidur di sofa itu saja, kamu tidur disini, gak ada yang boleh tau masalah kita ya." Ucapnya dengan lembut, dia benar gak ada yang boleh tau tentang aku dan Kak Zul.
__ADS_1
"Yasudah, saya pindah kesana ya, kamu cepat tidur biar subuh nanti gak kesiangan, dan kamu bisa tidur lagi setelah solat." Aku hanya mengiyakan perkataannya.
Malam ini berlalu dengan sangat panjang, ternyata dia juga belum bisa menerima ku, bahkan dia tidak meminta hak nya sekarang.
Azan subuh berkumandang bersama ayam jantan yang berkokok, "Adila, Adila, bangun ini sudah subuh kita berjamaah." Tangan dingin itu membelai lembut punggung tangan ku, suaranya lembut sekali, ada tetesan air yang mengenai dahi ku. Aku merentang kan badan, kemudian membuka mata perlahan.
Aku melihatnya yang sudah terbangun bahkan sudah mandi terlihat dengan rambut basahnya yang airnya menetes tepat dikelopak mata ku sekarang. Aku bangun dengan posisi gugup, dia tepat di depan wajah ku sekarang.
"Adila, ayo wudhu, nanti kita kesiangan solatnya, tidak baik menunda solat." Lalu aku beranjak dari ranjang.
Kami melaksanakan solat subuh berjamaah.
"Dila, ini solat pertama kita dimana saya yang menjadi imam, saya meminta izin kepada kamu bolehkah saya membatalkan wudhu mu?" Kak Zul bertanya sedikit malu.
Aku menunduk sambil meremas mukena yang ku kenakan. "Tuhkan... semua lelaki itu sama tak bisa menahan syahwat bila sudah bertemu perempuan." Rutukan ku yang hanya mampu ku keluhkan dalam hati, tak ada cara lain aku membuang muka, sedetik kemudian aku mengangguk.
__ADS_1
Kak Zul mendekat, menggengam jemari ku, dia maju mensejajarkan kening ku dengan hidungnya, dia membaca doa kemudian mencium pucuk kepala ku dan turun ke kening ku, setelah itu dia melepas ku.
"Saya tidak akan menyentuh kamu jika itu bukan keinginan dan atas izin mu." Dia tersenyum lalu melipat sajadah dan sarung yang ia kenakan, naik keatas sofa dan menarik selimut lagi dan masuk kealam mimpinya, begitu pula aku yang naik keranjang dengan senyum bahagia, dan melupakan semua perkataan buruk tentangnya.