
Malam ini aku bersama keluarga Kak Zul dan keluarganya pergi untuk makan malam bersama, sebuah restoran bergaya Italia menjadi tujuan kami.
Ketika sampai disana kami segera memesan makanan, Kak Jefrina yang terlihat kesulitan menggendong Deluna yang mulai tidak bisa diam, kesulitan untuk makan. "Kak, biar Dila yang gendong Luna, kak Jefrin makan saja." Luna beralih ke pangkuan ku, "Luna sayang, mau puding?" tawar ku yang hanya di balas dengan tangisan dan jeritannya. Usia Deluna sekarang barulah 3 tahun, Deluna terlihat rungsing sedari siang, dia tidak mau minum susu atau makan, bahkan saat tertidur pun dia masih gusar.
__ADS_1
"Kak, sepertinya Luna memang sedang tidak enak badan deh, atau dia ngantuk ya?" aku berpendapat pada kak Jefrina yang menyantap makanannya. Kak Zul menyodorkan sendok yang penuh dengan makanan ke mulut ku. "Dila, ayo coba ini, nanti keburu dingin, biar saya yang suapi kamu." Aku membuka mulut, sambil menenangkan Luna dalam gendongan ku. Kak Zul sudah selesai dengan makanannya, dia berdiri meminta Luna dari gendongan ku. "Luna, sayang sama uncel sekarang ya, biar aunty Dila bisa makan, sini Dil biar saya yang tiduri dia." Aku menyerahkan Luna pada kak Zul. Tak lama Luna tertidur dengan pulasnya kak Zul memeluknya, mungkin kenyamanan yang Luna rasakan sama seperti rasa nyaman yang dia berikan kepada ku di saat aku mulai kalut dalam batin ku sendiri.
Kak Jefrina terlihat seperti orang bingung sejak kami pulang dari restoran tadi, "Kak Jefrin, ada apa kakak terlihat begitu bingung sejak tadi." Aku menggenggam jemarinya, kemudian dia meneteskan air mata, "Sudah cukup kak, jangan lagi bersedih, kami ada disini, menjadi tempat kakak melampiaskan sedih dan kecewa." Kak Jefrina memeluk ku dia menumpahkan semua rasa sesak di dadanya. "Adila, aku tidak sanggup melihat Deluna yang sangat membutuhkan sosok ayah, aku juga tak sanggup melihat keluarga ku hancur, Gefin setega itu pada ku, aku masih percaya padanya saat itu, kesalahan yang kami buat di masa itu seharusnya tidak separah ini terjadi pada Deluna, aku mengaku aku bersalah Deluna lahir tanpa sosok ayah, dan aku juga menyesal karena tidak patuh pada perkataan adik ku sendiri, Adila apa yang harus aku lakukan untuk Luna?" Aku mengelus pundaknya, "Yang bisa kakak lakukan adalah solat meminta ampunan, serta berserah kepada Allah, kak Jefrin, Adila tau rasanya jadi kakak, meski saat itu Adila hanya dekat dengan seorang pria, kak, berikanlah kasih sayang serta perhatian kakak hanya untuk Luna seorang, Luna akan merasa paling beruntung karena memiliki ibu yang kuat dan berhati baik seperti kakak."
__ADS_1
Itulah tugas ku sebagai seorang wanita yang telah dinikahi, menjaga kehormatan keluarga, keharmonisan dan memberi kehangatan. Menikah bukanlah hubungan anatara Suami dan Istri, menikah bukan tentang dua orang yang bersatu namun dua keluarga yang menyatu.
"Kak Zul, sudah tidur ya?" Aku bertanya dengan seorang pria yang sudah masuk ke alam mimpinya. Mungkin dia lelah, aku mengelus rambutnya mendaratkan ciuman disana. "Percayakan semuanya pada ku, aku akan membantu mu dan mendampingi mu dalam setiap masalah keluarga mu, aku yang akan menguatkan mu dan menghangatkan kembali keluarga ini, aku akan melakukan semuanya agar kamu tidak kecewa karena telah memiliki ku." Aku tertidur di sebelahnya sambil mengenggam tangannya.
__ADS_1