
Sedari tadi hujan tidak berhenti turun, rumah terasa hening. Para asistan rumah tangga di pulangkan ke rumah masing-masing sementara Rasya sedang memulai KKN nya diluar kota, kondisi rumah sangat amat sepi ditambah hujan yang mengguyur kota sejak tadi siang, khawatir ku bertambah karena suami ku belum juga tiba dirumah ini sudah selesai waktu maghrib. Aku khawatir padanya, sebab ia ke kekantor tidak mengunakan mobilnya dengan alasan macet dan tidak efektif dengan keadaan jalan seperti sekarang.
Suara motor terdengar dari dalam rumah, aku melihatnya kebasahan akibat hujan, meski jas hujan melekat ditubuhnya, dia pasti sangat kedinginan. "Kak, sini biar aku bantu, ini handuknya, keringkan dulu badan mu." Aku memberinya handuk dan menyuruhnya melepas jas hujan, membantunya membawa tas.
Dia segera masuk kekamar menuju kamar mandi, aku menyiapkan bajunya dan keluar dari kamar. Aku membuatkan dia susu hangat dan juga beberapa makanan sampai hidangan makan malam siap. Sekarang dia ada diruang keluarga, "Kak Zul, ini supaya kamu sedikit hangat, Adila sedang masak makan malam, kakak tunggu sebentar ya." Zulfikar hanya menatap dan tersenyum manja pada Adila. Adila kembali kedapur meneruskan proses memasaknya.
"Dil, kepala saya sakit sekali kamu tau obat apa yang cocok buat saya gak?" tanya Zulfikar yang sedang membuka kotak P3K yang terletak di dekat ruang makan. Adila meletakan piring dimeja makan dan segera berbalik menghampiri suaminya yang terhuyun memegangi kepala.
__ADS_1
Adila menyentuh kening suaminya, "Kak, ini kamu demam, sudah diam saja di sofa biar Adila ambilkan makan, habis itu minum obat ya, kalau enggak ini bisa sampai besok." Adila yang mulai cemas dengan kesehatan suaminya itu, menuntun sampai ke sofa ruang keluarga. "Dingin Dil, badan saya kok jadi sakit semua begini ya apa dampak kehujanan separah ini?" Adila menghembuskan nafas gusar, "Iya, bisa saja, kak Zul sih gak pernah dengar kata Dila, Adila bilangkan bawa mobil aja tadi pagi." Adila pergi meniggalkan Zulfikar yang tergeletak di sofa. Adila menyiapkan nasi berserta lauk pauknya, sambil membawa obat dan minum dengan tray. "Ayo bangun dulu, makan, minum obat dan segera istirahat, jangan begadang lagi ya nanti malam." Sambil menyuapi sang suami, yang sedang uring uringan, Adila terus menasehati. "Kak Zul ini sepertinya juga kelelahan, ditambah kehujanan, jadi seperti ini deh. Biar Dila telfon abang ya, supaya besok kak Zul dirumah saja, kakak butuh banyak istirahat tau." Adila mengambil ponsel yang diletakannya di meja ruangan itu.
Dia menghubungi abang tercintanya, bertujuan untuk menghendel semua pekerjaan suaminya itu selama dia sakit.
"Assalamualaikum Bang." seketika telfon tersambung. "Waalaikum salam Dil, ada apa?" Fano menjawab dari sebrang. "Begini bang, kak Zul tadi kehujanan, sekarang dia demam, mungkin kak Zul butuh beberapa hari untuk istirahat, Abang bisa bantu gantikan dia untuk beberapa hari kan?" "Iya Dil biar abang yang gantikan ya, tolong Fikar ya Dil, kalau dia demam bisa jadi karena cuaca sangat dingin, tugas mu ya menghangatkan suami Dil." Gurau Fano, tidak ditanggapi tapi rona merah di pipi Dila mulai muncul.
"Dil, aku gak kuat ini dingin banget." Zulfikar mulai terlihat pucat bibirnya juga membiru.
__ADS_1
"Terus mau diapain Dila cuma bisa kasih obat dan kompres, selimut juga sudah tiga lapis."
Zulfikar menyerah dengan jawaban Dila.
"Kak kita ke dokter aja ya?" tawar Adila, pada suaminya yang nyaris terlelap. "Ini sudah malam Dil, kamu mau bawa saya ke dokter pakai apa ini hujan, saat ini supir juga gak ada, taksi online? jangan harap bakal ada, sudah kamu tidur saja, saya malah kawatir kalau kamu juga ikutan sakit kaya saya nanti, ini sudah mulai bisa untuk tidur kok Dil, udah kamu tidur, jangan kawatirin saya." Adila menunduk mencium tangan suaminya yang mulai memejamkan mata, karena pengaruh obat yang dia minum sudah lebih dari dosisnya. "Bisa-bisanya dia kawatirin aku padahal dia sendiri masih dalam keadaan yang menghawatirkan." Adila mendengus kesal pada suaminya.
Dila juga ikut tertidur sambil mencium tangan sang suami yang sudah tertidur sejak tadi. Namun di pertengahan malam Zulfikar terbangun, karena haus dia melihat Adila yang duduk namun begitu pulas dengan mencium tangan Zulfikar. Zulfikar hanya bisa tersenyum, dia menguatkan diri untuk memindahkan sang istri supaya tidur diranjang. "Adila, terimakasih sudah kawatir, tapi saya lebih khawatir sama kamu, kalau kamu yang sakit saya lebih menderita Dila, kamu hanya satu untuk saya Dil, for whatever happens I will always love you no matter what your deficiencies are, I will stay by your side." Zulfikar mencium kening Adila dengan penuh rasa sayang dan kelembutan, dia kembali ke sisi kiri ranjang dan kembali tertidur.
__ADS_1