Tempat Terakhir

Tempat Terakhir
Panik


__ADS_3

Adila menghembuskan nafas karena lelah berjalan menuju mobil yang terparkir di basment. "Huhh... bee, aku sesak banget nih."


"Siapa suruh kamu jalan cepat sekali, kamu gak suka dengan Maharani atau cemburu?" Adila memutar bola matanya, seakan muak dengan ucapan kata cemburu yang terlontar dari mulut sang suami.


Didalam mobil sebenarnya ada Utari dan Fano yang juga ingin tau perkembangan Bayi di perut Adila.


"Huh, pleas ya bee, untuk apa aku cemburu dengan seorang wanita yang jelas jelas sudah menyakiti abang ku."


ucap Adila.


"Dila, tolong jangan bahas lagi, abang sudah melupakannya." sanggah Fano yang juga sedang menenangkan Utari.


"Kamu gak cemburu sama Maharani, tapi waktu itu kamu cemburu saat abang bilang saat perjalanan bisnis saya mengajak Utari."


Sanggah Zulfikar yang terus memancing di air keruh.


"Kalau itu beda bee, kak Utari itu perempuan yang lembut, sopan, baik, pintar tubuhnya juga proposional, jelas aku cemburu, sementara Maharani? Perempuan yang emosional dan tak tahu malu, bagaimana bisa seorang wanita menggandeng pria milik wanita lain?" Entah apa yang Adila pikirkan ucapannya begitu tajam dan menyayat telinga.

__ADS_1


"Uhhh udah Nyonya Adila, jangan di perpanjang, kita sudah tiba di rumah sakit, saat nya fokus pada pemeriksaan." Utari mengingatkan Adila yang terus berpendapat tentang Maharani.


"Bang, sebaiknya cepat halalkan kak Utari sebelum nenek sihir itu menarik ulur hati mu lagi." Fano diam mendengar ucapan adiknya yang entah kenapa sekarang menjadi cerewet.


Mereka turun dari mobil, Zulfikar masih setia mengandeng sang istri.


Dokter pun datang memasuki ruang yang telah di persiapkan untuk Adila, Adila senang sekali melihat sang baby sehat dan mengemaskan, yang mereka syukuri lagi anak mereka berjenis kelamin laki-laki.


"Alhamdulillah ya Bee, baby sehat di dalam sana, pipinya gembil sekali, chuby seperti Luna bee."


"Iya nanti kalau dia sudah lahir pipinya akan seperti bakpao." Adila mencubit pelan pipi Zulfikar.


"Astagfirullah... Darah, baby semoga kamu baik-baik saja ya..."


Dengan panik Adila keluar kamar berteriak memanggil suaminya yang sedang berada di ruang kerjanya.


"Bee, bee..." Zulfikar yang mendengar panggilan Adila segera datang ke sumber suara.

__ADS_1


"Kenapa Honey?"


"bee, ini kok aku keluar darah ya bee, ke dokter sekarang ya bee, aku kahawatir." Ucap Dila dengan tergesa.


"iya, iya, kita ke rumah sakit sekarang."


Mereka menuju ke rumah sakit secepatnya, Zulfikar menelfon dokter Ema, dokter yang menangani kasus Adila saat ini.


"Tuan Zulfikar, mohon maaf, sejak kapan ini terjadi?" tanya Dokter sambil melihat kondisi Adila yang ketakutan.


"Baru saja dok, sekitar satu jam yang lalu, apakah ini berbahaya dok, ini belum waktunya untuk melahirkan kan dok?"


"Belum, ada tanda tanda pembukaan tuan, nyonya Adila untuk malam ini menginap di sini dulu ya, supaya jika terjadi sesuatu nanti kami bisa segera tangani." Adila mengangguk menuruti perintah dokter.


Kini Adila telah di pindah ke ruang rawatnya, ruangan yang memang di pesan khusus untuknya saat menjalani proses melahirkan nanti.


"Honey, kamu jangan cemas ya, bayi kita akan baik- baik saja, jangan khawatir." Ucap Zulfikar pada Adila.

__ADS_1


Adila kini hanya bisa berharap bayi dalam kandungannya bisa bertahan sampai usia yang diharapkan dokter, karena kehamilannya kini baru menginjak usia33 minggu.


__ADS_2