Tempat Terakhir

Tempat Terakhir
Anak ku


__ADS_3

Sepuluh tahun berlalu usia Arsal sekarang menginjak 14 tahun, di usianya yang sekarang Arsal telah menamatkan sekolah menengahnya, karena kecerdasan otaknya, IQ Arsal yang tinggi sangat membantunya untuk mencapai cita-citanya menjadi dokter muda.


Aditama Yusuf Arafi, seorang anak yang tumbuh dengan baik, dari segi sosial mau pun spiritwalnya, di menjadi anak yang berfikir dewasa dan maju kedepan, dia lebih suka berhitung dan berbahasa, di usia 11 tahun dia sudah memegang 4 mendali emas, semua karena kejuaran olimpiade matematika, 3 piala juara pertama juga di sabetnya karena pidato bahasa asing yang dia kuasai, bahkan terkadang ayahnya pun tak mengerti anaknya sedang bicara apa. Tama menguasai 5 bahasa semenjak kelas 3 sekolah dasar, sementara sekarang dia hampir menamatkan jenjang menengah pertama.


Adivara Seano Arafi, perempuan ini meniru kedua kakaknya yang jago bela diri, Vara sudah menyabet 3 bendali emasnya dalam cabang bela diri karate yang di minatinya, Vara juga lebih suka membaca dan menulis berbagai atikel, selain itu Vara juga aktiv dalam kegiatan sosial bersama sang oma dan neninya, Vara tidak suka boneka dan coklat. Setiap pulang sekolah Vara selalu menyuruh supir berhenti atau putar arah, karena Vara sangat rindu dengan bundanya, kalau Vara sedih tak jarang Asal sebagai abang merayunya hanya untuk sekedar Vara kembali mood untuk beraktivitas.


Zulfikar sangat bangga pada anak-anaknya, terbukti semua pencapaian mereka di abadikan Zulfikar di dalam sebuah lemari di ruang kerjanya.


Ada foto saat Arsal menang turnamen basket, Arsal mendapat piala sebagai pemain terbaik di tahun ini, foto Arsal meraih mendali emas olimpiade Sains di tingkat Provinsi, Asia Tenggara,Asia,dan juga foto Arsal memenangkan piala penghargaan Siswa terbaik dan tercerdas dari sekolah menengahnya bulan lalu.


Foto mereka semua terpajang disana, sertifikat Adivara, Aditama, Arsal juga ikut diabadikan.

__ADS_1


Hari pun telah menjelang pukul tujuh malam, namun anak-anaknya belum juga ada yang pulang, mereka semua tidak meminta izin pada sang ayah. Makan malam sudah tersedia semua di meja, Zulfikar mencoba menghubungi Arsal terlebih dahulu, namun tidak di angkat, kemudian Tama, aduh jangan ditanya, Tama sedang sibuk dengan rumus barunya. Sang Ayah kawatir dengan si cantik, tapi sama saja menghubungi Vara? tidak dia juga tidak menjawab.


"Ruri, saya harap anak-anak saya pulang tepat waktu, cari mereka dan pulangkan sekarang juga!" Zulfikar membentak Ruri dari ponselnya.


Tak lama Arsal yang di jemput oleh supirnya itu menyapa ayahnya yang sedang panik.


"Assalamualaikum ayah, maaf ya buat ayah khawatir karena tadi abang sedang ada belajar kelompok, mereka tidak mengerti dengan apa yang dosen jelaskan jadi abang yang ajarkan mereka sampai mengerti."


"Maaf yah, tapi Arsal gak bisa melihat mereka kesusahan dengan tugas tugas itu." Arsal berlalu membuka pintu kamarnya.


Si kembar Tama dan Vara pun kembali kerumah malam itu, dengan paksaan dari Ruri tentunya. "Kalian itu sebenarnya kenapa sih, ayah itu cemas menantikan kalian semalam ini belum pulang, kalau mungkin ayah salah terhadap kalian maka ayah minta maaf." bukan bermaksud untuk lemah dihadapan anak nya namun ini cara untuk membuka mulut mereka.

__ADS_1


Arsal yang turun dari lantai dua melihat adik kembarnya sedang di introgasi oleh ayahnya sendiri, segera menghapiri dan menjawab perkataan ayahnya.


"Ayah, kata maaf ayah hanya semakin membuat kami lemah, beberapa bulan ini ayah terlalu sibuk dengan pekerjaan ayah, kami hanya berusaha untuk menghibur diri dengan kegiatan kami, bukan untuk menghindar dari ayah." ucap Arsal tegas


"Maafkan kami ayah jika kegiatan kami membuat ayah cemas, namun kegiatan kami saat ini membuat kami merasa memiliki keluarga baru, pak Hanif pembimbing ku di sekolah meminta ku menjadi ketua dalam kelompok belajar, membuat aku berusaha keras mengajari teman ku yang sampai saat ini belum menamatkan smester ke 4 nya." Jelas Tama yang nampak gelisah dan takut melihat wajah ayahnya.


"Lalu? Vara?" Namun vara hanya diam, dia mulai ragu untuk menjawab, kedua kakak lelaki menjawab karena kegiatan belajar kelompoknya, sementara dia? Vara seharian hanya bergulat dengan laptopnya di perpustakaan sekolah hingga petang, setelah itu dia pergi kemakam bundanya karena rindu sampai azan maghrib berkumandang.


"Maaf ayah, tapi Vara tidak dapat menjawab, Vara salah, maafkan Vara membuat ayah khawatir." Vara memeluk ayahnya namun air matanya jatuh membasahi kemeja ayahnya.


"Sudahlah, jangan bahas semua ini lagi ya... Kita makan sekarang, mbak Darmi sudah masak makan malam untuk kita, lebih baik makan sekarang dan kalian lekas istirahat." Ucap Zulfikar datar.

__ADS_1


__ADS_2